Showing posts with label Renjani. Show all posts
Showing posts with label Renjani. Show all posts

Akhir Sebuah Cerita

| Sunday, April 18, 2010 by adiindie | ˜ 0 komentar »

waktu terus berlalu
seiring langkahku yang coba tuk lewati hari demi hari


Enam tahun berlalu dengan sangat cepat dan tak terasa sudah terlalu banyak peristiwa terjadi dalam jangka waktu yang singkat. Perubahan demi perubahan pun berlarian dari waktu ke waktu. Bahagia, cinta, airmata dan darah pun telah mewarnai apa yang pernah terjadi tanpa ada sesuatu yang bisa menghalanginya. Tapi tidak ada alasan apapun untukku hentikan langkah kakiku ini, perjalanan masih amat sangat panjang. Walau nafas tersengal masih banyak persinggahan dari mimpi-mimpi ini yang belum tersinggahi. Dan lagi-lagi tak ada alasan apapun yang dapat menghalangi hidupku dalam menggapai semua persinggahan dari mimpi-mimpiku ini - kecuali Sang Pemilik Nyawa ini mengambilnya dari hidupku.

kadang ku tak mengerti semua yang terjadi
semua saling merindukan saling melupakan


Terkadang tetap masih terngiang pertanyaan yang belum pernah bisa terjawab sampai saat ini; mengapa satu cinta yang sangat hangat membara yang telah dibina berjuta-juta tahun bisa menjadi perang yang berdarah-darah hanya karena satu hari kesalahan? Apakah sebegitu dahsyatnya amarah karena kekecewaan itu, serupa lahar yang menggilas habis apa yang dilewatinya tanpa pandang bulu dan melupakan segala yang pernah ada. Begitu cepatnya rasa kerinduan itu berlalu dan begitu membaranya amarah itu hingga melupakan segalanya dan menyisakan luka yang terus menerus berceceran tanpa pernah berhenti. Begitupun juga denganmu, hai kekasihku.

tak kurasa lagi hangat peluk disini
tak ku dapat lagi belai kasih disini


Pada akhirnya engkau berlalu dari kehidupanku, bahkan bakal kehidupan yang telah kita sketsa dengan senyuman disaat kita bersama juga telah kamu lupakan. Kau nikmati hidupmu dengan terus mengikuti arus deras emosi yang mengalir entah kemana. Dan tak pernah mau menengok ke belakang lagi, bahwa aku masih ada di sini bersama cuil harapan akan kebahagiaan yang sering kita lebur bersama --dulu.

waktu terus berlalu membawa diriku
dalam suka dalam duka menangis dan tertawa


Tapi kini semua telah berlalu, seiring berlalunya waktu meninggalkan masa kemarin. Tak akan ada  lagi impian setelah ini yang dulu sering kita khayalkan bersama sambil menatap bintang-bintang. Tak akan ada lagi canda dan tawa yang riang dan gelora asmara beradu peluh.

tak ku dengar lagi suara tawa disini
tak ku lihat lagi senyum kecil disini
ku tertawa dan menari raing gembira
ku tertawa dan bernyanyi . . .


Pastinya, harus ku kubur dalam-dalam semua yang telah terecap. Cinta, kerinduan, kebahagiaan, senyuman, kecupan, pelukan, perhatian, candan tawa, cemburu, duka, perdebatan, sakit hati, emosi, dusta, dan segala perasaan yang pernah berkecamuk saat kita ada berdampingan menapaki hari-hari ceria dan hari-hari kelam. Yang berlalu biarlah berlalu dan mencoba menutup harapan akan kembalinya perasaan yang dulu kembali terulang agar tidak kembali terulang apa yang telah menjadi akhir percintaan kita..

apa yang kini kurasakan
tak ada tak ada lagi yang pergi datang kembali
yang hilang akan tetap hilang


Aku berusaha menghargai keadaan, walau tetap saja ada di salah satu sudut hatiku yang menentang kejadian dimana aku akan merasakan sesuatu yang menggangu di hati ini. Sesuatu yang berdesir, terkadang perih, terkadang sangat tersiksa. Tapi satu episode cinta telah berlalu dan menyisakan luka, sedangkan aku tidak dapat berbuat apa-apa..

tak ku dengar lagi tak ku lihat lagi
tak ku rasa lagi tak ku dapat lagi


** Bagian yang Hilang - Funky Kopral


 

Tangisan Cinta

| Monday, March 31, 2008 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Selalu saja ada hal yang menyesakkan untuk kita nikmati sendiri, setelah kita mengetahui orang yang menyayangi kita berkata “Aku Sayang Kamu” dengan airmata membasahi pipinya di iringi sedikit isak yang tertahan.
Sebegitu kuatnya kah ketulusan seorang wanita dalam mencintai seorang lelaki?
Seakan di setiap tetesan airmata yang menetes secara perlahan itu, menandakan kedalaman dan ketulusannya dalam berkasih sayang.
Sungguh luar biasa!

Adalah kebodohan lelaki, yang menganggap ketabahan seorang wanita menjalani kisah-kasih cintanya sebagai sesuatu yang tidak pantas untuk dicerna sebagai ketegaran. Karena cinta seorang wanita datang bukannya tanpa perencanaan dan menghilang tanpa kesadaran.

Datang dengan senyuman dan berkembang menjadi jalinan-jalinan asmara di dalam hatinya, lalu terekam untuk waktu yang sangat lama. Berkembang dengan semangat dan kepastian-kepastian yang nyata akan mendapatkan imbalan kebahagiaan.

Tapi apa yang kini lebih sering di hadiahkan oleh seorang lelaki kepada seorang wanita?
Mereka mengajarinya dengan airmata bukan dengan canda dan tawa.
Mereka menjaganya bukan dengan selimut kasih tetapi dengan belaian hitam akan dendam.
Sungguh tidak adil.

Layakkah cinta bersanding dengan kekejaman?
Pantaskah seorang lelaki menghunuskan pedang kebenciannya di hadapan wanita yang mencintainya --dengan tulus?
Bolehkah kelembutan di hadapi dengan kekerasan?
Kesucian yang membaur dengan pekatnya kekotoran hati, yang tidak akan pernah menjadi sempurna keberadaannya.
Suci adalah bersih sedangkan hati yang kotor adalah biadab.
Sampai kapanpun tidak akan pernah bisa!

