TEMAN KEMATIAN

6

Saat Aku membayangkan kamu di sudut kamar itu
Aku tahu airmata yang indah itu mengalir
melewati halus pipimu dan juga melewatii lututmu
Tatkala kamu terpaku menatap kosong kekelaman
Bertopang dagumu dengan lututmu menunduk matamu
tak kuasa menahan beban isi di kepala tentang hidup
Aku tahu kamu tersiksa di sana:
Termenung dalam kesendirian mengharap asa

–Saat itu pula Aku ingin berada di dekapanmu membelai panjang rambutmu yang terurai
menyeka titik-titik airmata diantara celah lesungmu membisikkan syair-syair tentang cinta
agar kamu bahagia agar Aku dapat melihat senyummu kembali terkembang–

Tapi Aku tahu, disana kamu tidak ingin terganggu oleh siapapun oleh apapun
Karena rasa sayang terhadap selain dirimu yang tak ingin mereka terluka olehmu
dengan membagi penderitaanmu dengan yang lainnya…

Aku membayangkan suatu ruang yang ditempati olehmu;
dinding-dinding berlumut,
sarang laba-laba yang menutupi bingkai- bingkai usang,
buku-buku berserakan di lantai-lantai berdebu
di temani kecoa-kecoa yang bersarang di bawah tempat tidur,
cicak-cicak bertelur di dalam jam dinding yang sudah tidak lagi berdetak.

Aku tahu kamu memang lebih suka di sana sendiri berteman kematian…

Di dalam kamar itu kamu tidak pernah bersuara
untuk menyuarakan keluhan-keluhanmu
Kamu tenang seperti angkasa di malam hari
dan tak ada gerakan-gerakan yang berarti

Sampai saat itu Aku mengetahui dan Aku mengerti tentang kesendirianmu di dalam kamar sepi itu
Tapi saat ini Aku benar-benar tidak mengetahui dan hanya bisa membayangkan serta bertanya dalam diri, “apakah kamu masih tetap bernafas atau…”


kamu wanita yang menyendiri di kamar sepi dan berteman kematian!

6 comments:

Kristina Dian Safitry said...

kalu masih "bungkam alias tak mau berbagi penderitaan" ya relakan saja. yag penting kit atetap berdoa, mudah2an gak ada apa apa. khan begichu tho??

astrid savitri said...

Adoh...dalem!

Anonymous said...

seremmmm amat sihhh...mana bacanya malem2 lagi aku

Anonymous said...

trus, siapakah dia???

Anonymous said...

Wah ternyata anda juga menggunakan senja sebagai simbolisasi ya...
Buat saya mentari senja akan tetap terlalu menyilaukan untuk dimiliki oleh mata-mata yang terpana...
*halah* (maaf jadi ikutan puitis)

~AdmiringSenja~

Kang Boim said...

yang harus membacanya berulang-ulang biar tahu maksud nya....pemilihan bahasa yang bagus...
salam kenal

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net