Istirahat Sejenak

| Sunday, August 17, 2008 by adiindie | ˜ 9 komentar »

aku memang harus berhenti,
menghentikan sejenak segala kegiatanku didunia ini.
biarkan aku dengan penat ini,
silahkan mencaciku dengan sebutan pengecut
juga sumpah serapah tentang kelemahan dan ketidakberdayaan
tapi aku akan tetap dengan adanya menjadi diriku.

jangan bertanya denganku,
tentang kisah dulu tentang lantang kata SEMANGAT
yang dulu sering aku teriakkan kepadamu
setiap kali kita bertemu dan berpisah beberapa saat
jangan tanyakan dimana SEMANGAT itu berada kini

biarkan aku dengan jeda ini
aku ingin menikmati semuanya
dengan segala ketenangan dan atau kegelisahan yang aku rasa,

biarkan aku sendiri...


 

Teduh dalam Damai

| Wednesday, August 13, 2008 by adiindie | ˜ 3 komentar »

hitam
hitam
hitam

adistress


hitam
hitam
hitam
...


 

Simfoni Sunyi

| Saturday, August 02, 2008 by adiindie | ˜ 9 komentar »

karena sepi,
adalah aku.


 

Gapai Bahagia

| Tuesday, July 22, 2008 by adiindie | ˜ 8 komentar »

Nun Jauh di sana, bertahun-tahun yang silam, di sebuah kota kecil di India kuno, terlihatlah seorang pemuda sedang duduk termenung dekat sebuah taman, raut wajahnya penuh dengan ketidakbahagiaan, penuh kesal, dan mulutnya tak berhenti-henti mengeluarkan suara-suara keputusasaan.

Tak jauh dari tempat pemuda tadi, terlihat seorang kakek yang lanjut usia, sedang mendatangi pemuda tadi, melihat wajah pemuda yang begitu acuh akan kehadirannya, bertanya lah dia:
“Apa yang sedang kamu pikirkan wahai pemuda, kenapa aku melihat wajah mu penuh dengan kekesalan?”
“Dimanakah aku harus mencari kebahagiaan, kenapa aku tidak dapat menemukannya?” Jawab pemuda tadi tanpa menoleh ke sang kakek yang lanjut usia.
“Oh...kalo kamu ingin mendapatkan kebahagiaan, tangkaplah capung yang berterbangan di taman disamping mu itu, dan bawalah kepada ku, maka akan aku beri jawaban mengenai kebahagiaan setelah itu” sahut kakek tersebut.

Dengan wajah malas, dan langkah gontai, diikuti permintaan kakek tersebut, pergilah pemuda tadi ke taman tersebut, dan mulailah dia menangkap capung yang diminta sang kakek, namun sudah sekian lama mencari capung tersebut, tidak satupun capung yang dia dapatkan.
Dia pun mulai berusaha dengan keras, berlari kesana kemari, tanpa tentu arah, di tabraknya rumput-rumput yang menghalanginya, dengan nafas yang terengah-engah, dia terus menangkap tanpa memperdulikan apapun yang ada didepannya, namun tetap saja tidak ada capung didapatnya.

Sang kakek yang memperhatikannya dari jauh, langsung mendekatinya, dengan tersenyum dia pun berkata:
“Begitukah engkau ingin mendapatkan kebahagiaan? dengan berlari tanpa tentu arah, menabrak apapun yang ada didepanmu, merusak rumput-rumput dan membuat capung-capung itu menjauhi mu? “
“Anak muda, mencari kebahagiaan sama dengan menangkap capung, semakin engkau ingin meraihnya, semakin dia menjauhi mu, ingat kebahagiaan itu bukan benda yang berwujud, dan bukan untuk dimiliki, kebahagiaan hanya bisa dirasa oleh hati” Lanjut sang kakek.

Sang kakek pun mendekati taman dan tanpa susah payah ditangkap sebuah capung dari taman tersebut “Untuk mendapatkan kebahagiaan, harus menggunakan hati. Dengan hati yang bersih, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Selama hati mu penuh dengan ambisi untuk mendapatkan kebahagiaan, sesungguhnya kebahagiaan itu sendiri dengan sendirinya akan menjauh dari dirimu, mengertikan engkau anak muda” kata kakek tersebut sambil tersenyum kepada pemuda tadi.
“terima kasih kek, aku telah mengerti” Sahut pemuda tadi dengan wajah yang riang.

Kawan,
Kebahagiaan bukanlah target yang harus kita capai, namun kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik kita. Dengan hati yang tulus dan menghargai semua proses hidup yang kita lalui dengan suka cita, niscaya kebahagiaan sudah adalah dalam diri kita. Namun seperti menangkap capung, semakin kita berlari tanpa arah, dengan ambisi untuk mendapatkan kebahagiaan, maka kebahagiaan akan menjauh dari kita. Jangan hanya bisa mengeluh, namun hargailah waktu kita sekarang ini, karena kebahagiaan akan menjadi milik orang yang menghargai hidup...


 

Sandarkan Sejenak

| Saturday, July 12, 2008 by adiindie | ˜ 11 komentar »





Selalu ada yang beda,
di setiap perjalanan waktu yang aku lalui
selalu saja,
warna-warni kehidupan memuncratkan keindahannya
yang di tiap waktunya selalu aku rekam di dalam imajinasi pikiranku
terkadang aku tuangkan dalam kata berbalut lukisan alam
dan menjadi cerita dari salinan episode perjalanan hidupku ini.

Sebagian, aku berusaha berbagi kisah dengan kalian
dan sebagian yang lain terkhususkan
hanya untuk dinikmati diriku,
sendiri...


Jawa Barat,
10-12 Juli 2008


 

Senandung Ketidakperdulian 1

| Saturday, July 05, 2008 by adiindie | ˜ 9 komentar »

Sekedar Ocehan

Kami tidak membutuhkan belas kasihan dari kalian, tidak sama sekali.
Karena kami mencintai hidup kami yang seperti ini.
Tanpa larangan. Bebas.
Setiap kali lampu lalu lintas itu berwarna merah dan kami bernyanyi di samping mobil kalian yang tertutup sangat rapat dengan kaca film yang meremang, kami tidak perduli apakah kalian didalam sana mendengarkan kami atau tidak, kami juga tidak perduli apakah kalian yang sedang sibuk memainkan komputer jinjing yang diletakkan di pangkuan kalian itu memperhatikan kami.

Saat kami memutuskan untuk bernyanyi, tidak ada yang kami harapkan dari kalian. Karena kami bernyanyi memang untuk menyanyikan lagu-lagu yang mewakili perasaan dan kehidupan kami. Entah lagu itu merupakan lagu-lagu yang tidak sengaja kami lihat saat televisi-televisi di toko-toko itu menyala dan kami menyimpannya dalam daya ingat kami, lalu kami menyanyikannya lagi, walau dengan nada yang agak berbeda, maupun lagu itu kami karang sendiri secara lepas, sesuai dengan apa yang kami rasa. Tidak lain semua itu hanyalah karena kami ingin menghibur dan menyenangkan kehidupan kami sendiri.

Pun disaat kalian menurunkan kaca mobil, memberikan kami receh dengan tergesa tanpa senyum lalu menutup kembali rapat kaca mobil itu. Ya, kami menerimanya, menerima bukan karena kami sangat membutuhkan uang recehan itu. Tapi karena kami belajar bagaimana caranya menghargai sebuah pemberian dengan cara tidak menolaknya. Karena tujuan utama kami bernyanyi bukan mendapatkan materi dari kalian, tapi lebih dari itu, untuk mendapatkan kesegaran jiwa kami yaitu kebahagiaan.

Kalian boleh pandang setengah mata tentang kehidupan kami, menganggap kami gelandangan, sampah jalanan. Sungguh kami tidak ambil pusing dan kami sangat tidak perduli terhadap serapah itu semua.
Toh, kesombongan pikiran kalian tidak merubah jalan hidup kami. Memang seberapa tau kalian terhadap jalan kehidupan yang kami tapaki di tiap waktunya? Kalian hanya melihat kami sekilas dan dengan kelebatan keangkuhan..