Begitu congkaknya seorang lelaki hingga merasa dirinya perkasa dan dapat dengan leluasa menguasai diri seorang wanita. Sungguh tidak bernuraninya seorang lelaki yang menindas dan memperkosa hak-hak wanita pencinta.
Sampai kapan seorang lelaki bisa tersadarkan bahwa seorang wanita adalah suatu keindahan yang harus selalu dapat kita jaga dengan belaian kasih sayang agar keharmonisannya dapat bersatu dengan nafas kita dan kita hidup dalam kesinambungan yang tertatur.

Ataukah seorang lelaki memang di lahirkan ke dunia ini hanya untuk menjadi perusak dan pencoreng keindahan cinta?

* * *


Apakah aku seperti itu? Bisa tidak bisa juga iya! Karena aku manusia yang juga memiliki gejolak hati yang tidak stabil. Aku tidak bisa membenarkan kalau aku adalah kebenaran yang selalu saja menganggap cinta dan kasih sayang adalah sesuatu yang sangat aku junjung tinggi dan selalu aku realisasikan setiap saat ke dalam kehidupan ini, tapi setidak-tidaknya aku menganggapnya sebagai sesuatu yang sampai saat ini aku jadikan pembelajaran hidup dimana aku mengambil secuil daripadanya tentang bagaimana tidak bermaknanya hidup tanpanya. Tanpa cinta dan kasih sayang.

Tapi aku juga tidak bisa terus menerus mengelu-elukannya sebagai sesuatu yang “wah” dan membuat seolah-olah cinta dan kasih sayang adalah kelembutan yang tidak bisa melukai, karena aku pun pernah merasakan bagaimana rasanya ketika cinta itu berubah menjadi sesuatu yang lebih ganas dari lahar, yang terus membara di dalam dadaku untuk waktu yang cukup lama dan tidak bisa terpadamkan oleh apapun. Ternyata cinta tidak bisa mempertanggungjawabkan keberadaannya yang dapat membuat manusia yang hidup di dunia ini menjadi seperti orang yang tidak waras.

* * *


Bukankah selama masih ada cinta di dunia ini berarti masih akan terus ada para pesakitan yang akan membuat cinta menjadi lebih pedih daripada sayatan silet di nadi ini?

Tapi permasalahannya, apakah kita hidup harus selalu mempersiapkan tameng-tameng untuk menangkis semua penderitaan yang akan dilontarkan entah oleh siapa saat kita mengenal cinta? Apakah kita setiap saat harus membawa senjata pembunuh penderitaan agar sebelum penderitaan itu menghampiri kita, terlebih dahulu kita membunuhnya?
Apa tidak bisa kita hidup tanpa kekerasan?

* * *


Ada satu kejadian dimana aku dapat merasakan besarnya kekuatan cinta terpancar benderang dari hati seorang gadis pecinta, dengan tangisannya yang berderai di malam kelam dan di iringi oleh isak yang sedikit tertahan, yang langsung dapat terbaca olehku bahwa cintanya sangat besar untuk kekasihnya. Begitu besarnya kekuatan cinta yang keluar dari kedalamannya itu, hingga aku tidak bisa menolak pancarannya itu masuk ke dalam hatiku dan seolah-olah dapat merasakan apa yang dia alami. Aku yang bukan pelaku, dapat menjadi seperti pelaku pecinta. Apa lagi kekasihnya?

Bukankah suatu anugerah yang sangat tidak ternilai bila kita dapat di cintai dengan setulus hati dengan pasangan kita?

Bodoh. Bodoh. Berkali-kali aku mencaci maki dalam hatiku sendiri, bahwa lelaki itu sangatlah bodoh karena malah mencampakkan cinta yang seharusnya dia terima sebagai suatu keberuntungan yang untuk di kehidupan sekarang ini sangat sulit untuk di temukan ketulusannya. Berkali-kali pula aku menerawangkan diri ini, bagaimana sempurnanya hidup aku ini bila sudah mendapatkan cinta yang terindah seperti yang dimiliki wanita itu. Betapa tentramnya. Betapa bahagianya bila wanita itu dapat aku miliki.

He.. He..



Nb:
Ren, kamu wanita tegar yang pernah aku temui, dan aku, ahh.. :p


 

Renjani, dosa yang terus mengalir...

| Sunday, October 14, 2007 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Renjani,
dosa ini terus menerus mengalir tanpa henti di tiap detiknya
harus ada cara untuk kita menghentikan aliran dosa ini
agar tidak membawa kita kelautan azab jahannam.

Seharusnya kebahagiaan ini hanya menghasilkan kegembiraan dan kesenangan serta kelegaan bagi kita yang merasakannya, tanpa ada sisa-sisa penyesalan disetiap akhir dari manis yang kita kecap. Seharusnya juga rajutan-rajutan cerita indah kita akan menjadi keindahan yang sebenarnya bila kita sedikitpun tidak menggunakan benang-benang kekotoran -- walau kekotoran itu sangat menyenangkan dan selalu membuat kita terbuai..

Kita baru menempuh seperempat perjalanan dan didepan kita masih menanti tiga perempat lagi perjalanan yang harus kita lalui yang kita tidak akan pernah tau ada kejadian-kejadian apa saja yang nanti kita hadapi.

Memang, aku pernah mengatakan padamu bahwa aku akan selalu mendampingimu, menjagamu dari kegelapan dunia. Tapi bagaimana jika prajurit-prajurit dari negeri kegelapan itu menyerang kita saat kita sedang terlelap dalam nista yang melenakan?
Juga aku pernah berkata padamu bahwa aku akan melindungimu dari dinginnya kesepian, tapi aku tidak tahu apakah aku tetap bisa menghangatkanmu sedangkan gelora kita sering terbuang sia-sia demi satu kenikmatan tanpa ada ikatan sakral.

