Musafir Kelana | Sajak: Kuntjoro, ST

0

Pelabuhan ini kelak kan kutinggalkan. Sudah terlalu lama berdiam disini.
Pelabuhan yang dahulu gersang itu Kini telah subur, rimbun menghijau

ini sejarah berawal mula...
aku berlabuh di Pelabuhan ini secara aneh
ya...sangat aneh...
Karena Bukan aku yang menuju padanya
akan tetapi ...
justru ialah yang menepi ke perahuku
kuambil saja hikmahnya bahwa
rupanya ia telah tertulis di lauhul mahfuz...*
dibawa takdir... untuk kami saling bertemu

pelabuhan ini begitu tajam tatapan matanya
bercahaya...
berbinar binar...
dan...
jenaka...
kupandang sejenak saja
sangat sejenak
aku melihat potensi hebat ada padanya

bara apinya hanya butuh pemantik agar berkobar
dan perlu arahan agar kobarannya bermanfaat
maka tanpa berpikir panjang
Akhirnya Perahupun kutambatkan,
kuabdikan diri untuk membangun ulang kembali dirinya

Kuperiksa sekeliling
kiranya apa-apa yang perlu dibereskan dan diperbaiki
ternyata memang benar
Pelabuhan ini begitu mengagumkan
tapi sayang ia tidak terawat, ia rapuh
pondasi-pondasinya begitu dangkal dan rentan
hingga mudah patah bila terinjak bahkan oleh hewan pengeratpun

semakin kukaji dan kupelajari
Kegersangan pelabuhan inipun begitu terasa
Hawa panas dari dalam dadanya
Rasa amarah yang membuncah
kepada siapa? karena apa?
(kelak akupun tau dan memahami)
iapun Rindu akan kasih sayang dan butuh uluran tangan...
dan tanpa ragu tangankupun terulur menggenggam tangannya

Rencana kususun
Titik-titik Pondasi Pada kedalaman tertentu
kutancapkan dengan kokoh
agar tak goyang diterpa angin
agar tak roboh diterjang badai
landasan jiwanya kubongkar dan kususun ulang
bingkai pikiran dan wawasanpun tak luput kupasang

kemudian aneka pepohonan kutanam:
pohon kayu, pohon buah, pohon bunga dan rerumputan. semuanya dilakukan:
agar kokoh kakinya
agar kuat tangannya
agar teguh hatinya
agar bening jiwanya
agar luas cakrawalanya
agar tinggi pandangannya
agar sejuk hawa di dadanya
agar reda amarah di hatinya

dalam perjalanan pembangunannya
terkadang ombak menerjang
badai menghalang...
tapi tak kami hiraukan itu semua
karena janjiku dan janjinyalah
karena saling percaya kamilah
karena komitmen kamilah
maka pembangunan ini harus terus berjalan
dengan kesabaran, ketekunan dan ketabahan

tahap demi tahap hasilnya mulai terlihat
pondasinya kini telah kokoh
landasan jiwanya telah licin mulus
wawasannya telah meluas
pisau pikirannya semakin tajam
tempat berteduhpun telah menjulang
sejuk pepohonan rindang
diseling buah ranum nan segar
kembang setaman beraneka rupa
selang seling menyejukkan hati
tak lupa rumput halus nan tebal memanjakan kaki
kini kurasa pengabdian telah usai

semua janjiku telah kulunasi
janji-janjinya?
ya... janji-janjinya pasti kan ditunaikan pula
aku percaya itu
karena dia bukan pendusta
karena dia tidak khianat

saatnya pun tiba...
perjalanan ini harus dilanjutkan
kembali arungi lautan luas
dibawah hantaman terik mentari
ditemani burung camar dan penghuni lautan
dinaungi gelapnya malam
berkawan cahaya bulan dan taburan bebintang
melawan gelombang kecil dan besar
hadapi angin sepoi dan badai
kusiapkan perahuku yang semakin tua dan rapuh
pun dayung dan layarnya begitu juga
semakin lapuk dan koyak

berkemas dan bersegeralah aku
namun kiranya..
bekal apa yang ingin kubawa dari pelabuhan ini?
hanya bekal terbaik yang kan kubawa
ianya adalah:
canda dan tawanya
contoh dan kerjanya
keuletan dan kesabarannya
kerjasama dan kesetiaannya
ketulusan dan janji-janjinya
kepercayaan dan komitmennya
kelembutan dan kekerasannya

suatu saat...
kelak aku kan kembali
berkunjung menyapa
mengenang masa-masa indah
masa-masa penuh suka dan duka
karena di pelabuhan inilah
kutemukan siapa sebenarnya yang berhak digurui
siapa yang berhak diteladani
ternyata engkaulah yang berhak menyandang itu

dayung telah kusiapkan
layar belum lagi berkembang
tali siap kulepaskan
sejenak kupandang kembali pelabuhan itu
berat hati meninggalkanmu
sebab horcruxku** tersimpan disini
dan horcruxmu ada padaku
namun
perjalanan mencari diri harus dilanjutkan
karena kuyakin dalam gelapnya malam
pasti ada setitik cahaya

renungan dan pelajaran yang kudapat di tempat ini adalah
sebenarnya...
kita adalah pelabuhan-pelabuhan

hakikatnya...
kita adalah perahu-perahu di tengah lautan

dan kita hanyalah seorang musafir
yang mesti berbenah diri
menambal sejarah hidup yang koyak

sebab aku adalah musafir kelana
sebab kita adalah musafir kelana
maka hidup harus dilanjutkan
mencari cahaya terang
dan mencari ampunan

RSI Room 2106 An-Nur 2
12 Februari 2018

Penulis  : Kuntjoro, ST



*Lauh Mahfuzh (Arab:لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta. Lauh Mahfuzh disebut di dalam Al-Qur'an sebanyak 13 kali. (Wikipedia-red)
**Horcrux adalah "suatu wadah di mana seorang Penyihir Hitam menyembunyikan bagian dari jiwanya untuk tujuan mencapai keabadian". Dengan sebagian jiwa yang disimpan, seorang penyihir memiliki hidup yang sangat panjang selama selama horcrux itu tetap utuh, biasanya disimpan di tempat yang aman. (Wikipedia-red)

0 comments:

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net