Untuk sebagian dari kalian yang berempati dengan kami, mengangkat kehidupan sehari-hari kami dan dijadikan topik utama di koran-koran atau televisi-televisi atau radio-radio, kami menghargai usaha kalian yang mencoba peduli dengan kami. Tapi kenyataan miris bahwa kepedulian itu hanya sekejap dan menjadi angin lalu setelahnya, kami hanya sanggup mengucap terimakasih dengan bibir bergetar. Dan melupakan segala pujian palsu penuh omongkosong kalian dengan bernyanyi kembali di tiap lampu lalu lintas ketika mulai berwarna merah.
Kalian hanya mengetahui kehidupan kami, tapi lebih dalam lagi kalian tidak mengerti dan memahami tentang siapa kami.



Berfikirlah dengan cara berfikir kami,
maka kalian akan tau dan mengerti dengan jalan kehidupan kami.


 

Surat Terakhir

| Monday, June 30, 2008 by adiindie | ˜ 6 komentar »

Aku yakin ini memang jalan yang terbaik untuk kita: Berpisah!
Setidak-tidaknya kita sudah sama-sama berusaha semaksimal yang kita mampu, tapi karena tidak menemukan titik temu, maka kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini.

Sama, seperti yang aku rasakan, kamupun pasti sudah sangat lelah dengan semua yang kita jalani. Pertikaian demi pertikaian selalu datang menghampiri kita tanpa kenal waktu dan tanpa lelah membingungkan perasaan kita. Entah itu faktor dari dalam, dari luar, atau segala yang berhubungan dengan kita.

HHhhh... ternyata kita masih belum bisa dewasa karena kita masih menganggap 'masalah' adalah musuh padahal aku ingin sekali kita bisa bersahabat dengan 'masalah'. Yeah, ternyata semua tidak bisa seperti apa yang aku harapkan, begitupun denganmu, menganggap semua ini tidak bisa menjadi seperti yang kamu harapkan. Ternyata semuanya memang harus berakhir. Dan harapan kita biarlah kita terbangkan bersama iring-iringan ketulusan doa:

"Melayang dan terbanglah hai harapan yang indah, maaf kami tidak bisa bersamamu, terima kasih karena telah sudi mampir di hati kami berdua, melayang dan terbanglah, capai dan sempurnakan keindahanmu hai harapan, lalu berbahagialah... kami yakin kamu bisa dan setelah sampai pada tujuanmu, tebarlah benih-benih harapanmu tentang sebuah keindahan cinta kepada para pecinta agar mereka bisa memaknai arti kata cinta yang sesungguhnya. Dan doakan kami juga, para pecinta, agar kami bisa memurnikan cinta di atas kasih sayang dan tidak dengan nafsu ambisi..."

Impian biarlah tetap terlelap di awan, kita tidak perlu mengusiknya, biarlah dia dengan tenang beristirahat. Perjuangan ini biarkan kita hentikan agar tidak memakan korban lagi, menggerogoti hati kita sedikit demi sedikit hingga nantinya akan terkikis dan habis. Mungkin ini memang yang paling baik dari berbagai pilihan kita yang terbaik.

Kamu merasa kehilangan, begitpun aku. Kamu masih sangat menyayangi aku, begitu juga aku. Tapi memang seperti inilah jalannya, mungkin cinta memang sudah menentukan garis kita; Tidak untuk bersama.
Berbahagia dan tersenyumlah untuk dihari ini dan nanti...

Masih, walau hanya sedikit
berharap kamu tertawa melewati ini
agar aku lega melenggang kaki
mengganti duka dan nyeri

Dengan bernyanyi dan menari
merobek dan membakar lembar usang
tertawa dan bersuka cita
... selamat tinggal

walau bagaimanapun,
aku masih sangat mencintaimu..



Cikarang,
disaat Matahari pagi bersinar pilu.
30 Juni 208


*Persembahan untuk Kartika, perwakilan dari Damar
(Sepasang Pecinta yang berduka ... )


 

Mempercepat Kerja Mozilla Firefox

| Saturday, June 28, 2008 by adiindie | ˜ 5 komentar »

Mozzila memang salah satu aplikasi browsing tercepat di bandingkan yang lainnya, tetapi ternyata masih ada tips tersembunyi yang dapat membuat kecepatan browsing mozilla lebih cepat sepuluh kali lipat:

Sangat simple dan tidak memerlukan software tambahan untuk mengerjakannya.

1. Buka Mozilla Firefox
2. Ketik "About:config" pada alamat url











3. setelah itu lalu ketik "network.http.pipelining" pada kolom filter
lalu klik 2 kalipada kata false dan akan terganti otomatis menjadi true














4. Ketik kembali "network.http.proxy.pipelining" pada kolom filter lalu klik 2 kali pada kata false dan akan terganti otomatis menjadi true

5. Ketik lagi "network.http.pipelining.maxrequests" pada kolom filter
dan ubah angka 4 menjadi angka 30 dengan cara mengkliknya 2 kali
lalu klik OK















6. Langkah terakhir,
6.1 klik kanan pada sembarang tempat, lalu pilih New --> Integer.
6.2 Buat nama baru: "nglayout.initialpaint.delay"
6.3 Hapus angka 300
6.4 dan set angkanya menjadi "0" lalu klik OK
















Moga bermanfaat..


 

Hari Anti MADAT Sedunia

| Friday, June 27, 2008 by adiindie | ˜ 0 komentar »





...


 

Perubahan di mulai dari sekarang

| Tuesday, June 24, 2008 by adiindie | ˜ 7 komentar »

Yeah, akhirnya.

Setelah sekian lama memimpikan satu perubahan di blog ini ternyata sekarang tercapai juga. Saya berniat memberi arah lebih lurus (ha ha ha) untuk postingannya, dan mempertegas corak saya dalam tampilannya, tampilan blog ini.

Skin ini bukan utuh buatan saya, karena saya masih tergolong nubi untuk membuatnya.

Ren yang merelakan tenaga (jari di keyboard, mata di layar laptop) pikiran (mengatur gambar, komposisi warna) dan waktu (bela-belain begadang selama hampir tiga hari) dan lebih tepatnya lagi memanfaatkan dia yang sedang keranjingan mengutak-atik template gratisan untuk menyelesaikan blog yang sesuai dengan keinginan saya.

Secara pribadi, betapa kagumnya saya dengan dia (terima kasih banyak ren, es krim dua liter buat kamu sudah aku siapkan) dan betapa solidnya kolaborasi saya dengan dia.

"Si Ren Begadang"

"Si Adi Sok Merenung"

Tahap awal ganti kulit ini berhasil, tapi semuanya belum selesai karena masih banyak ruang kosong yang sebenarnya masih bisa di manfaatkan untuk yang lainnya.

Sambil jalan saja.

Semoga dengan tampilan ini, pengunjung blogger yang budiman bisa lebih merasa nyaman dan betah serta menikmati postingan saya disetiap kata-katanya…


Salam,

adiindie


 

Aku Pulang, Mak...

| Tuesday, June 17, 2008 by adiindie | ˜ 12 komentar »

Batu sungai terserak putih bintang bertabur gemerlapan cahaya

dipalut pualam pelangi persih peraduan ibu melepaskan duka

Pohon kemboja tunduk temungkul memayungi ibu beradu cendera

kusuma terapung tenggelam timbul di atas lautan angin daksina.


Esok pagi aku harus pulang, segera. Tidak ada alasan lain agar aku tidak bisa pulang. Karena aku sudah mempersiapkan segalanya. Janji-janji di hari esok dengan yang lain sudah aku batalkan, pakaian, barang-barang seperlunya dan oleh-oleh seadanya sudah aku masukan ke dalam ransel, paketan bunga rampai sudah aku pesan dan akan dikirim ketempatku malam ini.