Harus, kita harus mencari cara agar dosa ini cepat berhenti mengalir dari kehidupan kita. Selagi semuanya belum terlambat. Selagi kita masih bisa bersama dan bila kita masih ingin bersama...
hhh..

Oktober 2007


 

Perjalanan Hitam

| Sunday, October 14, 2007 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Bersama sore yang mulai menghitam...


Bersama malam yang semakin pekat...



dan taman yang menjadi remang dengan sedikit cahaya...


yeah,
perjalanan menuju hitam yang selalu kulakukan ditiap saatnya
selalu memberi warna syahdu nan manis
hitam; selalu menantiku dengan rindu


...


 

Hujan Kenangan

| Thursday, December 07, 2006 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Siang ini hujan. Deras. Dingin tidak dapat aku elakkan. Masuk ke dalam pori kulitku. Membuat aku mengigil..

Para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor banyak yang menepi, mencari tempat berteduh. Disalah satu minimarket yang berkanopi cukup luas, di toko-toko dan ruko-ruko yang berkanopi seadanya. Asalkan tidak terguyur derasnya hujan. Walaupun tetap saja kencangnya angin membuat tubuh dan wajah mereka terkena tamparan-tamparan halus air.

Ada beberapa dari mereka memilih melanjutkan perjalanan karena sudah terlanjur basah kuyup atau mungkin karena tergesa-gesa oleh sebuah janji atau karena memang ingin menikmati dingin air hujan atau juga karena memang ingin melanjutkan perjalanan tanpa alasan apa-apa karena hidup adalah suatu perjalanan tanpa henti yang harus tetap di tapaki walaupun aral banyak mengusik merintangi gerak laju langkah kita.

Hujan disiang ini menerawangkan ingatanku pada satu tangisan yang sangat lirih. Menyesakkan. Tangisan seorang wanita di suatu malam. Malam dengan luka. Malam yang tidak seperti biasanya. Wanita yang kucintai menangis karena aku menghujamkan luka di hatinya.

Luka karena pengkhianatan hatiku. Tangisan itu sungguh memilukan dan terasa begitu menyayat. Mengiris. Bagaimana bisa seorang pecinta menjadi seperti seorang pembunuh. Pembunuh jiwa.

Siang ini kurasakan perasaan seperti dimalam itu. Tangisanmu terasa nyata. Kepedihan itu sungguh dapat aku rasakan kembali. Kenangan itu kembali dan mengcuat menjadi nyata. Hhh…

Kusumpahi dan kucaci maki diriku. Kubenturkan kepalaku ke tembok basah hujan. Berkali-kali. Tapi tak terpuaskan. Dosa ini tak terampuni!
Satu kesempatan emas telah terlewatkan begitu saja dengan menyisakan penyesalan yang berkepanjangan, sampai kini. Hujan kenangan menenggelamkan tubuh nistaku kedalam kubangan sesal. Masih pantaskah aku meminta sedikit keadilan untuk sebuah pengampunan?

Jutaan kalimat telah tercipta dengan sendirinya, mengalir seperti anak sungai. Semua ucapan penyesalan telah tertulis tanpa tertinggal satupun dengan satu harapan: maaf! Maafkan aku.. maafkan aku..
Hujan siang ini sungguh seperti malam itu. Terkutuk diriku.


Dalam kenangan: Renjani.
Somewhere Place, awal Desember 2006


 

Perjalanan Luka 3

| Wednesday, November 15, 2006 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Bangku taman ini masih sama seperti satu bulan yang lalu, tidak berubah tempat. Tepat menghadap tugu monas yang berdiri tegak seperti melambangkan keangkuhan. Aku menatap dengan kagum tugu monas yang berkilau megah karena disorot lampu tembak dari berbagai sudut. Beberapa pohon palem juga menancap mantap beberapa meter tidak jauh dariku. Salah satu pelepah dari salah satu pohon palem itu mengering, bergelayutan dan hampir jatuh. Mungkin dengan sekali tiupan angin kencang akan benar-benar terlepas. Tapi angin di malam ini tidak berhembu dengan kencang, melainkan sepoi-sepoi. Dan tetap dingin. Ya, dingin.

Dari tempat ku duduk rembulan membentuk sabit tetapi terhalang oleh pelepah-pelepah palem. Posisi rembulan itu ada disebelah kiri tepat bersebelahan dengan tugu monas. Ada tiga pasang muda-mudi duduk diatas rumput. Dua lelaki memainkan gitar dan satu lelaki yang lain memainkan tam-tam. Sedang para wanitanya bertepuk tangan, semuanya bernyanyi;

kemesraan ini janganlah cepat berlalu
kemesraan ini ingin ku kenang selalu

hatiku damai jiwaku tentram disampingmu
hatiku damai jiwaku tentram bersamamu...

Seorang wanita tiba-tiba membuka tas dan mencari-cari sesuatu. Dapat. Dikeluarkannya dua buah lilin jumbo, yang satu berwarna merah dan yang satu lagi berwarna biru. Dinyalakannya dengan korek api lalu ditaruhnya kedua lilin itu ditengah-tengah diantara mereka. Suasananya kian menjadi hangat. Ditengah nyanyian salah satu wanitanya menoleh kearahku. Kami saling berpandangan. Dia tersenyum dan aku pun tersenyum. Tidak lama, lalu dia menolehkan pandangannya kembali keteman-temannya dan kembali bernyanyi. Kualihkan pandanganku juga, keatas langit dan entah mencari apa. Kupejamkan mataku. Bayangmu kembali hadir.

Masih terasa hangat suasana itu, saat dibangku taman ini kamu tidur berbaring disampingku. Mungkin terlelap. Karena lelah berjalan dari stasiun kemayoran, mampir ke pasar baru untuk mencari makanan buka puasa. Lalu jalan lagi ke Masjid Istiqlal untuk sholat maghrib. Dan setelah itu kita kesini untuk yang kesekian kalinya. Duduk menyandarkan tubuh dibangku taman memejamkan mata dan tidak lama tubuhmu kamu baringkan disebelahku, tidur. Malam itu hanya ada sedikit obrolan. Ya, kamu lebih banyak tidur, sedangkan aku terjaga. Menulis puisi tentang malam, monas, dan kita.
Sesekali kubelai wajahmu, kutatap ada ketenangan dan kedamaian terpancar dari wajahmu. Hhmm, bersamamu ternyata dapat menyejukkan hati ini, tentram dan nyaman. Di malam itu ada kejadian lucu, berkali-kali kamu meminta kita pulang, tetapi berkali-kali pula kamu berbaring dan tertidur lagi.

