SAYA DI MATA SAYA DAN SEBAGIAN ORANG

0

Ada beberapa kawan yang sangat perhatiannya terhadap kehidupan yang saya jalani bertanya langsung kepada saya, "Sampai kapan kamu jalani kehidupan yang seperti ini? Kamu gak ingin seperti yang lain, bekerja di kantoran atau sejenisnya, dan sukses ..."
Ada juga beberapa kawan yang kurang perhatian menjadikan episode kehidupan saya sebagai bahan rumpian dan parahnya menjadi sebuah cibiran, "Huh, orang seperti dia itu ciri-ciri orang yang tidak punya masa depan!"
Busyet!

Memang, saya akui usia saya sudah seperempat abad lebih, kehidupan yang saya jalani sekarang mungkin terlihat atau terkesan sangat santai, tidak punya pekerjaan tetap.
Pekerjaan tetap yang dimaksud disini adalah menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan atau instansi. Entah itu menjadi pegawai di suatu kantor perusahaan sabun colek, pegawai atawa buruh di suatu pabrik sendal jepit, atau syukur-syukur jadi PNS biar dapat pensiunan yang bakal mendapatkan jatah lima liter beras kantor tiap bulannya.

Kadang yang suka jadi pertanyaan saya adalah, "Apa iya orang sudah absah di bilang bekerja itu kalau sudah bekerja di kantoran, pake kemeja yang di setrika sedemikian licinnya, pakai dasi, sepatu pantopel yang terbuat dari kulit atau paling tidak terbuat dari kalep yang di semir kinclong.
Bangun jam lima pagi, mandi dan sarapan seadaanya lalu keluar rumah menuju tempat kerja setelah sebelumnya berjibaku dengan kemacetan jakarta sambil berharap-harap cemas tidak telat absen sampai tempat kerja. Keluar dari tempat kerja jam lima sore (kalau tidak lembur), pulang menuju rumah yang lagi-lagi harus berurusan lagi dengan kemacetan jakarta yang semakin menjadi. Sewaktu di rumah masih di ribetkan lagi oleh tugas-tugas di tempat kerja yang belum terselesaikan dan juga kerjaan rumah. Belum lagi kepikiran sama omongan atau omelan atasan tentang kinerja kita, dan bla.. bla.. bla...
Begitu pengulangan di tiap harinya dan juga begitupun dengan bekerja sebagai karyawan atawa buruh atau juga menjadi PNS.

Dengan satu tujuan pasti: mendapat gaji minimal UMR di tiap bulannya dan entah mendapatkan bersih berapa ditiap bulannya setelah di potong biaya operasional harian seperti transportasi, makan, dan rokok bagi yang merokok. Bayar cicilan ini itu, beli ini itu, syukur-syukur ada sisa buat menabung...

Apesnya, karena saya tidak 'bekerja' sesuai dengan yang dikatakan diatas, jadilah saya sebagai bahan pergunjingan oleh sebagian orang-orang yang merasa mengenal saya, baik yang sudah mengenal cukup lama ataupun yang baru mengenal saya, itupun kenal karena mendapat cerita dari bisik-bisik tetangga.
Dalam hati saya selalu berfikir, "Sebegitu parahnya kah kehidupan saya ini? Dan sejauh manakah mereka mengetahui kehidupan saya dengan ke-soktahuan-nya itu?"

Sekarang, saya memang tidak punya penghasilan tetap, tapi toh saya tetap berpenghasilan. Lha, saya bersyukur masih bisa makan di tiap harinya, bisa bayar angsuran sesuatu yang saya ambil lima tahun yang lalu, bisa menabung untuk modal berkeluarga nanti, bisa beli ini beli itu serta yang lainnya, sama seperti sebagian orang yang lainnya.

Dari mana saya bisa memenuhi itu semua? Saya pun bekerja (walau bukan pekerja tetap) dengan otak dan keterampilan yang Tuhan berikan kepada saya dan menghasilkan pundi-pundi rupiah dan dollar.
Terpaksa saya ceritakan ini kepada khalayak yang merasa jengah dengan pola kehidupan saya. Karena pada akhirnya saya pun menjadi jengah terhadap gunjingan tak bermutu itu (yang sebenarnya tetap tidak merugikan saya secara langsung).

"Tapi kan penghasilan dari pekerjaan kamu itu tidak menentu!" Kata sebagian orang berusaha menepis argumen saya.

Penghasilan saya memang tidak tetap, tetapi seperti yang saya bilang diatas, saya masih tetap berpenghasilan dan sangat bersyukur karena dapat memenuhi segalanya. Pekerjaan saya memang tidak menentu, tapi saya dapat menentukan bahwa apa yang saya kerjakan tidak akan menghentikan episode kehidupan saya.

Memangnya ada jaminan, jadi pegawai tetap akan tetap jadi pegawai tetap selamanya? Tidak akan ada PHK walau Perusahaan bangkrut? Tidak akan ada pemecatan karena ada ketidak-sengajaan berbuat kesalahan fatal dalam bekerja? Tidak akan ada keterpaksaan mengundurkan diri karena gencetan dan sikut-sikutan oleh rekan kerja? Tidak akan memble sambil menunggu bekerja lagi karena sudah ketergantungan oleh pekerjaan sebelumnya? Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Begitulah saya di mata sebagian orang.

Setiap orang  bebas berpendapat dan saya rasa sehebat apapun orang berargumen menyatakan pendapatnya masing-masing, saya harap harus berusaha tahu diri dan berusaha menjadi bijak bilamana pendapatnya dapat terpatahkan dan terbantahkan oleh argumen pendapat dari yang lainnya..

Salam hangat,
adi

0 comments:

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net