Aku harus pulang, tidak ada yang dapat mencegahnya. Aku rindu Emak.


Harum bunga melenakan ibu, sepoi angin mengulikkan bonda

patikpun tunduk berhati mutu hendakpun menyepa tiada kuasa.

Dari jauh suara melambai rasa bonda datang menegur

di atas awan duduk serangkai dengan bintang angsoka hablur.


Sudah sebulan, malamku di temani mimpi-mimpi tentang rumah. Rumah yang kecil sederhana, dengan taman dan kolam ikan yang disekelilingnya di tanami bunga-bunga berbagai jenis.

Emak yang selalu siap setiap menyambut kedatanganku di depan rumah, tersenyum walau aku masih melangkah di ujung gang dengan langkah yang setengah berlari, tak sabar ingin mencium tangan dan memelukmu.

Emak yang selalu saja menyiapkan hidangan klasik kesukaanku: wedang jahe dan pisang goreng hangat.

Emak yang selalu tersenyum padaku sambil memijat-mijat lembut kakiku dan mendengarkan dengan tekun saatku bercerita tentang petualanganku melompati satu kota ke kota yang lain, hingga aku tak sadar terlelap karena lelah perjalanan.


Bunga rampai di atas rimba air selabu di pangkuan dinda

kami menangis tiada berasa terkenangkan ibu beradu cendera.

Bunga mawar bunga cempaka bunga melur aneka warna

dipetik dinda di halaman kita akan penyapu telapakan bonda.


Ahh, betapa kerinduan ini tidak tertahankan. Betapa wangi tangan Emak sudah dapat aku cium melalui kerinduan ini. Esok pagi aku akan pulang dan malam selepas isya aku pasti sudah sampai rumah. Tunggu aku di depan rumah ya, Mak...


Air selabu patik bawakan dari perigi dipagari batu

pada bonda kami sembahkan akan pencuci telapakan ibu.*




* Sajak diambil dari Amir Hamzah -- Bonda 2


 

Sajak Cinta Untukmu

| Monday, June 16, 2008 by adiindie | ˜ 1 komentar »

Kepada: HS

Aku tidak mampu berpuisi tentangmu
dan aku tidak akan mungkin mampu berpuisi tentangmu
Seandainya bisa, aku tetap tidak ingin melakukannya
karena dengan aku berpuisi tentangmu
maka aku telah lancang mengurangi keindahanmu
dengan kata-kataku yang berantakan ini

Karena sesungguhnya,
puisi tersyahdu itu adalah jiwamu
yang memancarkan cahaya ketenangan
dan aku menangkapnya dalam kedamaian

Puisi terindah itu adalah gerakmu
saat senyummu terkembang
dan lesungmu menjadi dalam

puisi yang kamu minta ada di dalam dirimu
karena puisi adalah dirimu sendiri

yang juga tidak bisa aku tuangkan ke dalam kata
karena keindahannya tidak bisa terwakilkan dengan kata

Puisiku,
ya, puisiku adalah puisi tentangmu,
tentang cintaku kepadamu
puisi tentang cinta,
cinta.


 

Terima Kasih untuk Do'anya

| Saturday, June 14, 2008 by adiindie | ˜ 2 komentar »

Terima kasih tak terhingga
untuk doa kesembuhannya dari rekan-rekan blogger
Sekarang yang punya blog udah sehat
dan siap untuk ngeblog lagi...


salam,
adiindie


 

Mohon Doa Kesembuhan

| Friday, June 06, 2008 by adiindie | ˜ 11 komentar »

kawan-kawan,
yang punya blog lagi sakit
beberapa hari terakhir belum bisa ol
dan mungkin untuk beberapa hari kedepan juga belum bisa ol
karena masih harus banyak istirahat

mohon doanya aja dari semua kawan-kawan blogger,
supaya yang punya blog cepat sembuh

amiin...


salam,
adiindie


 

bukan lagu "Aku Cinta Kau & Dia" tetapi ini tentang "Kau Cinta Aku dan Dia"

| Sunday, May 25, 2008 by adiindie | ˜ 16 komentar »

Mungkin orang-orang akan menganggap aku lelaki yang sangat bodoh karena telah dibutakan oleh cinta. Tidak memakai logika, terlalu sok tegar dan kuat dalam menghadapi kemelut cinta yang terjadi di kehidupan saya ini. Setelah wanita yang aku cintai ternyata selama ini membelah hatinya da memendam perasaan cinta kepada lelaki yang lain. Seharusnya setelah mengetahui keadaan ini aku harus melepaskannya dan meninggalkannya dengan disisipi sedikit rasa benci karena perasaanku telah di khianati. Ya, di khianati walau baru sebatas perasaan karena belum sampai pada tahap 'jadian' lagi.


Tapi apa iya, cinta yang buta harus terus-terusan dibiarkan menjadi buta dan membiarkan takdir berpihak bahwa cinta buta adalah mutlak dan tidak ada pengecualian selain penilaian terhadap cinta buta adalah buruk adanya?

Aku memaafkan dan memberikan kesempatan lagi kepada wanita yang aku cintai bukan karena aku dibutakan oleh cinta yang saya miliki untuknya. Juga bukannya karena aku tidak memiliki logika, apalagi sok tegar, sok kuat dan apapun namanya itu dengan kejadian yang aku alami ini.

Sakit, Aku juga merasakan sakit di hati ini setelah mengetahui semuanya. Tapi apa iya, aku harus terus menerus menikmati rasa sakit ini dengan melupakan bahwa aku ini manusia yang diberi pikiran dan nurani untuk berfikir jernih. Terus kalau sudah sakit memangnya harus jadi benci dan dendam? Ya, tidak harus begitu juga kann?

Sebenarnya rasa sakit itu telah hilang seketika itu juga, terobati oleh keberanian dia karena telah dengan apa adanya meluapkan perasaanyang dia rasakan. Mengatakan segala yang dirasakannya, yang aku rasa kejujuran semacam ini sudah sangat jarang ditemui. Aku menghargai dan sangat bangga dengan keberanian dan kejujurannya.

Betapa hebata wanita aku ini...

* * *

Bila aku harus mengakhiri dengan segera kasus ini tanpa harus berfikir panjang terlebih dahulu berarti aku tidak lulus belajar di akademi kehdiupan ini --ya, aku menganggap kehidupan yangku lalui ini ibarat sebuah dunia pendidikan dengan gelar kebanggan terakhir dikehidupan ini sebagai seorang "Sarjana Kehidupan".

Aku membayangi, betapa indahnya saat kemelut cinta yang tidak biasa ini dapat di selesaikan dengan manis, walau apapunyang terjadi di akhir kisah ini nanti tetap diterima dengan senyuman bagi semuanya. Aku selalu memegang prinsip bahwa seberat apapun masalah yang ada di kehidupan ini pasti ada solusi untuk memecahkannya.

Ada alasan yang membuatku kuat bertahan dan harus terus melangkah menjalani hari-hari denganya. Yang selalu memberi tenaga tambahan untuk menjadikanku selalu penuh optimisme dan selalu melahirkan gelora semangat yang membara disegala suasana yang aku hadapi bersamanya. Kasih sayang.

Kasih sayang yang terlahir dari kemurahan hati inilah yang membuat aku dapat memaklumi keadaan ini.

Seperti perkataannya kepadaku bahwa dia juga sebenarnya tidak tahu bila semua ini bisa terjadi pada dirinya dan jauh dari pikirannya bahwa semua yang terjadi adalah sesuatu yang memang disengaja. Bukankah tugas kita adalah memegang erat tangannya saat ada orang yang ktia kasihi hendak terjatuh dan tidak membiarkannya terperosok ke dalam lembah kesalahan?

