Gadis Kecil Melintas di Yerusalem | Cerpen: Danarto

0


Pertempuran terus menderu. Sudah lima jam belum juga reda. Pasukan Israel merangsek pejuang Palestina yang bertahan. Di antara puing rumah dan toko pejuang Palestina menyembul dan menyelinap. Rentetan tembakan tentara Israel mengenai potongan-potongan tembok.



Kami terjebak di Gereja Nativity, Yerusalem, tempat kelahiran Kanjeng Rasul Yesus Kristus. Sehabis umrah, kami sekitar lima belas orang menuju Palestina dengan bus. Kami singgah dan menginap di Amman, ibukota Yordania, mandi-mandi di Laut Mati. Dengan sejumlah bus, kami diangkut bersama dengan turis lainnya, kebanyakan dari manca negara seperti kami, menuju Palestina.


Setelah melewati pemeriksaan yang melelahkan, sekitar lima jam, oleh petugas pemerintah Israel yang muda-muda, kami bisa masuk Palestina. Kami tiba di Jericho, kota kecil yang sepi. Terlihat seorang muda Palestina menjinjing senapan laras panjang, melintas. Kami salat Ashar di sebuah masjid yang agaknya sudah menjadi langganan agen pariwisata. Lengang. Kota ini berada paling bawah, sekitar 400 m dari permukaan laut.


Kami lalu makan siang di Restoran Temptations yang mahalnya kelewat-lewat. Setelah kenyang, kami berbondong nginap di Hotel Victoria yang kelihatan kuno, dan penuh gendruwo. Arsitekturnya mengatakan itu.

O, betapa indahnya Palestina. Di waktu malam hari, kami yang berada di ketinggian, memandang ke bawah, persis di Puncak memandang Jakarta, kelap-kelip lampu berpijar-pijar, menghiasi seluruh lembah. Tampak Kiai Umar Budihargo yang memimpin robongan kami, berkaca-kaca ketika lelehan air matanya memantulkan sinar blits kamera Mas Fajri waktu berpotret-potretan. Malam gelap, memang. Kami bersikeras mengincar pemandangan yang kerlap-kerlip di lembah itu yang mudah-mudahan tertangkap kamera kami.


Persoalan Bangsa Palestina adalah persoalan kita. Bagaimana mungkin di milenium ketiga ini masih ada penjajahan. Banyak yang pesimistis bahwa Bangsa Palestina bisa mendapatkan kemerdekaannya dan memproklamasikan Republik Palestina menjadi negara berdaulat. Sebab, jika Republik Palestina diproklamasikan, pasti bangsa ini bebas berbelanja senjata dan tidak ada yang menghalang-halangi.


Itulah yang ditakutkan Israel. Pertarungan habis-habisan melawan Israel yakin terjadi dan bisa menggiring ke Perang Dunia III. Ada sebuah desa di Palestina, Armageddon namanya. Di desa inilah seluruh kekuatan dunia berkumpul untuk menyelenggarakan Perang Dunia III.


Adzan subuh mengantar kami berbondong ke Masjidil Aqsha. Udara yang cukup dingin, membuat kami menggigil. Waktu itu jamaah salat subuh tidak banyak. Seandainya habis salat lalu nyruput kopi dan makan bakso, o, alangkah lezatnya. Para jamaah setempat berpakaian tebal dan berkumpul menyatu. Kami sempat berpotret-potretan dengan takmir masjid di depan mihrab, yang tidak mungkin kami lakukan di mihrab Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, juga Masjid Istiqlal.


Selalu saja pemerintah Israel berusaha merobohkan Masjidil Aqsha dengan segala cara. Segala tipu daya. Mereka ingin membangun kuil Sulaiman untuk menggantikannya. Terus-menerus sepanjang abad.


Tak kenal adab. Mereka masih hidup di zaman azab. Ada saja alasan mereka untuk menimbulkan kerusakan masjid suci yang merupakan tiga serangkai dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Akibat dari ngototnya pemerintah Israel untuk memusnahkan Masjidil Aqsha, terus-menerus memicu perlawanan sampai titik darah penghabisan para pejuang Palestina. Rasanya perdamaian tidak akan pernah bisa tercapai jika Israel tidak mengakui hak-hak bangsa Palestina.


Pertempuran terus berlangsung. Seperti penumbuk padi di atas lesung. Beruntun tak henti mengapung. Luka menganga, luka bangsa yang agung. Peta telah dibikin bingung. Damai, tidak, damai, tidak, lakukan apa pun bagai detak jantung. Tanah keras, berbukit, kebun pisang, tenda prajurit, ditelan udara suwung.


Lepas makan siang, kembali kami berpotret-potretan dengan latar belakang lembah yang dipenuhi pohon cemara. Semarak anggun. Kami melihat ada upacara penguburan. Balutan suasana harumi. Napak tilas para rasul para nabi. Bau wangi kesturi pembawa kitab suci. Kami antri untuk masuk ke Masjid Batu Karang (Qubbat al-Sakhrah/Dome of the Rock) bersama turis manca negara lainnya.


Masjid itu tempat suci bagi umat Islam, Kristiani, dan Yahudi. Kami antri untuk masuk ke ruang kecil di bawah batu karang yang sangat besar. Batu karang ini mau ikut terbang bersama Kanjeng Rasul Muhammad SAW ketika mampir ke sini sewaktu mi'raj. Ada telapak kaki Rasulullah di satu sudut yang saya usap dengan sajadah.