Nyamuk menggigit pipi kananku. Aku tersentak kaget. Kutepuk pipiku dan kubuka mataku. Hhhh, aku sendiri.

Tatapanku masih agak buram. Karena terlalu lama memejamkan mata, mungkin juga tertidur. Entahlah. Tiga pasang muda-mudi sudah tidak ada, entah kemana. Kini berganti dua anak kecil sekitar berumur lima tahunan, dua-duanya perempuan. Mereka sedang asyik berkejar-kejaran. Lompat-lompatan. Terlihat sangat polos, tidak jauh dari mereka kedua orangtuanya memperhatikan dengan seksama sambil bersandar di batang pohon palem. Mataku terasa basah. Betapa bahagianya mereka. Bibirku gemetar menahan airmata agar tidak jatuh. Tetapi tidak bisa. Kubiarkan ia menetes. Kubuka kacamataku lalu ku usap mataku. Begitu cengengnya aku ini.

Dimana kebahagiaan itu kini berada? Kebahagiaan datang hanya untuk pergi. Dan akulah yang membuat kebahagiaan itu menjauh dariku. Aku yang begitu bodoh memperlakukan kebagiaan itu hingga ia tidak betah menetap terlalu lama di keseharianku. Menyesal tiada arti. Tetapi tetap saja aku menyesal. Andai... andai... khayalan yang percuma. Seringnya aku berandai tapi ternyata hanya menjadi omong kosong karena apa yang aku lakukan sangat jauh berbeda dengan apa yang aku omongkan. Bullshit.

Malam terasa panjang. Aku harus tetap melewatinya walau dengan kesendirian. Kesendirian. Hal yang paling menyesakkan untuk dialami. Tapi apa mau dikata, aku harus menerimanya. Salah satu konsekwensi dari satu ketololan perbuatanku. Semilir angin malam menampar wajahku. Dingin. Aku bangkit dari bangku taman. Kutatap bangku taman sesaat. Tersenyum miris. Lalu aku pergi. Aku memang harus pergi. Meninggalkan kenangan untuk sementara atau mungkin untuk selamanya.

Malam di monas hampir sama seperti malam di ancol. Disini juga hampir di setiap sudut entah dibangku-bangku taman, duduk di rerumputan, tangga pagar monas, teras kolam air mancur, bawah pohon ketapang, dibawah patung kartini, para pecinta asyik memadu kasih. Sama seperti di ancol beberapa hari yang lalu dan di kebun raya cibodas awal bulan ini. Di monas malam ini aku pun sendiri. Menikmati kesendirian bersama kenangan yang masih selalu hadir dengan dingin. Dan masih berharap dapat kembali menjadi hangat dan menggelora.

Aku selalu membuka tangan ini untuk kamu datang kembali kedalam pelukanku. Aku berharap.


dalam kenangan: Renjani
Taman Monas, Nov 2006


 

Perjalana Luka 2

| Tuesday, October 17, 2006 by adiindie | ˜ 0 komentar »

malam ini kembali sadari ku sendiri
gelap ini kembali sadari kau t'lah pergi

Langit disepuh kelabu hampir merata, gulungan ombak menampar batu-batu yang tersusun rapi memanjang ke arah lautan membuat aluanan nyanyian mendayu-dayu. Angin berhembus lembut membawa wangi asin, membelai pelepah kelapa dan membuatnya saling bergesek-gesekkan lalu membuat irama yang terdengar seperti mengiris dan meringis. Kapal-kapal berlayar entah kemana, sesekali terdengar entah dari mana suara peluit kapal yang terdengar seperti rintihan panjang dan tak berkesudahan. Senja, bersinar dengan lemah hanya sesaat lalu tertutup rapat oleh awan kelabu, langit perlahan demi perlahan meremang dan akhirnya menghitam.

Aku masih sama seperti satu jam yang lalu, duduk diatas tumpukan batu memandang lautan, memandang langit dan mencoba memandang masa depan dengan bayangan yang samar-samar.
Aku tepat berada disini, seperti tahun lalu pada kali kedua kita ketempat ini duduk berdua menikmati lautan sambil memakan nasi padang. Dan aku, kamu suapin dengan tanganmu. Bercerita ini dan itu sambil sesekali bercanda dan tertawa. Setelah itu kita bergegas mencari musholla untuk menunaikan sholat maghrib. Lalu perjalanan kita lanjutkan menuju tempat kesukaan kita; jembatan yang membawa kita seperti berada di tengah lautan. Jembatan cinta.
Suasana malam dipantai memang terasa sangat mendamaikan dan bersamamu sungguh menyenangkan.

Detik ini, ditempat ini aku sedang mengingati dirimu sambil terus tersenyum dan tiba-tiba menitikkan airmata setelah tersadar ternyata sekarang aku sendiri dan kamu telah pergi...

malam ini kata hati ingin terpenuhi
gelap ini kata hati ingin kau kembali

Angin malam semakin menggigilkan tubuhku, kupejamkan mata dan ku hirup angin sedalam-dalamnya lalu kutahan nafas ini setelah itu kubuang secara perlahan-lahan. Senja berlalu tanpa kata tanpa menyisakan rasa damai seperti dulu saat kamu masih ada disampingku dan kita sering melewatkanya bersama berdua.
Malam kelam tanpa bulan, sejauh mata memandang hanya hitam, hanya satu-dua bintang yang bersinar redup. Lampu-lampu disepanjang pantai menyala dengan cahaya yang meremang.