Aku terima keadaan ini bukan dengan keterpaksaan dan dibuat-buat yang pada akhirnya akan menimbulkan cacian kepada diriku, entah manusia bodoh, dungu, dan bla bla bla lainnya. Yang seperti aku bilang tadi, karena kasih sayang yang aku milikilah yang membuat sesuatu yang terlihat bodoh menjadi terlihat lebih bijaksana (itu menurut pandangan pribadiku lhoo)

* * *

Aaakkkhhh, mungkin memang susah untukku bisa memberi pengertian yang dapat dipahami dengan akal sehat, tapi setidak-tidaknya aku hanya ingin mengatakan kepada orang-orang yang mungkin mencaci-maki diriku baik secara langsung atau dari belakangku. Serta orang-orang yang sangat penasaran kepadaku mengapa seperti ini? Bukankah ini termasuk kesalahan fatal?

Menurut pendapatku dalam kehidupan ini tidak selamanya yang salah adanya mutlak kesalahan dan yang benar juga dipandang kebenaran. Karena kita masih bisa melihat dari sisi yang lain saat salah dan benar datang menghampiri kehidupan ini.

Aku yakin, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini telah ada yang menggariskan, termasuk kehidupanku dengan dia. Entah apapun yang akan terjadi nanti di antara aku dan dirinya di kehidupan yang akan datang. Aku akan tetap menerimanya sebagai takdir yang telah di pilih untukku.

Yang pasti untuk saat ini dia lah wanita yang sangat berarti di kehidupanku ini, wanita yang telah menjadi bagian dari denyut kehidupanku. Sungguh tidak bisa aku pungkiri betapa aku sangat menyayanginya. Menyayangi dengan alasan yang tidak akan pernah bisa terwakilkan dengan kata-kata yang mampu aku rajut walaupun menghabiskan berjuta-juta kalimat yang tertulis.

Aku menyayanginya karena memang aku utuh menyayanginya dan hanya dengan terus menerus membuat dia merasa bahagialah yang dapat membuat kasih sayang yang aku miliki ini menjadi lebih bernyawa. Melihat dia bahagia. Bahagia, walau tanpa aku ada disampingnya. Dan akan menjadi bahagia yang sempurna bila aku akan dapat selalu ada disampingnya, selamanya...



Kepada Dito -- Pejantan Sejati
(Ceritamu semalam jadi inspirasi tulisanku, aku menjadi jantan, hehe..)


 

Kunang-kunang di Matamu

| Thursday, May 22, 2008 by adiindie | ˜ 12 komentar »

kepada: a.n

Dari mata itu, aku melihat dengan jelas bagaimana kunang-kunang itu keluar secara perlahan lalu terbang mengitari wajahmu dan terbang kembai menuju angkasa. Mulanya hanya satu, lalu dua, sepuluh, hingga ratusan atau mungkin ribuan kunang-kunang berkarnaval menuju angkasa dengan kerlap-kerlip serupa percikan kembang api.

Aku temukan tatapan mata yang kosong itu di wajahmu, setelah kamu mengakhiri cerita tentang masa yang telah jauh berlalu dari hidupmu. Mulanya kamu semangat sekali bercerita tentang satu masa, dimana cinta --ku ingat setiap kali kamu menyebut kata cinta, di matamu seperti mengeluarkan kilau cahaya-- membuatmu seperti manusia paling bahagia. Senyuman yang tidak pernah terputus sepanjang ceritamu tentang asmara yang menggelora di masa indahmu, dulu.

"Betapa sempurna hidupku, mendapat pasangan cinta yang sempurna seperti dia", katamu dengan senyuman yang sangat dalam sampai matamu terpejam.

Aku yang masih belum bisa mengerti tentang cinta dan segala kesempurnaanya yang dialami oleh kaum muda hanya bisa ikut tersenyum, walau terpaksa. Karena aku memang belum pernah bisa teryakinkan akan cinta yang sempurna oleh pasangan muda, lain halnya saat aku melihat tetanggaku, sepasang renta yang dimakan usia, bagaimana setianya sang istri mendorong kursi roda yang ditumpangi sang suami dari rumah hingga ke taman yang berjarak seratus meteran dari rumahnya itu setiap pagi hari. hmm, itu yang ku sebut cinta.

"cinta menyatukan kami dan bidadari kecil yang terlahir dari janinku itu buah dari cinta kami", katamu sambil memeluk bingkai yang berisi foto seorang balita yang sedang terlihat tertidur pulas.

Pikiranku langsung melambung ke pasangan renta, tetanggaku, saat sore ku melihat mereka di teras rumahnya dimana dengan sabarnya sang nenek membantu menyuapi suaminya makan bubur. Sang kakek yang terserang lumpuh sejak lama, hanya bisa menghabiskan waktunya di kursiroda. Akhh, ini yang lagi kusebut dengan cinta.

* * *

Aku masih mendengar dan memperhatikan dengan seksama semua ceritamu, begitupun sampai kamu yang tiba-tiba terdiam, dan bingkai di pelukanmu terjatuh. Kamu lanjutkan ceritamu tapi dengan suara yang sangat pelan, seperti berbisik.

"Cinta, cinta, cinta juga yang membuat semuanya berubah dengan cepat. Cinta dia yang ternyata lebih berpihak kepada wanita yang baru dikenalnya itu dan membuat kebahagiaan berubah menjadi kosong", lalu kamu diam dan beku.

...

Dan, kunang-kunang itu mulai keluar dari mata kosong itu...


 

Belajar Menulis

| Monday, May 19, 2008 by adiindie | ˜ 9 komentar »

entah,
aku tidak tahu harus menulis apa, tapi aku sangat ingin menulis, membuat rangkaian kata-kata yang entah tentang apa agar batinku terpuaskan karena telah menulis.
biasanya yang seringkali keluar dari pikiranku saat menulis adalah perihal kesepian akan hidup, tapi untuk saat ini aku tidak merasakan kesepian. aku merasa hidup dalam keriangan dan kegembiraan karena aku dikelilingi oleh malaikat-malaikat yang berhati riang gembira. selalu membuatku tersenyum dan tertawa dengan segala omongan dan prilakunya.
jadi untuk sementara memang aku tidak bisa, atau berpura-pura kesepian untuk mau menuliskan tentang rasa sepi. aku sedang tidak ingin memikirkan tentang kesepian, karena aku takut terbawa arus khayalanku yang akibatnya aku merasa memang seolah-olah kesepian. karena kesepian itu adalah kesedihan dan sesuatu yang menyakitkan. aku rasa bukan solusi yang tepat bila harus memaksakan untuk menuliskan itu sekarang ini.

aku pun sedang tidak bisa menulis tentang rasa yang patah hati karena cinta, karena aku telah lama tidak merasakannya. rasa sakit karena cinta sudah jutaan tahun berlalu dari kehidupanku karena setelah puluhan bidadari mendatangiku dan berjanji akan melayaniku seumur hidupku. aku tenang. tenang karena berarti tidak akan ada lagi rasa sakit itu jika aku terus berada bersama para bidadari itu. yeah, sampai saat ini aku masih terus merasakan hangatnya cinta kasih dari para bidadari itu. hangat sejati akan cinta yang syahdu. bidadari itu memang menepati janjinya akan pelayanan yang dilakukannya. dan kehangatan itu masih aku rasakan, bahkan sampai saat aku mengetik ini aku masih di temani oleh bidadari-bidadari terindah.

aku harus menulis, menulis untuk mendapatkan kelegaan setelahnya. tapi aku masih bingung harus menulis tentang apa. dapatkan para pembaca yang budiman menolongku, membantuku disaat seperti ini. memberiku satu ide menarik agar aku bisa menulis. membuat satu tulisan yang setelahnya aku bisa mendapatkan kelegaan?
apa lebih baik aku harus beranjak ke tempat tidur saja dan melamun sebentar, berharap di mimpiku nanti aku dapat bermimpi bahwa aku telah berhasil menulis tentang sesuatu yang dapat melegakan hatiku?


hhmmppffhh***
coba belajar menulis membalikkan yang dirasakan hati...


