Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Beri Aku Cahaya

0

Sinarmu hilang di kehidupanku
Duniaku gelap tanpa setitik cahaya
Berjalan merayap menyeret langkah
Entah kemana entah ada dimana

Tuhanku, yang Maha Menguasai Cahaya
Pendarkanlah sedikit sinar-Mu untukku
Untuk duniaku dan kedalaman hatiku
Agar benderang dan ku tahu langkahku


Salemba Tengah, 29 Desember 2006

Malam, dan Aku Semakin Renta

Detik-detik berlalu dengan menggebu
Berganti menjadi jutan malam
Ribuan kali bulan sabit berubah
Menjadi purnama dan menjadi sabit kembali

Bintang-bintang angkasa menua
Dan jatuh berceceran di beberapa sudut bumi yang lain, padam.
Angin mati, tapi waktu tetap berlari
Pengap semakin menjadi
Dan aku semakin renta, rapuh.

Detik-detik bermaraton sendirian
Tanpa ada tujuan akhir
Memang seperti inikah hidup
Tak tahu kapan memulai dan kapan harus berhenti?
Aku lelah, ingin istirahat
Tidur nyenyak dan panjang..


Duren Sawit,
10 Desember 2006

Lukisan Bayangan

Kulukis malam dengan arang
Lalu ku arsir setiap lekukan gelapnya
Juga dengan arang
Kuteliti setiap sudut malam
Setelah itu
Ku telusuri setiap sudut lukisanku.

Ohh, aku lupa!
Ku bingkai lukisan malamku dengan lis hitam ukiran rembulan
Agar menawan yang pastinya
Jadi! Lukisanku telah selesai!

sempurna, dan aku lega..
Lalu aku taruh lukisanku di dalam gudang yang selalu ku kunci rapat
Tanpa cahaya
Dan tanpa udara
Bersama lukisan-lukisan malam
Yang kemarin…


Duren Sawit
03 Desember 2006 - 23:57

Nyanyian Hujan (Rindu)

0


Nyanyian hujan mendayu-dayu
Meratap mengemisi kehangatan
Yang hilang berganti gigil
Beku dalam dingin, dalam dingin.

Rintikan air jatuh dengan lambat
Memilih sendiri atau bergabung
dengan rintik yang lain di sebelahnya
Sebelum akhirnya terdampar bersama malam

Hujan bernyanyi tentang kerinduan
Tentang hangat yang telah padam
Hujan menangis dan terus bernyanyi
Sunyi dalam gelap, dalam malam

Dimana hangat, hujan bertanya dengan sunyi
Tik..tik.. hanya terdengar tetesan
Air hujan membentur aspal hitam
Selebihnya tak ada jawaban

Tapi hujan terus bernyanyi
Dan terus menangis…








Salemba Tengah, Awal Des 2006

Kangen

0

Dan, bintangpun menghilang
Semesta menghitam
Setelah sebelumnya purnama meredup dan lenyap
Di ikuti lampu-lampu malam di bumi

Malam disepuh hitam
Mataku terpejam dalam-dalam
Hati kututup rapat
Otakku tetap saja melayang

Lagi-lagi kamu datang dalam lamunan
Huh,


Salemba Tengah
01 Desember 2006

Khayalan Biru

0

Biru,
Seperti langit siang
Membawa kecerahan
Walau kadang memberi kegerahan
Hatimupun biru,
Seperti langit siang
Selalu membuatku ceria
Walau kadang mendapat sedih

Kadang cerah kadang gerah
Kadang ceria kadang sedih

Tapi tetap saja aku mencinta
Walau mencinta khayalan
Toh, masa bodoh dengan kenyataan
Yang membuatku menderita

Aku menyayangi khayalanku
Khayalan mencintaiku
Aku dan khayalanku saling mengasihi
Satu hal: Aku Tidak Gila!!


