Beri Aku Cahaya

0
December 29, 2006
Sinarmu hilang di kehidupanku
Duniaku gelap tanpa setitik cahaya
Berjalan merayap menyeret langkah
Entah kemana entah ada dimana

Tuhanku, yang Maha Menguasai Cahaya
Pendarkanlah sedikit sinar-Mu untukku
Untuk duniaku dan kedalaman hatiku
Agar benderang dan ku tahu langkahku


Salemba Tengah, 29 Desember 2006

0 comments:

Malam, dan Aku Semakin Renta

December 10, 2006
Detik-detik berlalu dengan menggebu
Berganti menjadi jutan malam
Ribuan kali bulan sabit berubah
Menjadi purnama dan menjadi sabit kembali

Bintang-bintang angkasa menua
Dan jatuh berceceran di beberapa sudut bumi yang lain, padam.
Angin mati, tapi waktu tetap berlari
Pengap semakin menjadi
Dan aku semakin renta, rapuh.

Detik-detik bermaraton sendirian
Tanpa ada tujuan akhir
Memang seperti inikah hidup
Tak tahu kapan memulai dan kapan harus berhenti?
Aku lelah, ingin istirahat
Tidur nyenyak dan panjang..


Duren Sawit,
10 Desember 2006

Hujan Kenangan

0
December 07, 2006
Siang ini hujan. Deras. Dingin tidak dapat aku elakkan. Masuk ke dalam pori kulitku. Membuat aku mengigil..

Para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor banyak yang menepi, mencari tempat berteduh. Disalah satu minimarket yang berkanopi cukup luas, di toko-toko dan ruko-ruko yang berkanopi seadanya. Asalkan tidak terguyur derasnya hujan. Walaupun tetap saja kencangnya angin membuat tubuh dan wajah mereka terkena tamparan-tamparan halus air.

Ada beberapa dari mereka memilih melanjutkan perjalanan karena sudah terlanjur basah kuyup atau mungkin karena tergesa-gesa oleh sebuah janji atau karena memang ingin menikmati dingin air hujan atau juga karena memang ingin melanjutkan perjalanan tanpa alasan apa-apa karena hidup adalah suatu perjalanan tanpa henti yang harus tetap di tapaki walaupun aral banyak mengusik merintangi gerak laju langkah kita.

Hujan disiang ini menerawangkan ingatanku pada satu tangisan yang sangat lirih. Menyesakkan. Tangisan seorang wanita di suatu malam. Malam dengan luka. Malam yang tidak seperti biasanya. Wanita yang kucintai menangis karena aku menghujamkan luka di hatinya.

Luka karena pengkhianatan hatiku. Tangisan itu sungguh memilukan dan terasa begitu menyayat. Mengiris. Bagaimana bisa seorang pecinta menjadi seperti seorang pembunuh. Pembunuh jiwa.

Siang ini kurasakan perasaan seperti dimalam itu. Tangisanmu terasa nyata. Kepedihan itu sungguh dapat aku rasakan kembali. Kenangan itu kembali dan mengcuat menjadi nyata. Hhh…

Kusumpahi dan kucaci maki diriku. Kubenturkan kepalaku ke tembok basah hujan. Berkali-kali. Tapi tak terpuaskan. Dosa ini tak terampuni!
Satu kesempatan emas telah terlewatkan begitu saja dengan menyisakan penyesalan yang berkepanjangan, sampai kini. Hujan kenangan menenggelamkan tubuh nistaku kedalam kubangan sesal. Masih pantaskah aku meminta sedikit keadilan untuk sebuah pengampunan?

Jutaan kalimat telah tercipta dengan sendirinya, mengalir seperti anak sungai. Semua ucapan penyesalan telah tertulis tanpa tertinggal satupun dengan satu harapan: maaf! Maafkan aku.. maafkan aku..
Hujan siang ini sungguh seperti malam itu. Terkutuk diriku.


Dalam kenangan: Renjani.
Somewhere Place, awal Desember 2006

0 comments:

Lukisan Bayangan

December 03, 2006
Kulukis malam dengan arang
Lalu ku arsir setiap lekukan gelapnya
Juga dengan arang
Kuteliti setiap sudut malam
Setelah itu
Ku telusuri setiap sudut lukisanku.