 

Dia, Teman Dekatku

| Thursday, May 08, 2008 by adiindie | ˜ 12 komentar »

Harusnya kamu tidak perlu berlebihan dalam menyandarkan lelahnya hidupmu di pundak kehidupanku, karena hal itu hanya akan menyulitkan perasaan kita berdua. Bukan, bukan aku tidak menginginkan dekat denganmu. Tapi keakraban kita ternyata menanam satu bibit bahaya yang pada akhirnya nanti akan tumbuh dan berkembang menjadi satu ancaman yang akan membahayakan kedekatan kita sebagai seorang teman.

Sampai akhir bulan yang lalu aku masih sangat nyaman saat kamu datang menghampiriku. Ya, kamu yang selalu saja meneleponku di saat langit di selimuti hitam yang membawa keremangan dan kadang membawa perasaan gamang. Meminta sedikit waktuku, bahkan meminta malamku untuk menemanimu menghabiskan malam bersamamu. "Temani aku malam ini, aku ingin melanjutkan menghitung bintang-bintang yang kemarin terputus karena terhalang oleh mentari pagi yang
tiba-tiba datang dari ufuk timur", katamu kepadaku dengan lirih dan bujuk rayu yang akhirnya membuatku hanya bisa mengangguk menyetujuinya.

Lalu kita menghabiskan malam-malam itu. Kadang di pekarangan rumahmu, kadang berputar-putar mengelilingi jalan raya jakarta yang lengang di malam hari, kadang duduk di bahu bundaran HI sambil memainkan air, juga sesekali di pinggir pantai ancol. Tiba saat yang tenang saat kita duduk berdua, kamu mulai merangkul tanganku, menyandarkan kepalamu di bahuku, dan kau bercerita tentang luka dan dia...

Dan terjadi pengulangan selalu terjadi di hari-hari berikutnya, begitupun sampai kemarin malam. Diatas loteng rumahmu disaat bulan terlihat sangat indah dengan bentuk sabit tipis yang sedikit menyilaukan. Malam yang akhirnya membuat kita sama-sama beradu pandang sangat lama dan suasana yang membuat semuanya terjadi begitu saja tanpa kita sadari bahwa kejadian itu tidak seharusnya terjadi di antara kita, berdua.

...

Kamu seharusnya dapat mengerti, bahwa dia, kekasihmu yang sering kamu ceritakan kepadaku itu adalah teman baikku dan aku tidak dapat mengkhianatinya, maaf...


Aku serba-salah...


 

Senja & Kemuafikan

| Thursday, May 01, 2008 by adiindie | ˜ 7 komentar »

Seharusnya tak ku kutuk senja di sore hari ini
karena sungguh, seandainya aku tidak munafik aku akan mengatakan dengan sesungguhnya bahwa pendaran kemilau senja yang tadi ku lihat di atas gedung bertingkat duapuluh tujuh itu benar-benar sangat indah dan syahdu. Sepuhan warna merah transparan berhasil membuat semua benda-benda yang tersinarinya terlihat menjadi manis. jalan raya, mobil, motor, pepohonan, manusia-manusia yang berlalu lalang, gedung-gedung yang menjulang ke angkasa..

Tapi ternyata jiwaku memang telah di gerogoti oleh kemunafikan-kemunafikan yang datang berbondong-bondong menyerbu jiwa indahku lalu mengobrak-abriknya dan menjadikannya ruang hitam yang meng-esa-kan kebencian. Sudah terjadi dan aku tidak ingin menyalahkan diriku atas kejadian kemarin, dimana satu kemunafikan aku biarkan masuk ke dalam jiwaku dan aku manjakan. Setelahnya aku terlena oleh kemunafikan itu dan membiarkan kemunafikan-kemunafikan yang lain menyetubuhiku terus menerus. Hingga kini aku menjadi bagian dari kemunafikan.
Jadi aku tidak bisa mengatakan bahwa senja itu indah, terutama di sore ini: senja menjadi sesuatu yang sangat memuakkan dan membosankan.

Seandainya satu kemunafikan itu tidak aku persilahkan masuk ke dalam relung jiwaku kemarin, dan mengiyakan ketersediaanku untuk menjadikan hubungan ini terikat kuat oleh tali pernikahan saat kamu menawarkannya kepadaku, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti yang sekarang ini. Aku hitam oleh cinta...

Sungguh, tak sepantasnya senja di sore ini aku cacimaki karena senja memang indah dan akan selalu terlihat indah. Yeah, seharusnya aku tidak punya alasan lain untuk mencacimaki senja, tapi entah mengapa kini aku selalu saja mencari-cari cara untuk mencacimaki keindahan senja. Apalagi setelah aku tidak pernah bisa lagi melihatnya dengan penuh kedamaian seperti dulu, yang biasa aku lakukan di setiap kesempatan: menatap senja yang merekah di tepi pantai bersamamu, saat kamu masih menjadi milikku...


ppfffhhh...


 

TEMAN KEMATIAN

| Monday, April 21, 2008 by adiindie | ˜ 6 komentar »

Saat Aku membayangkan kamu di sudut kamar itu
Aku tahu airmata yang indah itu mengalir
melewati halus pipimu dan juga melewatii lututmu
Tatkala kamu terpaku menatap kosong kekelaman
Bertopang dagumu dengan lututmu menunduk matamu
tak kuasa menahan beban isi di kepala tentang hidup
Aku tahu kamu tersiksa di sana:
Termenung dalam kesendirian mengharap asa

–Saat itu pula Aku ingin berada di dekapanmu membelai panjang rambutmu yang terurai
menyeka titik-titik airmata diantara celah lesungmu membisikkan syair-syair tentang cinta
agar kamu bahagia agar Aku dapat melihat senyummu kembali terkembang–

Tapi Aku tahu, disana kamu tidak ingin terganggu oleh siapapun oleh apapun
Karena rasa sayang terhadap selain dirimu yang tak ingin mereka terluka olehmu
dengan membagi penderitaanmu dengan yang lainnya…

Aku membayangkan suatu ruang yang ditempati olehmu;
dinding-dinding berlumut,
sarang laba-laba yang menutupi bingkai- bingkai usang,
buku-buku berserakan di lantai-lantai berdebu
di temani kecoa-kecoa yang bersarang di bawah tempat tidur,
cicak-cicak bertelur di dalam jam dinding yang sudah tidak lagi berdetak.

Aku tahu kamu memang lebih suka di sana sendiri berteman kematian…

Di dalam kamar itu kamu tidak pernah bersuara
untuk menyuarakan keluhan-keluhanmu
Kamu tenang seperti angkasa di malam hari
dan tak ada gerakan-gerakan yang berarti

Sampai saat itu Aku mengetahui dan Aku mengerti tentang kesendirianmu di dalam kamar sepi itu
Tapi saat ini Aku benar-benar tidak mengetahui dan hanya bisa membayangkan serta bertanya dalam diri, “apakah kamu masih tetap bernafas atau…”


kamu wanita yang menyendiri di kamar sepi dan berteman kematian!


 

cemburu

| Monday, April 14, 2008 by adiindie | ˜ 11 komentar »

Aku cemburu,
Kalau kamu berbicara tentang lelaki
Yang bisa menemani kamu dan mengusir sepi
Memberi waktunya, melepas senyuman

Aku cemburu,
saat kamu bilang, “Tadi dia memberiku sepotong mawar dan bisikan kata sayang.”
Hingga membuat hatimu berbinar
Dan kamu menyeringai

Aku cemburu,
Bila kamu dengan gigihnya bercerita
Tentang kisah cinta dari masa lalumu dengannya
Sampai-sampai kamu sumringah

Aku cemburu,
Dengan kamu yang selalu saja
Menatap senja disamping lelaki itu
Yang kini telah menjadi suamimu

Dan Aku cemburu
huh…


 

pilihan

| Friday, April 11, 2008 by adiindie | ˜ 2 komentar »

karena hidup adalah pilihan
maka dengan ini aku memilih
untuk tetap hidup
hidup bukan hanya sekedar bertahan hidup
tetapi hidup untuk membuat hidupku lebih hidup lagi
bukan untuk siapa-siapa
tapi hanya untukMu,
untukMu,
dan untukMu

semoga...


