Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Detak | Sajak: Seno Gumira Ajidarma

0

pagi berdetak mengejar malamnya
arloji berdetak mengejar waktunya
pohin berdetak mengejar buahnya
sungai berdetak mengejar lautnya
siapa berdetak mengejar matinya

Yogya 1976

Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Buka    : Mati mati mati

Musafir Kelana | Sajak: Kuntjoro, ST

0

Pelabuhan ini kelak kan kutinggalkan. Sudah terlalu lama berdiam disini.
Pelabuhan yang dahulu gersang itu Kini telah subur, rimbun menghijau

ini sejarah berawal mula...
aku berlabuh di Pelabuhan ini secara aneh
ya...sangat aneh...
Karena Bukan aku yang menuju padanya
akan tetapi ...
justru ialah yang menepi ke perahuku
kuambil saja hikmahnya bahwa
rupanya ia telah tertulis di lauhul mahfuz...*
dibawa takdir... untuk kami saling bertemu

pelabuhan ini begitu tajam tatapan matanya
bercahaya...
berbinar binar...
dan...
jenaka...
kupandang sejenak saja
sangat sejenak
aku melihat potensi hebat ada padanya

bara apinya hanya butuh pemantik agar berkobar
dan perlu arahan agar kobarannya bermanfaat
maka tanpa berpikir panjang
Akhirnya Perahupun kutambatkan,
kuabdikan diri untuk membangun ulang kembali dirinya

Kuperiksa sekeliling
kiranya apa-apa yang perlu dibereskan dan diperbaiki
ternyata memang benar
Pelabuhan ini begitu mengagumkan
tapi sayang ia tidak terawat, ia rapuh
pondasi-pondasinya begitu dangkal dan rentan
hingga mudah patah bila terinjak bahkan oleh hewan pengeratpun

semakin kukaji dan kupelajari
Kegersangan pelabuhan inipun begitu terasa
Hawa panas dari dalam dadanya
Rasa amarah yang membuncah
kepada siapa? karena apa?
(kelak akupun tau dan memahami)
iapun Rindu akan kasih sayang dan butuh uluran tangan...
dan tanpa ragu tangankupun terulur menggenggam tangannya

Rencana kususun
Titik-titik Pondasi Pada kedalaman tertentu
kutancapkan dengan kokoh
agar tak goyang diterpa angin
agar tak roboh diterjang badai
landasan jiwanya kubongkar dan kususun ulang
bingkai pikiran dan wawasanpun tak luput kupasang

kemudian aneka pepohonan kutanam:
pohon kayu, pohon buah, pohon bunga dan rerumputan. semuanya dilakukan:
agar kokoh kakinya
agar kuat tangannya
agar teguh hatinya
agar bening jiwanya
agar luas cakrawalanya
agar tinggi pandangannya
agar sejuk hawa di dadanya
agar reda amarah di hatinya

dalam perjalanan pembangunannya
terkadang ombak menerjang
badai menghalang...
tapi tak kami hiraukan itu semua
karena janjiku dan janjinyalah
karena saling percaya kamilah
karena komitmen kamilah
maka pembangunan ini harus terus berjalan
dengan kesabaran, ketekunan dan ketabahan

tahap demi tahap hasilnya mulai terlihat
pondasinya kini telah kokoh
landasan jiwanya telah licin mulus
wawasannya telah meluas
pisau pikirannya semakin tajam
tempat berteduhpun telah menjulang
sejuk pepohonan rindang
diseling buah ranum nan segar
kembang setaman beraneka rupa
selang seling menyejukkan hati
tak lupa rumput halus nan tebal memanjakan kaki
kini kurasa pengabdian telah usai

semua janjiku telah kulunasi
janji-janjinya?
ya... janji-janjinya pasti kan ditunaikan pula
aku percaya itu
karena dia bukan pendusta
karena dia tidak khianat

