Mati Rasa

0

Apa benar dia menyayangiku? Atau dia hanya iba kepadaku?
Entahlah.
Segalanya terlihat samar-samar. Tidak jelas. Walau dia sering menyebut kata sayang, tapi tidak Aku merasakan rasa sayangnya untuk tubuhku ini, atau saat dia ada di sampingku, tidak ada getaran-getaran yang menandakan dia menyayangiku.
Aneh. Apa Aku mati rasa?
Atau Aku tidak mengetahui rasa sayang seperti apa rasanya?
Banyak orang bilang rasa sayang itu akan di ungkapkan dengan perhatiannya, kepeduliannya, kebaikannya,
Kesetiaannya (?), sentuhannya (mm..)
Dia pernah melakukan itu semua.
Nihil. Semuanya kosong.
Aku tetap tidak dapat merasakannya. Aku sudah mencoba dengan berbagai cara agar Aku dapat bisa menikmati rasa sayang yang dia miliki. Mulai dari menyayanginya dengan sepenuh hati,
Memberikan semua yang dia inginkan,
Menjaganya serta membuatnya agar dapat selalu tersenyum.
Agar dia merasa nyaman bersamaku, dan dia pasti secara alami pun akan memberikan sayangnya untukku.
Dan sampai saat ini, Aku ingin terus berusaha untuk mempercayai dirinya kalau dia memang menyayangiku. Aku terus berusaha beranggapan kalau Aku merasakan kasih sayangnya. Sampai akhirnya Aku membiasakan diri seolah-olah Aku sudah dapat merasakan rasa sayang tersebut.
Memang terasa enak, setidak-tidaknya Aku dapat mengurangi kegelisahanku, kegamanganku. Tapi hanya sesaat. Selebihnya kesia-siaan. Aku membodohi diri dengan membohongi nuraniku. Aku telah membuat sandiwara untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa bertahan dengan berpura-pura merasakan dia menyayangiku. Aku tidak bisa terus-menerus bersandiwara.
Sungguh, bukannya Aku berpura-pura tidak mengerti. Tapi Aku memang tidak bisa memahami tentang diriku, bagaimana ini bisa terjadi. Padahal Aku memang benar-benar ingin bisa merasakan, seperti dia merasakan sayang yang Aku berikan untuknya. Seperti mereka semua yang bisa saling sayang-menyayangi, tapi bagaimana caranya?
Harus dengan apa agar Aku dapat seperti mereka? Untuk sampai saat ini dia masih belum mengetahui tentang semua ini. Karena Aku tidak ingin dia terluka. Toh, tugasku memang hanya membuat dia merasa bahagia. Tapi, sampai kapan? Hati kecilku selalu ingin berontak dari penyiksaan ini dan ingin lekas memberi tahu kegalaukanku selama ini. Hanya saja Aku masih belum mampu melakukannya. Atau lebih dari itu, Aku tidak bisa.
Selalu saja Aku menjadi lemah bila harus di hadapkan dengannya. Wanita yang selama ini Aku sayangi. Yang selama ini Aku harapkan dapat Aku merasakan kasih sayangnya. Begitu banyak pengorbanannya selama ini. Tapi masih saja Aku merasa belum cukup dia menyayangiku. Sebegitu jahatnyakah Aku ini? Setega itukah? Jujur saja, Aku tidak ingin menyandang predikat seperi itu.
Bukankah Aku sudah bilang Aku sudah berusaha!
Tapi tetap saja tidak menghasilkan apa-apa.
Hanya keremangan, sesuatu yang sangat sulit untuk di terka. Yang selalu saja menimbulkan tanda tanya. Dan berbagai prasangka buruk. Baik yang menyangkut diriku atapun tentang dirinya. Apakah dia menyayangiku dengan tidak sepenuh hati, hingga membuat Aku tidak merasakan ketulusan kasih sayangnya. Atau lebih parah dari itu, hanya dengan rasa iba, ya, dengan dasar rasa kasihan dia mencoba menghiburku dan membahagiakan Aku dengan seolah-olah dia sangat menyayangiku? Oh… betapa kasihannya Aku bila memang itu yang terjadi. Dan seandainya memang demikian, untuk apa dia kasihan kepadaku? Sedang Aku juga kasihan terhadap dia yang beberapa kali melakukan pengorbanan untukku. Aku dan dia berkasihan-kasihan ria. Ya, sebegitu jauh pemikiranku tantang dirinya sampai memikirkan yang tidak-tidak. Sejarah kehidupanku dalam masalah cinta, seingatku, Aku memang pernah memadu kasih dengan yang lain dan tentu saja ini terjadi jauh sebelum Aku bertemu dengan dia. Aku bisa merasakan bagaimana Aku disayangi. Tapi sekarang sungguh beda. Sangat jauh seperti yang Aku bayangkan. Berbeda dengan yang Aku harapkan. Entah mengapa! Dimana kini getaran-getaran itu, yang mampu membuai Aku? Apakah Aku benar-benar telah mati rasa? Aku tak tahu!
Satu contoh kecil:
“Hallo sayang, kamu ada dimana? Sudah makan belum?”
kalimat-kalimat yang seharusnya terasa indah dan sangat bermakna bagi yang mendengarnya. Kalimat-kalimat yang menunjukkan perhatian dan kasih sayang. Memang bagi manusia yang normal akan terasa berjuta makna, melambungkan perasaan ke taman aneka bunga semerbak.
Tapi tidak begitu denganku. Aku merasa biasa-biasa saja, dan merasa tidak ada yang “wah” dengan kalimat-kalimat tersebut. Sungguh, Aku tidak berbohong. Aku berkata yang sebenarnya. Malah Aku jenuh, Aku bosan dengan kalimat-kalimat pengulangan. Tidak kreatif. Ya… tidak Aku pungkiri Aku juga pernah beberapa kali bersikap serupa. Tapi bukan karena kewajiban, hanya sekedar formalitas atau mungkin kasarnya, basa-basi. Nah! Bagi yang normal selalu berkata “perhatian adalah salah satu dari sekian cara mencurahkan kasih sayang.” Terkhusus bagi para pecinta. Lalu Aku? Apakah Aku tidak normal? Apakah hanya karena Aku tidak dapat merasakan kasih sayang dan dalam hal ini adalah perhatian, Aku dapat dikatakan tidak normal? Aku normal! Aku sama seperti yang lainnya. Beraktifitas sama. Sama-sama manusia. Tidak etis dong kalau Aku di katakan tidak normal sedangkan Aku sadar. Yang sangat jadi permasalahan adalah hatiku. Aku tidak tahu ada apa dengan hatiku. Aku bingung. Aku menjadi aneh dengan keanehanku. Maaf ya, maafkan Aku. Mungkin Aku memang butuh waktu untuk memperbaiki kerusakan pada jaringan hatiku.


10-14 Februari 2005

0 comments:

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net