Salemba Tengah
18 September 2006

Tawa Dalam Kesendirian

0

Haha…
Lagi, masa lalu datang dengan membawa kejutan-kejutan
Yang walaupun sudah dapat di kira akan terjadi tetap saja menimbulkan perasaan mengenaskan
Dan aku hanya bisa menghela nafas. Panjang. Huuhhh…
Ternyata kesendirian ini masih terus membuntutiku, dari dulu hingga saat ini.
Tidak pernah bosan.

Haha…
Awalnya aku berfikir bahwa kesendirian telah lelah bergelayutan dipundakku
Hingga akhirnya dia memilih melepas dan menjauh dariku, karena berbondong-bondong keramaian dan keceriaan menghampiriku, bermain-main lalu menetap bersama hari-hariku.
Tapi tidak, ternyata kehadiran merekapun hanya sementara. Tidak lebih hanya sekedar penghibur.
Dan kini kesendirian datang kembali menyergapku dari belakang lalu memasuki jiwaku.

Haha…
Apakah ada yang lebih mengenaskan di kehidupan ini selain kita yang bersahabat dengan kesendirian??!
Yang berdiri ditengah keramaian tetapi terasa sendiri, terasa kosong, terasa sunyi, seperti berada di kota mati?
Ada di sekeliling orang-orang tercinta tetapi tidak merasakan kehangatan dan juga kebersamaan?

Haha…
Kesendirian menghampiriku lagi
Aku tidak mampu berbuat apa-apa…


Jakarta Timur
22 Oktober 06

ADAKAH CINTA UNTUKKU?

0

malam ini, bulan penuh bersinar dengan seri
Aku menatap beku dalam dingin
menerka senyuman dengan kekosongan
haruskah ada teka-teki dalam tanya yang tak terjawab?

Memang tak terlihat angin menderu
Tak tersentuh sinar benderang
Tapi, masih ada alpa untuk satu cinta
Yang tetap harus Aku sibak sampai renta

Dan tak akan berhenti bertanya
Padamu, adakah cinta untukku?


2005

Sekedar Sajak

0

Sajak untukmu masih tersimpan di dalam fikiranku
Dan aku masih belum berani menggoreskannya
di secarik kertas ini
Karena sajak untukmu sungguh berat untuk aku uraikan
Pernah aku mencoba memberanikan diri untuk memulai,
Tetapi tangan ini langsung bergetar
seakan-akan memberi peringatan kepadaku
agar tidak melakukannya
Menulis sajak untukmu ternyata bukan saja membutuhkan keberanian
tetapi juga membutuhkan kekuatan mental yang sangat tinggi
Karena sajak untukmu bisa membuatku gemetar bergeretak
Juga dibutuhkan ketegaran hati yang dalam
karena sajak untukmu
dapat mencucurkan airmata ini lalu menjadi kering
dalam seketika
Serta sajak untukmu memerkukan hati yang sangat bersih
Yang tidak dikotori dengan noda-noda kemunafikan, keangkuhan, pengkhianatan, hawa nafsu, kebiadaban
dan luka…
Sajak untukmu harus dilandasi dengan jiwa yang suci,
kejernihan fikiran, kesabaran, keperdulian, kejujuran,
dan juga dengan senyuman
Karena sajak untukmu sajak tentang rasa sayangku kepadamu

Sajakku sajak tentang cintaku kepadamu…


Akhir April 2005

Aku Tidak Mengerti,

0

Pada suatu pagi
Pada saat matahari meneteskan kemilaunya
Di suatu tempat
Dimana rumput-rumput mengahampar hijau
Mutiara-mutiara embun masih tersisa
Di setiap celah di setiap ujung tubuh langsingnya

Aku duduk di bangku taman memandang angin yang berhembus
Menampar tubuhku memasuki kalbuku dan Aku membatu
Melamun tentang bahagia dan cinta
Seperti sepasang merpati putih yang memadu kasih
di bawah lampu taman
Bercanda suka ria berpelukan ciuman
Berkejar-kejaran lalu terbang rendah di antara bunga-bunga
Dan terbang tinggi menuju pohon angsana
Menelusup dan mengumpat di antara ranting
Apakah burung memiliki cinta layaknya manusia?
Aku tidak mengerti,