Aku berjalan menyisiri jalan yang pernah kita lalui. Didepanku sepasang pecinta berjalan sangat lambat. Tangannya saling bergenggaman erat seakan-akan takut dan tidak ingin saling terpisahkan. Aku melaluinya dengan senyuman pahit. Dulu, aku dan kamu juga seperti mereka, saling menghangatkan dikala kita merasa dingin. Tapi saat ini aku hanya bisa memasukkan telapak tanganku kedalam saku celana untuk mengusir dingin yang meraja.

Lagi-lagi airmata ini mengalir dengan sendirinya. Ternyata, aku masih sangat menyayangimu dan aku sangat membutuhkanmu. Hari-hari yang aku lalui sungguh sepi dan tidak berarti tanpamu. Aku merindukan genggaman tanganmu dan pelukan hangatmu saat tubuh ini menggigil.
Aku sangat ingin kamu kembali...

hembus dinginnya angin lautan
tak hilang ditelan bergelas-gelan arak yang kutengggakkan

Walau aku sudah memakain sweater, tetap saja aku merasa kedinginan. Ternyata bukan hanya tubuh ini saja yang terasa dingin tetapi jiwa ini juga terasa sangat dingin bahkan seperti membeku. Dingin dan juga hampa. Tanpa adanya dirimu.

malam ini ku ucap berjuta kata maki
gelap ini ku bernyanyi lepas isi hati

Aku masih melangkahi kaki ini dengan berat dan lambat, seakan-akan setiap langkahnya ingin aku nikmati dengan dalam. Nyanyian binatang dan serangga malam saling bersautan seperti orkestra membawakan lagu duka. Simfoni tentang luka. Miris.

Tiba-tiba bayangmu hadir dan menjadi sosok yang nyata berjalan disampingku. Dan kau pun menoleh ke arah ku sambil tersenyum sangat manis sekali tetapi pipimu basah oleh arimata yang terus mengalir. Setelah itu kamu menghilang sebelum sempat au membelai pipimu.
Airmata itu, aku yang membuat airmata itu mengalir di wajah indahmu. Aku yang merusak keindahan cinta kita berdua. Kemunafikan diri ini mengkhianati cinta kita.

Aaaaarrggggggggghhhhhh.........
Aku berteriak mencaci diriku sendiri dengan jutaan sumpah serapah tetapi aku masih belum merasa puas. Dosa ini terlalu besar kepadamu. Wanita dengan keindahan cinta yang tiada tara.
Bodoh, aku begitu bodoh hingga melukaimu. Dan kini aku sungguh menyesal...

malam ini bersama bulan aku menari
gelap ini di tepi pantai aku menangis

Sekarang aku sudah berada disini, di jembatan cinta ini. Biarlah aku menyebutnya begitu karena di jembatan ini banyak pasangan pecinta memadu kasih. Rembulan bersinar tetapi tersamar oleh awan tipis yang menutupi sebagian tubuhnya. Ombak masih bernyanyi bahkan kini dengan alunan yang sangat sedih aku lewati pasangan pecinta yang entah sedang memperdebatkan apa, dengan acuh. Kita juga pernah berdepat disini, banyak masalah yang kita uraikan ditempat ini, ada tawa dan ada juga airmata. Banyak kisah kau ceritakan kepadaku. Ada canda dan juga ada duka, banyak juga kita buat kisah disini.

Kulepaskan pandanganku ke hempasan laut yang luas dibatasi garis, langit seakan ingin bersatu dengan lautan. Seperti aku yang juga ingin bisa bersatu bersamamu kembali seperti dahulu. Hatiku terasa kosong. Kehidupanku juga terasa kosong. Setelah kamu pergi dari kehidupanku, banyak yang aku rasakan menghilang dari hari-hariku.

tanpa dirimu dekat disisiku
aku bagai ikan tanpa air

Banyak impian-impian kita yang pada akhirnya kini hanya menjadi khayalan. Terlalu banyak mulut ini mengeluarkan kata-kata manis tanpa ada pembuktian yang nyata. Penyesalan, sekarang hanya ada penyesalan. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan diriku yang telah sedemikian rupa menghancurkan hatimu. Aku belum tahu bagaimana caranya menghilangkan rasa sakit di hatimu, akupun belum tahu dengan cara apa aku bisa merebut hatimu agar bisa aku miliki lagi seperti dulu...

tanpa dirimu ada dimataku
aku bagai hiu tanpa taring

Malam dipantai. Hening. Aku meratapi kesendirian dengan mencoba untuk tenang. Nafasku terasa berat, sesak. Walau aku tahu ini kesalahanku, tetapi egoku ingin tetap menang. Aku ingin kamu tetap menjadi milikku dan aku tidak ingin kamu meninggalkanku, karena walau bagaimanapun kamu telah menjadi bagian dari hidupku dan aku masih sangat mencintaimu...

tanpa dirimu dekap dipelukku
aku bagai pantai tanpa lautan

Sungguh, seandainya waktu dapat diputar tidak akan aku memperlakukanmu semena-mena hingga kamu terluka dan menderita. Seharusnya juga aku bisa lebih bersabar menghadapimu dan tidak mencampakkanmu, aku juga harus bisa lebih menjaga hati ini agar tidak mudah tergoda dengan hati yang lain. Tetap fokus dan memelihara kasih sayang yang sudah lama kita bina.
Padahal sangat tidak mudah menaklukan hatimu, butuh waktu berbulan-bulan untukku dapat memilikimu dan memiliki utuh kasihmu. Tapi ternyata, hanya membutuhkan waktu yang sangat sebentar untuk menghancurkan kembali cintamu yang sudah kumiliki. Lebih berat menjaga daripada mendapatkan cinta dan kasih sayangmu.

Kini aku menyesal dan waktu tidak akan bisa diputar walau aku memohon-mohon bahkan menangis meraung-raung. Semua telah berlalu. Tetapi aku masih memiliki harapan yang besar kalau kita bisa bersatu lagi dan memulai semuanya dari nol lagi. Mari kita bina lagi kisah kasih ini agar kita bisa menikmati senja dipantai juga memandang bintang-bintang yang berkerlap-kerlip diatas jembatan cinta yang kini aku singgahi, sendiri.