saatnya pun tiba...
perjalanan ini harus dilanjutkan
kembali arungi lautan luas
dibawah hantaman terik mentari
ditemani burung camar dan penghuni lautan
dinaungi gelapnya malam
berkawan cahaya bulan dan taburan bebintang
melawan gelombang kecil dan besar
hadapi angin sepoi dan badai
kusiapkan perahuku yang semakin tua dan rapuh
pun dayung dan layarnya begitu juga
semakin lapuk dan koyak

berkemas dan bersegeralah aku
namun kiranya..
bekal apa yang ingin kubawa dari pelabuhan ini?
hanya bekal terbaik yang kan kubawa
ianya adalah:
canda dan tawanya
contoh dan kerjanya
keuletan dan kesabarannya
kerjasama dan kesetiaannya
ketulusan dan janji-janjinya
kepercayaan dan komitmennya
kelembutan dan kekerasannya

suatu saat...
kelak aku kan kembali
berkunjung menyapa
mengenang masa-masa indah
masa-masa penuh suka dan duka
karena di pelabuhan inilah
kutemukan siapa sebenarnya yang berhak digurui
siapa yang berhak diteladani
ternyata engkaulah yang berhak menyandang itu

dayung telah kusiapkan
layar belum lagi berkembang
tali siap kulepaskan
sejenak kupandang kembali pelabuhan itu
berat hati meninggalkanmu
sebab horcruxku** tersimpan disini
dan horcruxmu ada padaku
namun
perjalanan mencari diri harus dilanjutkan
karena kuyakin dalam gelapnya malam
pasti ada setitik cahaya

renungan dan pelajaran yang kudapat di tempat ini adalah
sebenarnya...
kita adalah pelabuhan-pelabuhan

hakikatnya...
kita adalah perahu-perahu di tengah lautan

dan kita hanyalah seorang musafir
yang mesti berbenah diri
menambal sejarah hidup yang koyak

sebab aku adalah musafir kelana
sebab kita adalah musafir kelana
maka hidup harus dilanjutkan
mencari cahaya terang
dan mencari ampunan

RSI Room 2106 An-Nur 2
12 Februari 2018

Penulis  : Kuntjoro, ST



*Lauh Mahfuzh (Arab:لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta. Lauh Mahfuzh disebut di dalam Al-Qur'an sebanyak 13 kali. (Wikipedia-red)
**Horcrux adalah "suatu wadah di mana seorang Penyihir Hitam menyembunyikan bagian dari jiwanya untuk tujuan mencapai keabadian". Dengan sebagian jiwa yang disimpan, seorang penyihir memiliki hidup yang sangat panjang selama selama horcrux itu tetap utuh, biasanya disimpan di tempat yang aman. (Wikipedia-red)

Mimpi-mu & Bahagia-ku

3

Bunda,
Perjalanan ini sangat melelahkan,
tapi aku selalu teringat pesan-mu bahwa semuanya akan baik-baik saja,
selama apa yang kita inginkan adalah benar --bukan sesuatu yang mustahil.

Bunda,
Sampai detik ini aku masih bertahan, dan berusaha mampu untuk bertahan
menelusuri jejak langkah yang telah ditapaki orang terdahulu
"aral adalah bunga kehidupan, bersahabatlah dengannya
--maka ia tak akan menjadi bahaya bagimu"
itu katamu disela dekapanmu saatku melemah --akan hidup.

Bunda,
Mimpi-mu akan aku masih jauh dari pencapaian
tapi senyuman yang selalu aku dapat,
saat Kau bertanya, "Bagaimana kau kini, anakku?"
Ahh, senyum itu selalu wangi --walau guratan tua diwajah-mu makin menjadi.

Bunda,
Waktu berlari sungguh cepat, semakin ku kejar semakin cepat waktu berlari
tapi tetap akan ku-kejar
walau harus berlari sejauh mungkin,
dan akan aku kejar walau sampai renta.