Ada daun-daun kering kerontang berserakan
Melayang pergi entah kemana, di hembus angin
Mengingatkanku akan hati seorang wanita
Yang hinggap untuk sesaat lalu menghilang dalam kegelapan
Apakah wanita di ciptakan dari kegelapan?
Aku tidak mengerti,


Maret 2005

Aku Tak Tahu,

0

Aku tahu Aku akan mati dalam waktu dekat
Pahala masih jauh tercapai dan dosa semakin membukit
Sementara Aku masih menopang kaku dan berleha-leha
Memuliakan dunia menepikkan Akhirat

Aku akan mati dalam waktu dekat
Wangi Neraka terasa menyengat jiwa
Taman Syurga menjauh dari pandangan mata
Aku belum tahu mau kemana…


Maret 2005

MATAHARI TIDAK PERNAH MERATAP

0

Matahari benderang
Awan tersingkirkan angin
Angin… angin… angin…
Menghempas keteduhan

Terik membuat dahaga
Mengeringkan kerongkongan
Menjadikan penderitaan
Meratap… meratap… meratap…

Wajah-wajah sendu di hembus angin
Muka muka nestapa di biarkan meratap

Panas serta mendampingi
Menyebar aroma menyiksa
Membelai alam dengan sayang
Memeluk buaian asmara

Matahari gentar meratap
Awan di hembus angin dengan mantap
Membiarkan cerita berlalu
Tanpa kebahagiaan di akhir episode


Akhir Januari 2005

Kekasihku, Aku...

0

“Aku kedinginan kekasihku
hangatkanlah Aku dengan auramu
biarkan Aku mendekam di antara buah dadamu
agar dapat mencari kebekuanku

jangan lepaskan Aku, kekasihku
peluk Aku hingga ku terlelap dalam mimpiku
belai Aku, kekasihku
berikan semua gelora yang kau punya untukku
Aku butuh kamu, kekasihku...”

“genggam jemariku, kekasihku
belai rambutku, kekasihku
kecuplah bibirku, kekasihku
bisikkan Aku kata cinta, kekasihku
jaga Aku dengan segala kasih sayangmu
lingdungi Aku dari dinginnya kehidupanku, kekasihku

jangan.. jangan biarkan Aku sendirian, kekasihku
tetaplah disampingku kekasihku, hanya untukku
kekasihku, Aku...”


At Night, 18 Januari 2005

Sajak Buat Pelacurku

0

Malam ini Aku teringat kamu
Entah mengapa setiap Aku mengingat kamu
Hanya satu tertuju: ranjang!
Dan segala aktifitasnya
Tak terhitung berapa malam kita geluti
Kita menggeluti malam dengan saling bergelut
Saling menyerang saling telanjang
Dengan betinamu Aku terpuaskan
Kau lemaskan Aku dengan hasrat kelabumu

Entah cinta atau nafsu
Yang saat itu tercipta di atas birahi
Karena yang ku rasakan hanya kenikmatan
Dan yang ku dengar malam itu bukan bisikan cinta
Tetapi erangan…

Kamu buru nafasku dengan nafasmu
Tak kamu biarkan waktu menghitam
Kamu memang wanita luar biasa
Yang membuat Aku tak berdaya
Di setiap ranjang yang beda
Serta kamar yang berbeda
Dan tidak pernah lupa,
kamu keluarkan gaya yang berbeda beda
Dengan tujuan yang selalu sama:
Mencapai puncak orgasme bersama
Kamu berikan kamu serahkan
Seluruh tubuhmu untuk ku cumbui
Tanpa kekecewaan dan tanpa penyesalan
Kita merajut dosa…

Hai pelacurku…
Kau habiskan malam-malamku
Hanya untuk birahimu
Kau tuntun Aku ke syurgamu
Bercengkrama dengan ludah
Kau suguhi Aku susu murni kaya rasa
Dan kamu mengajari Aku bercinta
Dan menciptakan noda di selimutmu


Lima belas januari dua ribu lima
Nol nol dua puluh tujuh
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net