Udara malam makin dingin, makin menggigilkan tubuh, disudut jembatan kulihat sepasang pecinta saling berpelukan erat dan dengan penuh kasih. Disudut jembatan yang lain kulihat pasangan cinta yang lain duduk berhadapan saling bercanda mengelitiki satu dengan yang lainnya, keduanya tertawa riang penuh cinta, setelah lelah kulihat si wanita membaringkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di atas paha si lelaki, tangan si lelaki juga tidak ambil diam, dia membelai lembuh wajah dan kening si wanita, terasa penuh kasih. Aku tersenyum sambil menarik nafas, dalam. Kualihkan wajahku, menunduk. Samar-samar kulihat ikan yang saling berkejaran lalu menghilang ditelan gelap. Hhhh.. kutarik nafas panjang lagi, kutatap angkasa. Bulan telah menghilang dan bintang-bintangpun tidak ada yang bersinar.

Kesendirian ini begitu menyakitkan, terutama di malam ini.
Betapa aku membutuhkanmu.
Teramat sangat membutuhkanmu.

kembalilah kasih...
kembalilah kasih...

Dalam kenangan: Renjani
Pantai Ancol, Nov 2006


 

Malamku dan Malam di Monas

| Sunday, October 08, 2006 by adiindie | ˜ 0 komentar »




Malam ini aku kembali kesini,
menyatukan lagi kerinduan yang telah lama terpisah
Disini, di tempat ini...

Ditempat ini,
dibangku taman yang dihiasi lampu taman yang temaram
Disini,
ditemani lagu-lagu sendu tempo dulu
Yang dimainkan anak-anak remaja yang duduk diatas rerumputan
dan bersandar dibatang pohon palem
Disini,
yang juga ada kamu yang kini sedang tertidup disamping kiriku,
terlelap.

Aku satukan jiwa ini bersama malam
Dan berharap tidak ada lagi jahannam
Yang datang dan menghujam, dalam

Tuhan, biarkan aku dalam damai ini
Walau hanya untuk malam ini
--dan tetap berharap untuk malam-malam berikutnya.
Damaikan aku dengan malam dan dia
Wahai kebahagiaan, jangan cepat berlalu
Temani aku sampai nanti aku terlelap dalam keabadian

Saat ini, malam ini, aku hanya ingin bahagia
Dan tentunya dengan kamu, hai kasih..



Monas malam, 08 Oktober 2006


 

Dan Renjani pun Tersenyum,

| Sunday, August 27, 2006 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Sebenarnya, saya sangat malu untuk mengakuinya. Ternyata kini saya juga sangat menyayangi saudara. Saudara memang benar-benar keras kepala dan sangat berani, hingga bisa membuat hati saya luluh. Entah mengapa bisa seperti ini, saya bisa-bisanya jadi jatuh hati sama saudara yang notabenenya bukan tipe saya. Kini saudara berhasil, dan saya kalah. Saudara mampu membuat saya klepak-klepek dengan segala perbuatan saudara, perbuatan yang tidak pernah saya bayangkan akan berbalik menjadi indah. Dasar, saudara ini bisa saja membuat saya menjadi bertekuk lutut.

Pada awalnya sedikitpun tidak pernah terbersit dihati ini akan bisa menjadikan saudara sebagai kekasih saya, bukankah dari awal saudara tahu kalau saya tidak sedikitpun menyukai saudara.

Tapi mungkin memang benar kata para psikolog pujangga yang sudah hidup di jaman purba kalau cinta bisa tumbuh dari rasa benci. Dulunya benci sekali tapi pada akhirnya jadi cinta sekali. Dan kini aku memang benar-benar merasakannya.

Saya yakin, saudara pasti senang sekali mendengar pengakuan saya. Inikan yang saudara harapkan, saudara berhasil. Kini saya serahkan kepada saudara ingin saudara apakan hati saya yang sekarang ini, yang juga membutuhkan saudara. Tidak muluk-muluk yang saya harapkan dari saudara, saya hanya ingin saudara bisa menjaga hati ini, saya tidak ingin saudara menyia-nyiakan rasa sayang yang saya miliki untuk saudara ini. Dan saya yakin saudara juga punya keinginan yang serupa dengan saya, toh perjuangan saudara memang sangat berat untuk dapat meluluhkan hati saya dan sangat disayangkan bukan bila saudara tidak bisa merawat hasil perjuangan saudara.

Maafkan semua kekasaran yang dulu saya lakukan kepada saudara, habisnya saudara itu tidak pernah ada habisnya mendekati saya, mencoba dan terus mencoba. Belum lagi saat itu situasi hati saya memang sedang tidak menentu, situasi dimana saya memang sedang tidak mau berhubungan dengan perasaan yang menjurus kearah cinta dan embel-embelnya. Tapi ya sudahlah jadi malu kalau mengingatnya lagi. Saudara memang kebal sekali dengan segala sumpah serapah yang saya hunuskan kepada saudara, saudara memang pantang menyerah. Itu yang membuat saya menjadi kagum terhadap saudara. Perasaan awal yang kini berkembang menjadi rasa cinta.

Sudah dulu, nanti saya sambung lagi ya saya masih ingin tersenyum menyadari yang telah terjadi dengan saudara. Nanti saya lanjutkan lagi. Bye...


Salam Manis,
Renjani.


27 agustus 2006 / 11:11


 

Dan Renjani pun Menjawab, (2)

| Thursday, March 30, 2006 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Aduh...

Saudara ini benar-benar blo’on atau emang kepala batu sih. Sudah saya bilang berkali-kali jangan pernah mengharapkan saya, eh masih saja saudara itu ngebuntuti saya. Emangnya saya suka apa di gituin?!

Saudara itu sebenarnya manusia yang memiliki otak atau enggak sih? Harus bagaimana lagi sih bilanginnya ke saudara. Saya kan kemarin sudah jelaskan, bahkan saya jelaskan sejelas-jelasnya kepada saudara bahwa untuk sekarang ini saya tidak ingin menjalin kasih sayang dengan siapapun, apalagi sama saudara. Saudara memang bodoh ya, tolol, goblok!!!

Masih saja saudara mengejar-ngejar saya. Saudara ini mungkin memang tidak punya kepekaan ya, tidak punya rasa malu.

