Kunang-kunang di Matamu

12

kepada: a.n

Dari mata itu, aku melihat dengan jelas bagaimana kunang-kunang itu keluar secara perlahan lalu terbang mengitari wajahmu dan terbang kembai menuju angkasa. Mulanya hanya satu, lalu dua, sepuluh, hingga ratusan atau mungkin ribuan kunang-kunang berkarnaval menuju angkasa dengan kerlap-kerlip serupa percikan kembang api.

Aku temukan tatapan mata yang kosong itu di wajahmu, setelah kamu mengakhiri cerita tentang masa yang telah jauh berlalu dari hidupmu. Mulanya kamu semangat sekali bercerita tentang satu masa, dimana cinta --ku ingat setiap kali kamu menyebut kata cinta, di matamu seperti mengeluarkan kilau cahaya-- membuatmu seperti manusia paling bahagia. Senyuman yang tidak pernah terputus sepanjang ceritamu tentang asmara yang menggelora di masa indahmu, dulu.

"Betapa sempurna hidupku, mendapat pasangan cinta yang sempurna seperti dia", katamu dengan senyuman yang sangat dalam sampai matamu terpejam.

Aku yang masih belum bisa mengerti tentang cinta dan segala kesempurnaanya yang dialami oleh kaum muda hanya bisa ikut tersenyum, walau terpaksa. Karena aku memang belum pernah bisa teryakinkan akan cinta yang sempurna oleh pasangan muda, lain halnya saat aku melihat tetanggaku, sepasang renta yang dimakan usia, bagaimana setianya sang istri mendorong kursi roda yang ditumpangi sang suami dari rumah hingga ke taman yang berjarak seratus meteran dari rumahnya itu setiap pagi hari. hmm, itu yang ku sebut cinta.

"cinta menyatukan kami dan bidadari kecil yang terlahir dari janinku itu buah dari cinta kami", katamu sambil memeluk bingkai yang berisi foto seorang balita yang sedang terlihat tertidur pulas.

Pikiranku langsung melambung ke pasangan renta, tetanggaku, saat sore ku melihat mereka di teras rumahnya dimana dengan sabarnya sang nenek membantu menyuapi suaminya makan bubur. Sang kakek yang terserang lumpuh sejak lama, hanya bisa menghabiskan waktunya di kursiroda. Akhh, ini yang lagi kusebut dengan cinta.

* * *

Aku masih mendengar dan memperhatikan dengan seksama semua ceritamu, begitupun sampai kamu yang tiba-tiba terdiam, dan bingkai di pelukanmu terjatuh. Kamu lanjutkan ceritamu tapi dengan suara yang sangat pelan, seperti berbisik.

"Cinta, cinta, cinta juga yang membuat semuanya berubah dengan cepat. Cinta dia yang ternyata lebih berpihak kepada wanita yang baru dikenalnya itu dan membuat kebahagiaan berubah menjadi kosong", lalu kamu diam dan beku.

...

Dan, kunang-kunang itu mulai keluar dari mata kosong itu...

12 comments:

ren said...

barangkali, sudah saatnya orang muda bergerak menjarak dari melankolia, adi.. seperti tulisanmu sebelum ini luamayan ada tanda tenaganya. beda dg ini. kalo mau jujur (seperti kamu minta) aku nilang ini tulisan yg flamboyan tanpa denyut, tidak mungkin merona karena tidak ada aliran darahnya di nadi-nadinya. sorry, aku ga biasa muji berlebihan. tapi aku suka kamu tetap menulis, walau jelek2 ... HA HA HA, keep smiling, kamu tau selera humorku, kan?

keep keeping on, terus maju dan positif yaak

geLLy said...

aku suka bNgtt dengan kata2 kakak terasa lembut halus N menyeNtuH...so sweet

Slugger said...

hmm.....
entah kenapa gw ngerasa tulisan loe bagus yah....

apakah aku telah melakukann fitnah???

Mike.... said...

cinta oh cinta...

dee said...

kunang-kunang ya..
jd inget Seribu Kunang-Kunang di Manhattan-nya Umar Kayam..

sebenernya sebuah karya itu bagus atw engga tergantung interpretasi pembacanya.. :D Tetep semangat menulis yah!

tontowi said...

mataku tidak berkunang-kunang kok boss :D

Indah said...

napa kali ini kok gk ada kata indahnya ya...jgn trauma lho ya....duh merasa mengena banget sih....di bukukan aja

Paams said...

cinta memang gak selalu bahagia ya?
yang kakek nenek itu... cinta yang setia,
kdang gw bingung, apa mereka gak pernah bosen ya?

Ayu Ambarsari Hanafiah said...

bagus banged! :)

saya juga pgn punya pasanag sampe tua, yang akan terus menjaga sayah dan menyayangi setulus hati.

tapi kayaknya gga mungkin deh.
paling klo udah tua, giliran saya yg jaga dia.
soalnya tadi pagi pas berangkat kuliah, saya liat nenek ma kakek yang tuaaa banget, pake tongkat. berjalan menyusuri jalan, berdua saja.

terlihat romantis, tapi juga ngilu.
soalnya, yang menuntun si kakek berjalan itu, adalah si nenek..

ngilu yang menyenangkan untuk dilihat.
gga banyak yang bisa begitu.

loh kok banyak bener inih komennya??? kabuuuur..

Smaragdina said...

Haha, cinta pasangan muda itu tak jarang hanya gelora asamara yang tak terbendung. Yang kemudian diakui sebagai perasaan murni, yang padahal akal mengakuinya sebagai yang salah. Cinta tak hanya sebatas perasaan dan gelora...cinta adalah logika.

Haha, memuja cinta adalah segalanya memang dan membuat saya ikut puitis dan terlena. Kenapa oh kenapa...ciyee!

I love this one!!

Kristina Dian Safitry said...

emang didalam bola amta ada kunang2?*pura pura o'on*..

~ tc ~ said...

ouuughhh...

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net