Ada kebiasaan saya selalu mengusap tempat atau tapak tilas suci dengan sajadah saya. Saya berbelanja banyak sajadah, juga sorban, yang gunanya untuk mengusap-usap tempat-tempat itu. Ingin saya membawa debu lewat sajadah dan sorban saya itu ke rumah. Sajadah dan sorban itu juga saya basahi dengan air zam-zam.


Dengan mengusap debu di tilas suci itu rasanya saya melewati masa-masa purbani yang tak bisa dimengerti dan selalu tersembunyi dalam rahasia. Hidup barangkali sebuah ruang yang sesungguhnya tidak ada yang kita menganggap bisa merabanya. Apa yang dapat dipikirkan ketika memejamkan mata, hilang ketika membuka mata. Kita terus-menerus memusatkan pikiran supaya bisa meraba.


Di dalam ruang sempit di bawah batu karang itu kami salat dua rakaat di sudut tempat Rasulullah salat. Di sebelah ada sudut untuk umat Kristiani dan di sudut yang lain untuk umat Yahudi. Kami hadir di dalam kurun yang baru yang kami rasakan dengan takjub. Mengejutkan. Jarak antara para Kanjeng Rasul dengan kami menyatu. Satu ukuran. Satu umat.


Para rasul dicipta khusus dengan satu tugas saja sedang kita orang kebanyakan dapat dan boleh menjadi apa saja dan berubah-ubah. Inilah kelebihan masing-masing yang tak boleh ditawar. Jauh-jauh kami menapak tilas para orang suci, dapatkah debu itu benar-benar berhasil dibawa pulang. Sajadah atau sorban atau tasbih akhirnya menciptakan jarak yang tidak dikehendaki.


Ahim dan Nina mulai menangis karena lapar dan haus. Romo penghuni gereja yang sekilas pernah terlihat, tidak nampak lagi. Bu Betty menenangkan keduanya. Ada sejumlah turis dari Barat dan anak-anaknya juga terjebak bersama kami. Anak-anaknya juga mulai menangis. Kami penuh penyesalan kenapa tidak berbekal roti kering dan air mineral. Bu Betty dan Bu Wiwiek mulai berlelehan air mata.


Kami sudah bosan menyaksikan siaran langsung pertempuran lewat televisi yang disuguhkan oleh gereja ini. Kiai Umar, Pak Toha, dokter Iqbal, Mas Fajri, Nurrahman, saya dan pemandu kami serta beberapa turis Barat mengintip dari pintu yang barangkali saja dapat sedikit meli hat pertempuran antara para pejuang Palestina melawan tentara Israel.


Tiba-tiba muncul seorang gadis kecil berkerudung yang uluk salam, "Salamu 'alaikum." Kami pun menyahutnya dengan, "Waalaikum salam." Gadis itu, subhanallah, membawa teh panas, roti tawar dan madu untuk kami dan turis-turis Barat itu. Sebelum kami berkenalan, gadis cilik itu, sekitar 12 tahun, sudah pamit kembali ke belakang. Kami dan para turis Barat itu pun melahap roti yang bundar tipis yang kami guyur dengan madu sembari nyruput teh panas.


Setelah lima jam, setelah lapar dan haus, setelah merasa tidak ada pertolongan yang datang, berkah Allah muncul tak terduga. Seorang gadis kecil, seperti gadis-gadis kecil di Jogja atau Solo atau Jakarta dan Bandung, dapat menyelamatkan kami yang tidak tahu Barat dan Timur.


Kiai Umar, dokter Iqbal, Pak Toha, dan pemandu kami pergi ke belakang, mencari dapur, barangkali saja gadis kecil itu sedang duduk mencangkung. Dapur tidak ditemukan, juga gadis itu, tak ada. Kami lalu mencoba menemui pastor tapi tak ada seorang pun di belakang. Memang para turis dengan bebas keluar masuk di dalam gereja. Boleh dikata tidak ditemui seorang penjaga pun. Para turis yang datang langsung menuju sudut kecil tempat Rasul umat Kristiani itu dilahirkan.


Saya mengusapkan sajadah saya di tempat kelahiran Kanjeng Rasul Yesus Kristus yang ditengarai dengan lempengan bintang dua belas dan sebuah palung kecil tempat Rasul Allah itu dibaringkan setelah ibundanya kelelahan menyusuinya.


Dibanding umat Kristiani yang mengunjungi masjid, jauh lebih banyak umat Islam yang mengunjungi gereja-geraja. Pemandangan alam yang nyata. Memberi kesejukan pada mata. Kau kejar ke sana, jangan hanya raga. Kau kejar kemari, jangan hanya surga. Tuhan menyembunyikan semua. Supaya kita tidak rakus dan manja. Para rasul meminta kita, jadilah penanda.


Yerusalem milik kita bertiga. Jangan ada yang loba. Ketika kita menginjakkan kaki di tanah suci, ada debu kaki para rasul yang menempel di telapak kaki kita. Debu kaki siapakah ini. Siapa pun pemilik debu itu, itu debu sang suci yang telah menyadarkan bahwa kita hanyalah manusia.




Judul Cerpen: Gadis Kecil Melintas di Yerusalem
Pengarang: Danarto
Diterbitkan: Koran Republika, 02 Februari 2007

0 comments:

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net