 

Tangisan Cinta

| Monday, March 31, 2008 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Selalu saja ada hal yang menyesakkan untuk kita nikmati sendiri, setelah kita mengetahui orang yang menyayangi kita berkata “Aku Sayang Kamu” dengan airmata membasahi pipinya di iringi sedikit isak yang tertahan.
Sebegitu kuatnya kah ketulusan seorang wanita dalam mencintai seorang lelaki?
Seakan di setiap tetesan airmata yang menetes secara perlahan itu, menandakan kedalaman dan ketulusannya dalam berkasih sayang.
Sungguh luar biasa!

Adalah kebodohan lelaki, yang menganggap ketabahan seorang wanita menjalani kisah-kasih cintanya sebagai sesuatu yang tidak pantas untuk dicerna sebagai ketegaran. Karena cinta seorang wanita datang bukannya tanpa perencanaan dan menghilang tanpa kesadaran.

Datang dengan senyuman dan berkembang menjadi jalinan-jalinan asmara di dalam hatinya, lalu terekam untuk waktu yang sangat lama. Berkembang dengan semangat dan kepastian-kepastian yang nyata akan mendapatkan imbalan kebahagiaan.

Tapi apa yang kini lebih sering di hadiahkan oleh seorang lelaki kepada seorang wanita?
Mereka mengajarinya dengan airmata bukan dengan canda dan tawa.
Mereka menjaganya bukan dengan selimut kasih tetapi dengan belaian hitam akan dendam.
Sungguh tidak adil.

Layakkah cinta bersanding dengan kekejaman?
Pantaskah seorang lelaki menghunuskan pedang kebenciannya di hadapan wanita yang mencintainya --dengan tulus?
Bolehkah kelembutan di hadapi dengan kekerasan?
Kesucian yang membaur dengan pekatnya kekotoran hati, yang tidak akan pernah menjadi sempurna keberadaannya.
Suci adalah bersih sedangkan hati yang kotor adalah biadab.
Sampai kapanpun tidak akan pernah bisa!

Begitu congkaknya seorang lelaki hingga merasa dirinya perkasa dan dapat dengan leluasa menguasai diri seorang wanita. Sungguh tidak bernuraninya seorang lelaki yang menindas dan memperkosa hak-hak wanita pencinta.
Sampai kapan seorang lelaki bisa tersadarkan bahwa seorang wanita adalah suatu keindahan yang harus selalu dapat kita jaga dengan belaian kasih sayang agar keharmonisannya dapat bersatu dengan nafas kita dan kita hidup dalam kesinambungan yang tertatur.

Ataukah seorang lelaki memang di lahirkan ke dunia ini hanya untuk menjadi perusak dan pencoreng keindahan cinta?

* * *


Apakah aku seperti itu? Bisa tidak bisa juga iya! Karena aku manusia yang juga memiliki gejolak hati yang tidak stabil. Aku tidak bisa membenarkan kalau aku adalah kebenaran yang selalu saja menganggap cinta dan kasih sayang adalah sesuatu yang sangat aku junjung tinggi dan selalu aku realisasikan setiap saat ke dalam kehidupan ini, tapi setidak-tidaknya aku menganggapnya sebagai sesuatu yang sampai saat ini aku jadikan pembelajaran hidup dimana aku mengambil secuil daripadanya tentang bagaimana tidak bermaknanya hidup tanpanya. Tanpa cinta dan kasih sayang.

Tapi aku juga tidak bisa terus menerus mengelu-elukannya sebagai sesuatu yang “wah” dan membuat seolah-olah cinta dan kasih sayang adalah kelembutan yang tidak bisa melukai, karena aku pun pernah merasakan bagaimana rasanya ketika cinta itu berubah menjadi sesuatu yang lebih ganas dari lahar, yang terus membara di dalam dadaku untuk waktu yang cukup lama dan tidak bisa terpadamkan oleh apapun. Ternyata cinta tidak bisa mempertanggungjawabkan keberadaannya yang dapat membuat manusia yang hidup di dunia ini menjadi seperti orang yang tidak waras.

* * *


Bukankah selama masih ada cinta di dunia ini berarti masih akan terus ada para pesakitan yang akan membuat cinta menjadi lebih pedih daripada sayatan silet di nadi ini?

Tapi permasalahannya, apakah kita hidup harus selalu mempersiapkan tameng-tameng untuk menangkis semua penderitaan yang akan dilontarkan entah oleh siapa saat kita mengenal cinta? Apakah kita setiap saat harus membawa senjata pembunuh penderitaan agar sebelum penderitaan itu menghampiri kita, terlebih dahulu kita membunuhnya?
Apa tidak bisa kita hidup tanpa kekerasan?

* * *


Ada satu kejadian dimana aku dapat merasakan besarnya kekuatan cinta terpancar benderang dari hati seorang gadis pecinta, dengan tangisannya yang berderai di malam kelam dan di iringi oleh isak yang sedikit tertahan, yang langsung dapat terbaca olehku bahwa cintanya sangat besar untuk kekasihnya. Begitu besarnya kekuatan cinta yang keluar dari kedalamannya itu, hingga aku tidak bisa menolak pancarannya itu masuk ke dalam hatiku dan seolah-olah dapat merasakan apa yang dia alami. Aku yang bukan pelaku, dapat menjadi seperti pelaku pecinta. Apa lagi kekasihnya?

Bukankah suatu anugerah yang sangat tidak ternilai bila kita dapat di cintai dengan setulus hati dengan pasangan kita?

Bodoh. Bodoh. Berkali-kali aku mencaci maki dalam hatiku sendiri, bahwa lelaki itu sangatlah bodoh karena malah mencampakkan cinta yang seharusnya dia terima sebagai suatu keberuntungan yang untuk di kehidupan sekarang ini sangat sulit untuk di temukan ketulusannya. Berkali-kali pula aku menerawangkan diri ini, bagaimana sempurnanya hidup aku ini bila sudah mendapatkan cinta yang terindah seperti yang dimiliki wanita itu. Betapa tentramnya. Betapa bahagianya bila wanita itu dapat aku miliki.

He.. He..



Nb:
Ren, kamu wanita tegar yang pernah aku temui, dan aku, ahh.. :p


 

Senyum Hitam

| Saturday, March 29, 2008 by adiindie | ˜ 4 komentar »

Aku ingat saat kamu terakhir kali tersenyum kepadaku. Saat itu langit sudah menghitam dan tak ada bintang. Di pekarangan rumah yang dipenuhi dengan bunga-bunga. Kolam ikan yang menyuguhkan gemericik air terjun buatan Ayahmu. Dua bangku dan diapit oleh satu meja kecil, yang di atasnya tersedia minuman cocktail dan voodcha. Kita minum tapi kita tidak mabuk.

Aku ingat saat kamu terakhir kali tersenyum kepadaku. Kamu mengatakan keikhlasanmu melepas semua ini dan melapangkan perasaanmu. Kamu juga bertingkah seakan-akan kamu tegar dan tidak lemah sambil menggenggam tanganku, dan kamu menatapku dengan miris, sementara Aku dengan tenang berucap dengan tulus:
“Selamat tinggal!”.

* * *


Kini, dua tahun sudah berlalu sejak perpisahan kita di malam itu. Entah bagaimana kabarmu kini. Seolah-olah kamu memang ingin menghilang dari kehidupanku. Atau mungkin kamu memang sudah tidak ingin Aku ganggu. Biarlah, Aku mengerti dengan keadaan ini. Keadaan dimana Aku terpaksa meninggalkan kamu, entah wajib atau karena Aku memang harus meninggalkan kamu. Karena sampai kini Aku pun tidak dapat menyimpulkan mengapa saat itu Aku harus mengambil keputusan yang sangat singkat. Meninggalkanmu tanpa sebab.