Bunda,
Mimpi-mu akan aku hanya satu,
Melihat aku Bahagia
dan mimpi-ku juga hanya satu,
Melihat Kau Bahagia...

Bunda,
Tiga pulau sudah aku tapaki
untuk mengejar cita-cita dan menggapai mimpi-mu dan mimpi-ku
Kini aku sedang mempersiapkan menuju pulau ke-empat dan ke-lima
Lagi, restui dan do'akan aku bunda
agar tercapai apa yang telah menjadi keinginan kita bersama.

Bunda,
Aku pamit...


Jum'at Pagi 20102009

Senandung Pengkhianatan

4

kita sama-sama tau,
bahwa kemunafikan kita adalah sama
semua kesenangan kita adalah semu
walau beriringan dengan gelora yang membara

memang,
kita tidak pernah alpa akan siapa aku
siapa juga kamu
dimataku, dimatamu, dimata mereka
dan terutama dimata dia

selalu,
setelah berkelakar dengan liur
bercanda dengan peluh
dan aku terjaga dgn mata terpejam

setelahnya aku tersadar,
ternyata aku harus tahu diri
bahwa berkhayal berkhianat denganmu
adalah salah!

hhfff**

Sajak Cinta Untukmu

1

Kepada: HS

Aku tidak mampu berpuisi tentangmu
dan aku tidak akan mungkin mampu berpuisi tentangmu
Seandainya bisa, aku tetap tidak ingin melakukannya
karena dengan aku berpuisi tentangmu
maka aku telah lancang mengurangi keindahanmu
dengan kata-kataku yang berantakan ini

Karena sesungguhnya,
puisi tersyahdu itu adalah jiwamu
yang memancarkan cahaya ketenangan
dan aku menangkapnya dalam kedamaian

Puisi terindah itu adalah gerakmu
saat senyummu terkembang
dan lesungmu menjadi dalam

puisi yang kamu minta ada di dalam dirimu
karena puisi adalah dirimu sendiri

yang juga tidak bisa aku tuangkan ke dalam kata
karena keindahannya tidak bisa terwakilkan dengan kata

Puisiku,
ya, puisiku adalah puisi tentangmu,
tentang cintaku kepadamu
puisi tentang cinta,
cinta.

Kunang-kunang di Matamu

12

kepada: a.n

Dari mata itu, aku melihat dengan jelas bagaimana kunang-kunang itu keluar secara perlahan lalu terbang mengitari wajahmu dan terbang kembai menuju angkasa. Mulanya hanya satu, lalu dua, sepuluh, hingga ratusan atau mungkin ribuan kunang-kunang berkarnaval menuju angkasa dengan kerlap-kerlip serupa percikan kembang api.

Aku temukan tatapan mata yang kosong itu di wajahmu, setelah kamu mengakhiri cerita tentang masa yang telah jauh berlalu dari hidupmu. Mulanya kamu semangat sekali bercerita tentang satu masa, dimana cinta --ku ingat setiap kali kamu menyebut kata cinta, di matamu seperti mengeluarkan kilau cahaya-- membuatmu seperti manusia paling bahagia. Senyuman yang tidak pernah terputus sepanjang ceritamu tentang asmara yang menggelora di masa indahmu, dulu.

"Betapa sempurna hidupku, mendapat pasangan cinta yang sempurna seperti dia", katamu dengan senyuman yang sangat dalam sampai matamu terpejam.

Aku yang masih belum bisa mengerti tentang cinta dan segala kesempurnaanya yang dialami oleh kaum muda hanya bisa ikut tersenyum, walau terpaksa. Karena aku memang belum pernah bisa teryakinkan akan cinta yang sempurna oleh pasangan muda, lain halnya saat aku melihat tetanggaku, sepasang renta yang dimakan usia, bagaimana setianya sang istri mendorong kursi roda yang ditumpangi sang suami dari rumah hingga ke taman yang berjarak seratus meteran dari rumahnya itu setiap pagi hari. hmm, itu yang ku sebut cinta.