Kejadian yang masih saja berulang, dan terjadi lagi, dan terus terjadi lagi adalah saat saudara berbicara tentang kerinduan. Yang selalu saja setiap saya mau mendengarnya jadi benar-benar muntah. Saudara itu sok, bener-bener sok mengerti tentang kerinduan dan bahkan saudara itu bisa banget mendramatisasinya menjadi begitu terlihat mendalam. Cuih.

Saya itu sebenarnya tidak sudi banget dirindukan oleh siapapun termasuk saudara, manusia yang tidak saya sayangi. Boro-boro sayangi, suka walau sedikit juga enggak.

Sungguh untuk yang terakhir kalinya saya bilang ke saudara kalau rindu-rindu yang saudara ucapkan ke saya itu sangat mengganggu saya. Kehidupan saya jadi tidak tenang, banyak waktu saya terbengkalai dan sia-sia hanya untuk mengurusi saudara yang sok manja, sok kolokan. Emangnya enggak malu apa sama umur?!

Baru tadi pagi ketemu, siangnya bilang kangen. Ditambah suara krang-kring HP saya karena tidak capek-capeknya saudara menelpon saya terus. Memangnya saudara tidak pernah mikir apa saat saudara telepon saya sedang ngapain? Saudara pasti tidak pernah membayangkan saya yang terpaksa menunda makan saya, menunda pekerjaan saya, buru-buru keluar dari kamar mandi karena sedang buang air kecil ataupun besar, langsung terjaga dari tidur, dan masih banyak lagi kegiatan saya yang terganggu karena harus mengangkat HP yang ternyata dari saudara. Oh ya, saya terpaksa buru-buru menyudahi segala aktivitas saya karena yang saya kira itu telepon memang benar-benar penting dan saya tidak pernah berharap saudara yang menelpon saya. Apalagi kalau menelpon hanya untuk sekedar berbasa-basi saja, enggak mutu banget sih. Bikin BT tau.

Sudah dulu, tanganku capek. Lagipula untuk apa juga aku menulis surat ini kepada saudara, manusia idiot yang selalu mengonani otaknya dengan cinta. Cinta yang taik kucing.

Lain kali saya sambung lagi, saya mau tidur. Capek.


Salam Sebal,
Renjani.


Lagi-lagi sekedar iseng.
Akhir maret 2006


 

Dan Renjani pun Menjawab, (1)

| Monday, March 06, 2006 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Saya tidak pernah mengerti dengan jalan fikiran saudara, sungguh saya pusing sekali. Saudara ini terlalu percaya diri sekali, menganggap saya sebagai kekasih saudara dan menyebarkannya ke semua orang. Padahal jelas-jelas saya ini bukan siapa-siapanya saudara. Lagipula atas dasar apa saudara ini ngaku-ngaku sebagai kekasih saya? saudara tidak pernah mikir atas prilaku saudara ini yang secara tidak langsung mencemarkan nama baik saya. Setiap saya pulang dan berpapasan dengan siapa saja di lingkungan rumah, mereka tiba-tiba saja bilang kalau saya kekasih saudara. Terus terang saya merasa risih. Tahu.

Lagian saudara ini, dari dulu sudah saya kasih sinyal kalau saya tidak menginginkan saudara, tetapi saudara saja yang sangat tidak peka. Masih terus mengejar-ngejar dan terus ingin mendapatkan saya. Perlu saudara tahu, saya itu tidak pernah menyukai saudara, tolong camkan itu.

Kalau selama ini saya berlaku baik sama saudara, itu semata-mata karena saya kasihan sama saudara. Apalagi kalau melihat tampang saudara yang memelas itu, saya jadi merasa bersalah saja kalau tidak mengasihi saudara. Tapi, entah karena saudara memang dasarnya goblok atau memang sok polos, masih saja merasa kalau saudara di sayangi oleh saya.

Sayang, sayang apa? Sayang taik kucing. Tidak ada yang namanya sayang untuk manusia seperti saudara ini. Seharusnya saudara ngaca dulu dong, siapa saudara itu. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari saudara, dan tidak ada untungnya menjadi kekasih saudara. Lagipula tau apa sih saudara itu tentang rasa sayang, sok tahu. Sok punya perasaan.

Dan juga tau apa saudara tentang saya, sejauh mana saudara bisa dapat mengenal kehidupan saya. Kenal aja belum lama. Sok menebak-nebak dapat menilai tentang kehidupan saya. Asal saudara tahu saja, setiap saudara memberi penilaian tentang saya, memang pada saat itu saya hanya mesem-mesem saja dan mengangguk waktu saudara menanyakan kebenaran penilaian saudara. Padahal, tidak ada sedikit pun dari penilaian saudara itu yang benar. Lagi-lagi saya melakukan itu semua hanya ingin menyenangkan saudara saja kok. Ya itu yang saya bilang tadi, saya sungguh kasihan sama saudara.

Saya juga sudah tidak tahu harus berbuat apa supaya saudara tahu kalau saya tidak menginginkan saudara di kehidupan saya. Sesungguhnya saya ingin mengatakan kepada saudara tentang perasaan ini yang sebenarnya secara langsung, tapi saya tidak tega. Takutnya nanti saudara kenapa-kenapa, terus yang kena imbasnya saya lagi. Nah, itu saya tidak mau disalahkan nantinya.

Entah sampai kapan semua ini akan berakhir, sebenarnya saya sudah sangat lelah dengan keadaan ini. Apalagi dengan segala rintihan saudara, tentang rasa sayang saudara yang sangat besar kepada saya, bikin saya jadi mau muntah setiap kali mendengarnya. Juga tentang kerinduan-kerinduan yang sangat sering saudara utarakan kalau sehari saja tidak bertemu dengan saya. Itu yang membuat saya merasa tertekan.