Lagi pula kamu tahu, walaupun diteruskan kita memang tidak akan pernah bisa bersatu. Tidak ada alasan untuk kita bersatu. Derajat kita berbeda. Mungkin dalam cerpen-cerpen atau novel-novel percintaan bergaya picisan yang bukunya laris bak kacang itu, selalu mengakhiri cerita dengan kebahagiaan si miskin dan kaya dapat bersatu karena cinta. Atau juga telenovela-telenovela, baik dari luar negeri atau pun dalam negeri kita sendiri yang mengisahkan bersatunya si miskin dan si kaya, yang dapat menyelesaikan problematika-problematika dengan kesulitan yang sudah digariskan menjadi mudah dan diakhiri dengan kebahagiaan dalam jalinan mahligai perkawinan yang aduhai.

* * *


Tapi kita tidak sedang dalam negeri dongeng, yang segalanya dapat dengan mudah terwujud. Kita tidak sedang dalam khayalan. Kita tidak sedang bermimipi. Dan akan Aku biarkan hari-hari ini menjadi kelabu dan tidak akan Aku biarkan warna-warna yang lain turut serta mencampurinya. Hitam tidak. Putih pun tidak.
Karena warna kelabu milikku ini utuh hanya untuk Aku dan tidak boleh dimiliki oleh orang lain.

Rasa sakit atau rasa terluka selalu saja ada, kita sebagai manusia memang di takdirkan untuk dapat menikmati kepedihan, walau dengan cara yang berbeda di setiap kesempatan.
Bahkan kita memang tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya bahagia bila kita tidak pernah merasakan rasa sakit – yang mendalam.

Dapat atau tidaknya kita hidup bersama orang yang kita kasihi hanya sebagian kecil dari proses kehidupan itu sendiri. Aku selalu tidak pernah berharap memandang keindahan dan rasa bahagia dari dapatnya Aku bersatu bersama cinta yang utuh, termasuk dengan kamu. Walau perasaan sayang ini tidak dapat Aku katakan tetap ada untukmu, Aku juga tidak memungkiri kalau rasa sayang ini tidak sepenuhnya menghilang.

Aku memang menyimpannya di salah satu sudut hatiku. Aku selalu mendukung lagu-lagu cengeng yang berkisah tentang cinta yang tak meski bersatu. Cinta yang tak harus memiliki. Aku setuju. Cinta selalu punya warna dan kisahnya sendiri. Karena cinta tetaplah cinta. Tergantung siapa yang memainkan siapa. Apakah kita yang memainkan cinta atau cinta sendiri yang mempermainkan kita.

Aku menulis ini, karena Aku memang sedang merindukanmu, mencoba mengenang kembali apa yang pernah terjadi di antara kita. Dalam tulisanku ini, sungguh tidak ada yang Aku harapkan, karena Aku sedang belajar bagaimana caranya agar Aku tidak berharap terhadap sesuatu yang tidak layaknya Aku harapkan menjadi kenyataan.

* * *


Ternyata walau hanya dalam kenangan kamu tetap saja dapat menjadi sesuatu yang indah. Indah, walaupun semu.
Bersama senyuman yang hitam menggelayut di wajah, aku mengenangimu. Sambil membodohi diri dan membodohi keadaan yang tidak pernah berpihak.



– dalam kenangan: Gadis Mariyuana!


 

TENTANG KERINDUAN

| Thursday, March 27, 2008 by adiindie | ˜ 4 komentar »

Ada kerinduan yang selalu saja datang saat aku sedang tidak ingin terusik oleh perasaan itu, tetapi apa mau dikata, kerinduan itu datang dan nyata hadir dalam kesendirianku.

Huh, selalu saja aku tidak dapat membunuh atau bahkan hanya sekedar untuk menahannya agar tidak menyerobot masuk ke dalam jiwa ini yang memang sedang membutuhkan kesendirian. Kenangan yang menghasilkan sebuah kerinduan akan terus abadi di dalam putaran alam bawah sadar yang dengan seenaknya sendiri, tidak mengenal waktu dan kondisi akan datang dan membunuh jiwa-jiwa yang sedang ingin kosong tanpa kenangan akan kerinduan.

Rasa rindu kadang dapat membuatku menjadi seperti orang tidak waras yang mencampur adukkan tangis dan tawa di saat yang bersamaan, menggabungkan teriakan kemenangan dan rintihan lirih yang menyayat di waktu yang sama. Malah lebih sering rasa rindu itu membuat aku tidak berdaya dan hanya bisa terdiam membisu dengan tatapan kosong dan hanyut dalam kenangan-kenangan yang melenakan, hingga seakan-akan jiwa ini melayang dari jasadnya dan terbang melewati lorong waktu dimana kenangan itu terjadi dimasanya dan aku ikut menikmatinya kembali.

Pfffhhh.. memang sangat tidak ada gunanya melawan kenangan akan kerinduan yang hadir dengan tiba-tiba itu, toh sesibuk apapun kita dengan rutinitas yang kita jalani, sekeras apapun otak kita berfikir tentang hari ini dan masa yang akan datang, kerinduan tetap saja akan merasuki jiwa kita melalui celah-celah yang tanpa kita sadari. Sampai detik ini tidak ada manusia super manapun yang dapat membuang kenangan akan sebuah kerinduan dari masa lalunya dan menghilangkannya dari sejarah hidupnya, benar-benar lenyap hilang tidak berbekas.

Ada saat-saat di masa yang telah kita lalui, entah beberapa tahun yang lalu atau seminggu yang lalu, ada kejadian-kejadian yang indah atau tiba-tiba saja menjadi sangat mengesankan saat dimasa kini kita terkenangnya. Dan masa-masa itu seakan-akan kita hidupkan kembali dan kita ulang kembali untuk dapat kita rasakan secara nyata seperti waktu dulu – walau hanya dalam lamunan. Selalu ada kerinduan yang hadir dalam nyata hidup ini.

Kerinduanku kepadamu juga muncul saat aku sudah benar-benar bisa melupakanmu dan menganggap kamu tidak pernah ada di kehidupanku. Tapi bayang-bayang saat kita sedang bersama, entah saat kita berdua melihat mentari terbit dari atas bukit, entah saat kita menikmati senja di pinggir pantai sambil duduk di atas pasir putih, entah saat kita bercanda atau berjalan bergandengan tangan, entah saat kita berpelukan sambil berciuman juga saat kita bertengkar dan kamu menangis, entah saat terakhir pertemuan kita yang menandakan juga akhir dari hubungan kita karena pengkhianatan cinta yang telah aku lakukan kepadamu..

Kejadian demi kejadian yang pernah kita lalui bersama kini muncul secara tiba-tiba dan menerawangkan pikiranku akan kejadian yang telah lalu. Sebenarnya aku ingin sekali berontak tapi aku tidak mampu jadi aku biarkan saja kenangan kerinduan tentang kita kini berada di dalam pikiranku.

Selalu saja ada hal yang pada akhirnya membuatku menjadi ingat kembali pada kenangan yang tidak seharusnya diulang kembali. Tapi apa mau dikata, sekali lagi, hukum alam telah mengaturnya sedemikian rupa dan aku tidak mampu berbuat apa-apa. Toh, kita memang dilarang untuk melawan hukum alam, karena memang semua sudah ada aturannya.

Betapa sebuah wangi parfum dapat menerawangkan pikiranku kepadamu dan menganggap kamu nyata ada di hadapanku, terlebih saat aku memejamkan mata ini. Betapa malam yang sangat indah dengan bintang-bintangnya dapat membuat bayanganmu hadir kembali bersamaku dan berdiri disampingku memeluk lenganku.

Kini, kurindukan dirimu dalam keutuhannya, wanita yang begitu sabarnya menghadapi kenakalanku dan begitu dalamnya mencintaiku dengan sedemikian rupa serta menerima segala keadaanku dengan apa adanya. Kurindukan sentuhan-sentuhanmu yang dulu sering aku dapatkan entah saat aku sedang bersedih atau aku sedang menikmati hangatnya candamu. Kelembutan senyumanmu yang selalu saja meluluhkan amarahku dan sejuknya tatapan matamu yang membuatku merasa menjadi orang yang paling sangat disayangi.