"cinta menyatukan kami dan bidadari kecil yang terlahir dari janinku itu buah dari cinta kami", katamu sambil memeluk bingkai yang berisi foto seorang balita yang sedang terlihat tertidur pulas.

Pikiranku langsung melambung ke pasangan renta, tetanggaku, saat sore ku melihat mereka di teras rumahnya dimana dengan sabarnya sang nenek membantu menyuapi suaminya makan bubur. Sang kakek yang terserang lumpuh sejak lama, hanya bisa menghabiskan waktunya di kursiroda. Akhh, ini yang lagi kusebut dengan cinta.

* * *

Aku masih mendengar dan memperhatikan dengan seksama semua ceritamu, begitupun sampai kamu yang tiba-tiba terdiam, dan bingkai di pelukanmu terjatuh. Kamu lanjutkan ceritamu tapi dengan suara yang sangat pelan, seperti berbisik.

"Cinta, cinta, cinta juga yang membuat semuanya berubah dengan cepat. Cinta dia yang ternyata lebih berpihak kepada wanita yang baru dikenalnya itu dan membuat kebahagiaan berubah menjadi kosong", lalu kamu diam dan beku.

...

Dan, kunang-kunang itu mulai keluar dari mata kosong itu...

cemburu

11

Aku cemburu,
Kalau kamu berbicara tentang lelaki
Yang bisa menemani kamu dan mengusir sepi
Memberi waktunya, melepas senyuman

Aku cemburu,
saat kamu bilang, “Tadi dia memberiku sepotong mawar dan bisikan kata sayang.”
Hingga membuat hatimu berbinar
Dan kamu menyeringai

Aku cemburu,
Bila kamu dengan gigihnya bercerita
Tentang kisah cinta dari masa lalumu dengannya
Sampai-sampai kamu sumringah

Aku cemburu,
Dengan kamu yang selalu saja
Menatap senja disamping lelaki itu
Yang kini telah menjadi suamimu

Dan Aku cemburu
huh…

pilihan

2

karena hidup adalah pilihan
maka dengan ini aku memilih
untuk tetap hidup
hidup bukan hanya sekedar bertahan hidup
tetapi hidup untuk membuat hidupku lebih hidup lagi
bukan untuk siapa-siapa
tapi hanya untukMu,
untukMu,
dan untukMu

semoga...

sungai dalam rupamu

5










Kupandangi aliran sungai yang tenang ini

seketika itu juga ku bayangi kamu, cinta
betapa teduh dan menenangkannya
saat mataku bertemu dengan matamu

Dan kutelusuri sungai ini sejauh langkahku
menapak sambil kukhayalkan tentangmu, cinta
tentang bagaimana indahnya tubuhmu
yang kutelusuri di setiap lekuknya

Sampai ku temui senja yang gemerlap
memuncratkan kilau gemilang
samar-samar kulihat kau datang
membawa senyum rindu dalam lamunan


Sungai Batanghari,
01 Maret 2008

Menuju Akhir

0

jemari itu sangat hangat
menggenggam,
menuntunku
menyusuri lorong-lorong putih
sedikit menyilaukan

aku tidak tahu mau diajak kemana
tapi aku tidak dapat menolaknya
sentuhan itu
halus dan lembut
aku terhanyut

saat kubertanya kemana
kau hanya menjawab,
"istirahatlah kanda, tinggalkan dunia"
setelah itu hanya ada ledakan cahaya
dan aku tidak ingat apa-apa


pasarjambi
02 Maret 2008

Lautan Semangat

0

tiba-tiba saja,
semua datang
menghampiri
berduyung-duyung

memberi canda
tawa tawa tawa

membawa bendera bahagia
balon-balon asmara
bersorak sorai
hore-hore

aku terpesona
tertawa tertawa tertawa


malakasari,
27 Februari 2008

Permintaan Puisi

0

"Buatkan aku puisi yang romantis",
katamu dengan tatapan mata berharap.
Tapi aku tak pandai berpuisi, juga aku tidak pandai merangkai kata-kata dan menyusunnya untuk menjadi karangan tentang cinta. Jadi, maafkan bila kata-kataku ini terasa garing dan terasa gombal.