Sebenarnya saudara itu sadar tidak sih, kalau saudara itu sekarang ini banyak banget menyita waktu saya. Saya harus selalu siap sedia melayani saudara, yang selalu tidak jelas keinginannya apa dan maunya bagaimana. Tidak tahu harus dengan sikap seperti apalagi yang akan membuat saudara tersadarkan dari keadaan ini, keadaan yang menurut saya sangat menyedihkan. Ya, kehidupan saudara ternyata sangat menyedihkan. Mengorbankan segalanya demi wanita yang saudara sayangi, tapi yang lebih mengenaskannya wanita itu tidak menyayangi saudara walaupun sedikit.

Sudahlah, masih banyak wanita yang lain yang lebih pantas saudara sayangi. Dan jangan saya. Saudara belum tahu dalamnya saya seperti apa. Jangan sok menebak-nebak. Saudara tidak tahu apa-apa tentang saya, dan jangan harap saya akan bercerita pada saudara tentang siapa saya sebenarnya. Saya malas, buang-buang waktu saja. Masih banyak yang harus saya kerjakan dan yang pasti lebih menguntungkan daripada memikirkan saudara yang tidak pernah sedikitpun saya sayangi.

Sudah dulu nanti surat pernyataan yang kedua saya kirimi lagi, untuk lebih menyakinkan saudara lagi kalau saya tidak menyayangi saudara. Sekali lagi, saya tidak sayang sama saudara. Titik.


Salam Benci,
Renjani.


Sekedar Iseng,
06032006/17:54


 

Mengapa Bintang?

| Wednesday, November 30, 2005 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Sepertinya malam ini Aku merasakan satu cinta yang sudah lama Aku abaikan, hai cinta apa kabar? Boleh Aku memanggilmu Bintang? Ku harap ini tidak berlebihan. . .
Dan malam ini Aku merindukan Bintang itu. (15.11.2005 00:13)*


Dia bilang, “Di saat tengah malam, tiba-tiba saja Aku ingin duduk di teras depan tempatku bekerja dan menatap langit yang ternyata tidak kelam. Disana Aku melihat ada bulan penuh cukup terang dan ada satu Bintang yang berpijar terang di atasnya. Lalu Aku membanding-bandingkan, mana yang lebih indah, bulan penuh ataukah Bintang kecil yang benderang. Ternyata pilihanku tertuju kepada Bintang yang terlihat lebih kecil di bandingkan bulan.”

Dia juga bilang, “Bintang jauh lebih indah, mulai dari bentuknya, pijaran sinarnya. Bintang juga selalu ada berpijar walau tidak terang di malam kelam, sedangkan bulan tidak, ia bisa datang untuk satu malam dan bisa menghilang dalam empat malam berturut-turut.”

Dan dia melanjutkan, “Aku ingin memiliki Bintang itu, Bintang yang selalu ada tanpa kita pinta. Selalu membasuh malam-malamku dengan sinarnya. Ada kedamaian saat Aku melihatnya menerangiku. Ada rasa bahagia saat Aku menatapnya.”
Lalu dengan semangat dia berkata, “Aku ingin dapat memiliki sesorang yang menyerupai Bintang itu!”


Manusia dan Bintang apakah bisa disamakan? Ya, secara bentuk mungkin tidak, tapi secara fungsi mungkin bisalah!
Bintang berfungsi memperindah malam dengan terang dan bentuknya yang menawan, sedangkan manusia juga bisa memperindah kehidupan seseorang yang mencintainya dengan terang kasihnya.

Bintang ada menemani malam kelam dan menjaganya dari kesunyian, manusia juga dapat menjadi pengobat kesunyian di saat seseorang merasa sendiri dan butuh seseorang yang lain untuk menemaninya.

Bintang dapat menenangkan dan mendamaikan hati saat kita melihatnya berpijar menembus malam, begitu juga manusia, bisa membahagiakan dan membuat hati berbunga-bunga saat kerinduan menghampiri para pecinta.


Sejauh mana manusia bisa menjadi seperti Bintang, yang berfungsi selalu saja membuat hati manusia merasa senang selalu?

Memang, tidak semua Bintang bersinar dengan terang, tidak semua Bintang ada di saat malam kelam. Bintang walaupun banyak bertebaran menghiasi angkasa malam, tapi hanya beberapa saja yang dapat bertahan menghadapi gelapnya malam, dengan terus berpijar, walau dengan pendaran yang tidak terlalu terang., tapi dia terus berusahan dengan sisa-sisa sinarnya.

Tapi selalu ada saatnya, dimana Bintang tidak mampu bersinar sama sekali walau dengan usaha keras berjuang untuk dapat berkilauan, Bintang tetaplah tidak bisa di sebut sebagai kesempurnaan keindahan, karena dia juga memiliki keterbatasan bergerak.
Adalah semesta alam yang dapat membuat Bintang tidak dapat bergerak dengan leluasa, semesta alam yang seketika dapat menjadi tidak bersahabat dengan malam, semesta alam yang menurunkan kesedihan. Menitikkan bulir-bulir airmata, hujan.

Ya, dengan hujanlah Bintang tidak dapat memperlihatkan keindahannya untuk semesta bumi. Ini hukum semesta alam, yang menandakan tidak akan pernah ada kesempurnaan yang mutlak. Selalu saja ada penghalang untuk menuju kesempurnaan. Tapi itulah fitrah kehidupan.

Sama, manusia juga, walau di ciptakan dengan kesempurnaan melebihi penciptaan makhluk yang lainnya, tetap saja manusia mempunyai kekurangan yang menandakan kesempurnaannya terbatas.
Lalu, jika sudah begini adanya, apakah masih pantas manusia disamakan dengan Bintang?


Dia berkata, “Bintang tetap akan selalu ada, karena hujan hanya sesaat saja menghalanginya, setelah itu Bintang akan kembali ke-keadaan semula, berpendar dan memberikan keindahannya, dan Aku percaya itu. Karena Bintang memang tercipta dari keindahan dan menciptakan keindahan di hati pemandangnya.”

Dia menambahkan, “Aku telah menemukan seseorang yang menyerupai keindahan Bintang itu dan Aku harap ia bisa menjadi penerang di angkasa hatiku.”

Dengan senyum yang sangat manis dia berkata,
“Kamulah orangnya, apakah kamu bersedia menjadi Bintangku?!”


November 2005
*SmS From Renjani