Senyum Hitam

4

Aku ingat saat kamu terakhir kali tersenyum kepadaku. Saat itu langit sudah menghitam dan tak ada bintang. Di pekarangan rumah yang dipenuhi dengan bunga-bunga. Kolam ikan yang menyuguhkan gemericik air terjun buatan Ayahmu. Dua bangku dan diapit oleh satu meja kecil, yang di atasnya tersedia minuman cocktail dan voodcha. Kita minum tapi kita tidak mabuk.

Aku ingat saat kamu terakhir kali tersenyum kepadaku. Kamu mengatakan keikhlasanmu melepas semua ini dan melapangkan perasaanmu. Kamu juga bertingkah seakan-akan kamu tegar dan tidak lemah sambil menggenggam tanganku, dan kamu menatapku dengan miris, sementara Aku dengan tenang berucap dengan tulus:
“Selamat tinggal!”.

* * *


Kini, dua tahun sudah berlalu sejak perpisahan kita di malam itu. Entah bagaimana kabarmu kini. Seolah-olah kamu memang ingin menghilang dari kehidupanku. Atau mungkin kamu memang sudah tidak ingin Aku ganggu. Biarlah, Aku mengerti dengan keadaan ini. Keadaan dimana Aku terpaksa meninggalkan kamu, entah wajib atau karena Aku memang harus meninggalkan kamu. Karena sampai kini Aku pun tidak dapat menyimpulkan mengapa saat itu Aku harus mengambil keputusan yang sangat singkat. Meninggalkanmu tanpa sebab.

Lagi pula kamu tahu, walaupun diteruskan kita memang tidak akan pernah bisa bersatu. Tidak ada alasan untuk kita bersatu. Derajat kita berbeda. Mungkin dalam cerpen-cerpen atau novel-novel percintaan bergaya picisan yang bukunya laris bak kacang itu, selalu mengakhiri cerita dengan kebahagiaan si miskin dan kaya dapat bersatu karena cinta. Atau juga telenovela-telenovela, baik dari luar negeri atau pun dalam negeri kita sendiri yang mengisahkan bersatunya si miskin dan si kaya, yang dapat menyelesaikan problematika-problematika dengan kesulitan yang sudah digariskan menjadi mudah dan diakhiri dengan kebahagiaan dalam jalinan mahligai perkawinan yang aduhai.

* * *


Tapi kita tidak sedang dalam negeri dongeng, yang segalanya dapat dengan mudah terwujud. Kita tidak sedang dalam khayalan. Kita tidak sedang bermimipi. Dan akan Aku biarkan hari-hari ini menjadi kelabu dan tidak akan Aku biarkan warna-warna yang lain turut serta mencampurinya. Hitam tidak. Putih pun tidak.
Karena warna kelabu milikku ini utuh hanya untuk Aku dan tidak boleh dimiliki oleh orang lain.

Rasa sakit atau rasa terluka selalu saja ada, kita sebagai manusia memang di takdirkan untuk dapat menikmati kepedihan, walau dengan cara yang berbeda di setiap kesempatan.
Bahkan kita memang tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya bahagia bila kita tidak pernah merasakan rasa sakit – yang mendalam.

Dapat atau tidaknya kita hidup bersama orang yang kita kasihi hanya sebagian kecil dari proses kehidupan itu sendiri. Aku selalu tidak pernah berharap memandang keindahan dan rasa bahagia dari dapatnya Aku bersatu bersama cinta yang utuh, termasuk dengan kamu. Walau perasaan sayang ini tidak dapat Aku katakan tetap ada untukmu, Aku juga tidak memungkiri kalau rasa sayang ini tidak sepenuhnya menghilang.

Aku memang menyimpannya di salah satu sudut hatiku. Aku selalu mendukung lagu-lagu cengeng yang berkisah tentang cinta yang tak meski bersatu. Cinta yang tak harus memiliki. Aku setuju. Cinta selalu punya warna dan kisahnya sendiri. Karena cinta tetaplah cinta. Tergantung siapa yang memainkan siapa. Apakah kita yang memainkan cinta atau cinta sendiri yang mempermainkan kita.

Aku menulis ini, karena Aku memang sedang merindukanmu, mencoba mengenang kembali apa yang pernah terjadi di antara kita. Dalam tulisanku ini, sungguh tidak ada yang Aku harapkan, karena Aku sedang belajar bagaimana caranya agar Aku tidak berharap terhadap sesuatu yang tidak layaknya Aku harapkan menjadi kenyataan.

* * *


Ternyata walau hanya dalam kenangan kamu tetap saja dapat menjadi sesuatu yang indah. Indah, walaupun semu.
Bersama senyuman yang hitam menggelayut di wajah, aku mengenangimu. Sambil membodohi diri dan membodohi keadaan yang tidak pernah berpihak.



– dalam kenangan: Gadis Mariyuana!

4 comments:

Anonymous said...

Sudah ichlaskan aja ...
Kita tak pernah meminta sang fajar untuk terbit di pagi hari dan kita juga tidak pernah menyuruhnya untuk tenggelam diwaktu senja. Begitu juga cinta, kita tak perlu memintanya untuk tumbuh pada diri kita, karena ia akan tumbuh dengan sendirinya, dan kita juga tidak perlu bersusah payah untuk menhapuskan perasaan itu karena bila sudah tiba waktunya ia akan lenyap dengan sendirinya ...
----------
Salam kenal ya ...

Anonymous said...

Back again and checking you out. How are you?

purwa said...

kita akan merasa kehilangan, seandainya dia bener2 telah pergi dari sisi kita. Semoga dengan kita meng-ikhlaskannya, dia akan bahagia.

JustYulia said...

cinTa seLalu datAng tanPa dimiNta daN terKadaNg pergI taNpa berKata...

taPI buKan jaLangkuNg yaH.... ;P

saLam keNal juGa

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net