Entah sudah berapa juta kata yang aku keluarkan di dalam tulisan-tulisanku tentangmu di lembaran-lembaran kertas yang lain yang sebagian masih tersimpan dan sebagian yang lain kini entah ada dimana.
Menulis tentangmu bagiku adalah seperti meneteskan sedikit demi sedikit air kebahagiaan yang aku terima saat aku mengkhayalkan tentang indah dirimu dan betapa kebahagiaan terasa sangat hangat terasa saat ada didekatmu, bersamamu.

Hanya karena aku mencintaimu,
maka aku membiarkan tangan lemah ini menjadi kuat dan bergerak mengikuti perintah hati dan fikiranku untuk menuliskan sesuatu tentang dirimu, segalanya tentang dirimu.
Hanya karena aku mencintamu,
maka aku serahkan segala aliran kata-kata ini menyusun sendiri tentang bagaimana indahnya sosok dirimu dimataku.

Dengan kata-kata yang sederhana ini, aku mewakilkan segalanya tentangmu;
Berpuisi tentangmu berarti berpuisi tentang bintang-bintang yang kerlipnya mempesona yang juga berarti aku berpuisi tentang purnama yang menyempurnakan syahdu malam dengan pancaran teduhnya. Karena dirimu serupa bintang juga serupa purnama yang menghiasi malam dengan keindahannya sendiri. Yang berarti juga indah dirimu yang menyempurnakan kebahagiaan hari-hariku.

Itulah dirimu dan betapa romantis itu ada di dalam wajahmu,
disaat menatapmu saat malam tiba.

Rindu: rindu

0

Kerinduanku malam ini
terkubur bersama waktu
yang tidak henti-hentinya
berputar.

Terbesit akan satu harapan
di esok pagi:
waktu dapat berpihak kepadaku
dan kerinduan ini dapat terbalaskan.


salam duka,
Thursday, 28 June, 2007 10:13 PM

Dimana Kau Tahu?

0

kau tahu,
malam memberi duka padaku
katanya aku tidak pantas
bercanda bersama bintang-bintang

kau tahu,
malam juga memberi luka padaku
katanya aku tidak pantas
bercinta dengan purnama

lalu,
kau tahu dimana bahagia itu?


Duren Sawit
tengah malam 24 Juli 2007

Arti Malam

0



selalu dengan malam
hitam menjadi kata
bintang-bintang menjadi bahasa
rintihan angin malam menjadi senandung kepedihan

ada kepedihan dalam kesunyian
ada kegalauan dalam kesendirian

sunyi dan sendiri
tak pernah lepas tak pernah pergi
jiwaku pekat oleh kekosongan
tanpa cahaya

malam menjamah aku dalam kelamnya
menyelimuti aku dengan dinginnya
ku cinta malam dengan segala adanya
ku cinta malam dengan segala adanya

karena hanya malam yang menerima aku apa adanya

dalam ketelanjangan
dalam kesendirian
dalam tawa
dalam tangis

malam memberikan aku senyuman
dan arti dari sebuah kesendirian


Jakarta Malam,
18 Mei 2007

Kumbang Malam

0

Malam bernyanyi riang
Tentang kumbang yang terbang ke bulan
Melepas rindu yang selalu menyengat
Mengantup sepi agar terjaga

Kumbang menghayati nyanyian malam
Sampai-sampai ikut terhanyut
Kumbang memandangi malam
Tak terasa airmata menetes

Malam terdiam nyanyiannya habis
Kumbang terpaku airmatanya juga habis
Ayam jantan berkokok
Mentari mulai bersinar

Pagi datang,
Dan kumbang lagi-lagi kehilangan malam!


Duren Sawit,
01 April 2007
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net