Kamu memang tidak tergantikan. Dan aku yang memang sangat bodoh mempermainkan kasih sayang yang kamu berikan kepadaku yang seharusnya aku jaga dan aku syukuri sebagai suatu kenikmatan. Tapi semua sudah berlalu. Kamu telah tiada. Dan aku hanya bisa mendapati dirimu hadir di kehidupanku dengan membuka hati ini dan membiarkan kenangan kerinduan itu hadir mendekap erat jiwaku yang nestapa.

Semoga. Dan aku yakin. Kau akan bahagia di alam sana.
Bersama keindahan kasih sayang yang kamu miliki.
Dan juga kasih sayang-Nya…


Dalam Kenangan & Duka,
adiindie


 

sungai dalam rupamu

| Monday, March 03, 2008 by adiindie | ˜ 5 komentar »










Kupandangi aliran sungai yang tenang ini

seketika itu juga ku bayangi kamu, cinta
betapa teduh dan menenangkannya
saat mataku bertemu dengan matamu

Dan kutelusuri sungai ini sejauh langkahku
menapak sambil kukhayalkan tentangmu, cinta
tentang bagaimana indahnya tubuhmu
yang kutelusuri di setiap lekuknya

Sampai ku temui senja yang gemerlap
memuncratkan kilau gemilang
samar-samar kulihat kau datang
membawa senyum rindu dalam lamunan


Sungai Batanghari,
01 Maret 2008


 

Menuju Akhir

| Sunday, March 02, 2008 by adiindie | ˜ 0 komentar »

jemari itu sangat hangat
menggenggam,
menuntunku
menyusuri lorong-lorong putih
sedikit menyilaukan

aku tidak tahu mau diajak kemana
tapi aku tidak dapat menolaknya
sentuhan itu
halus dan lembut
aku terhanyut

saat kubertanya kemana
kau hanya menjawab,
"istirahatlah kanda, tinggalkan dunia"
setelah itu hanya ada ledakan cahaya
dan aku tidak ingat apa-apa


pasarjambi
02 Maret 2008


 

Lautan Semangat

| Wednesday, February 27, 2008 by adiindie | ˜ 0 komentar »

tiba-tiba saja,
semua datang
menghampiri
berduyung-duyung

memberi canda
tawa tawa tawa

membawa bendera bahagia
balon-balon asmara
bersorak sorai
hore-hore

aku terpesona
tertawa tertawa tertawa


malakasari,
27 Februari 2008


 

Dan ini surat buat Bapak

| Monday, February 25, 2008 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Pak,
sama seperti saat aku melihat Emak yang sudah banyak berubah
diri Bapak juga sudah sangat berubah;
Bapak menua.

Padahal masih dapat aku ingat Bapak yang masih gagah dulu,
sering menggendongku saat Bapak mengajak Aku dan Abang jalan-jalan
mengelilingi jakarta;
ke monas dengan bis tingkat
ke kebun binatang ragunan dengan bus
pergi ke JakartaKota dengan menaiki kereta api
saat aku kelelahan Bapak pasti menggendongku
tapi kini Bapak juga telah menua seperti Emak
rambut Bapak telah memutih semua
keriput-keriput juga telah menggantikan
tapi aku belum juga pernah mengganti keadaan
aku belum pernah mengajak Bapak sekedar jalan-jalan
memutari jakarta yang sudah banyak berubah
tidak seperti dulu, saat Bapak mengajak aku jalan-jalan.

Harusnya Bapak tidak hanya dirumah saja tiap harinya
dan pergi ke pasar beberapa kali.
harusnya aku sudah bisa mengajak bapak
pergi ke monas yang sekarang tamannya lebih indah
juga ada rusa yang menempati satu sudut taman di monas
dan, Bapak pasti kaget dengan perubahan stasiun Jakarta Kota
yang sekarang juga lebih rapi
dengan lantai keramik yang bagus
ditambah lagi sekarang sudah ada terowongan untuk pejalan kaki
dari stasiun yang langsung tembus ke seberang, museum mandiri
(ya, kini gedung itu bernama museum mandiri, entah dulu apa namanya)

Tapi, yang masih aku salutkan sampai sekarang
Bapak masih tetap semangat
bahkan selalu terlalu semangat, hingga terkadang kau jadi sering kelelahan
semangatmu tidak pernah berhenti
masih tetap sama, masih tetap ingin menyempurnakan keluarga kita
agar dapat hidup enak.

Sudah setengah abad lebih usia Bapak sekarang
tidak layak Bapak sekarang masih bekerja keras
seharusnya Aku yang menggantikan tugas keluarga
Aku, Pak, bukan Bapak.
Tapi, bodohnya aku masih saja belum tersadarkan
dan masih juga bergantung kepada Bapak.

Stop, Pak.
aku ingin menstop semua keadaan ini,
aku malu, Pak.
aku malu masih belum bisa membahagiakan Bapak.
Tolong, Pak.
Tolong Bapak bersabar,
secepatnya aku pasti mampu membahagiakanmu, Pak.
Pasti.

Sekarang, aku ingin menelponmu, Pak
mendengarkan suaramu, dan memohon maaf untuk semua keadaan ini.


malakasari,
25 Februari 2008


 

Surat Buat Emak

| Thursday, February 21, 2008 by adiindie | ˜ 0 komentar »

Buat Emak.

Mak,
Maafkan kelakuan anakmu yang tak tahu diri ini.
Ya, Mak, aku memang sungguh tidak tahu diri,
karena setelah sekian lama kita hidup dalam kebersamaan,
baru semalam aku menyadari bahwa Emak selalu ada buat aku
dan bodohnya aku tidak pernah menganggap, apalagi memperdulikanmu, Mak.

Setelah sekian puluh tahun aku hidup bersamamu
baru semalam aku melihat wajahmu dengan seksama, Mak.
Wajahmu yang ketika tidur terlihat tenang, tanpa beban
padahal aku tahu, Emak yang sudah termakan usia
tetapi masih tetap gigih dan tidak mengenal lelah
selalu mencari cara agar dapat membahagiakan anak-anaknya.

Sedang aku, dengan segala kebodohannya,
masih saja tetap menyusahkanmu, Mak.
Masih membiarkan Emak bekerja keras
untuk membantu menghidupi keluarga kita.

Kerutan-kerutan di wajahmu, Mak,
yang malam itu aku lihat sudah menghapiri dan hinggap diwajahmu.
Menangis hatiku, Mak,
Menangis, seperti saat ini,
saat aku menulis sebuah ungkapan tentang kebodohanku ini
yang entah Emak akan bisa membacanya atau tidak
karena dari dulu sampai sekarang Emak tidak pernah bisa mengoperasikan komputer
apalagi main internet..

Emak kini sudah tua, usia setengah abad telah Emak lalui,
seharusnya Emak sudah bisa beristirahat
lepas dari segala kepenatan lepas dari kerja keras membanting tulang
ikut terhanyut dalam kerasnya hidup di jakarta.

Seharusnya Emak sudah bisa merasakan
yang dinamakan menikmati masa tua;
Bangun tidur seharusnya Emak sudah bisa duduk di kursi goyang
membaca koran hari ini sambil menyeruput teh hangat buatan bibi
Tapi dengan usia Emak yang sekarang ini
masih saja Emak sibuk melayani kehidupan kami
mulai dari memasak, mencucikan pakaian kami, membersihkan rumah-rumah,
dan menenangkan segala ketegangan yang seringkali terjadi diantara kami.

Dengan sabarnya Emak, melayani segala kebutuhan kami dirumah
Tapi aku tidak pernah memperdulikan kebutuhan untuk diri Emak.

hhh...
Secepatnya aku harus bertemu dengan Emak lagi,
dan bersujud di kaki Emak memohon maaf atas bahagia yang belum dapat aku beri.
Segera, Mak...


malakasari,
21 Februari 2008