Ohh, aku lupa!
Ku bingkai lukisan malamku dengan lis hitam ukiran rembulan
Agar menawan yang pastinya
Jadi! Lukisanku telah selesai!

sempurna, dan aku lega..
Lalu aku taruh lukisanku di dalam gudang yang selalu ku kunci rapat
Tanpa cahaya
Dan tanpa udara
Bersama lukisan-lukisan malam
Yang kemarin…


Duren Sawit
03 Desember 2006 - 23:57

Nyanyian Hujan (Rindu)

0
December 02, 2006

Nyanyian hujan mendayu-dayu
Meratap mengemisi kehangatan
Yang hilang berganti gigil
Beku dalam dingin, dalam dingin.

Rintikan air jatuh dengan lambat
Memilih sendiri atau bergabung
dengan rintik yang lain di sebelahnya
Sebelum akhirnya terdampar bersama malam

Hujan bernyanyi tentang kerinduan
Tentang hangat yang telah padam
Hujan menangis dan terus bernyanyi
Sunyi dalam gelap, dalam malam

Dimana hangat, hujan bertanya dengan sunyi
Tik..tik.. hanya terdengar tetesan
Air hujan membentur aspal hitam
Selebihnya tak ada jawaban

Tapi hujan terus bernyanyi
Dan terus menangis…








Salemba Tengah, Awal Des 2006

0 comments:

Kangen

0
December 01, 2006
Dan, bintangpun menghilang
Semesta menghitam
Setelah sebelumnya purnama meredup dan lenyap
Di ikuti lampu-lampu malam di bumi

Malam disepuh hitam
Mataku terpejam dalam-dalam
Hati kututup rapat
Otakku tetap saja melayang

Lagi-lagi kamu datang dalam lamunan
Huh,


Salemba Tengah
01 Desember 2006

0 comments:

Khayalan Biru

0
November 18, 2006
Biru,
Seperti langit siang
Membawa kecerahan
Walau kadang memberi kegerahan
Hatimupun biru,
Seperti langit siang
Selalu membuatku ceria
Walau kadang mendapat sedih

Kadang cerah kadang gerah
Kadang ceria kadang sedih

Tapi tetap saja aku mencinta
Walau mencinta khayalan
Toh, masa bodoh dengan kenyataan
Yang membuatku menderita

Aku menyayangi khayalanku
Khayalan mencintaiku
Aku dan khayalanku saling mengasihi
Satu hal: Aku Tidak Gila!!


Salemba Tengah
18 September 2006

0 comments:

Perjalanan Luka 3

0
November 15, 2006
Bangku taman ini masih sama seperti satu bulan yang lalu, tidak berubah tempat. Tepat menghadap tugu monas yang berdiri tegak seperti melambangkan keangkuhan. Aku menatap dengan kagum tugu monas yang berkilau megah karena disorot lampu tembak dari berbagai sudut. Beberapa pohon palem juga menancap mantap beberapa meter tidak jauh dariku. Salah satu pelepah dari salah satu pohon palem itu mengering, bergelayutan dan hampir jatuh. Mungkin dengan sekali tiupan angin kencang akan benar-benar terlepas. Tapi angin di malam ini tidak berhembu dengan kencang, melainkan sepoi-sepoi. Dan tetap dingin. Ya, dingin.

Dari tempat ku duduk rembulan membentuk sabit tetapi terhalang oleh pelepah-pelepah palem. Posisi rembulan itu ada disebelah kiri tepat bersebelahan dengan tugu monas. Ada tiga pasang muda-mudi duduk diatas rumput. Dua lelaki memainkan gitar dan satu lelaki yang lain memainkan tam-tam. Sedang para wanitanya bertepuk tangan, semuanya bernyanyi;

kemesraan ini janganlah cepat berlalu
kemesraan ini ingin ku kenang selalu

hatiku damai jiwaku tentram disampingmu
hatiku damai jiwaku tentram bersamamu...

Seorang wanita tiba-tiba membuka tas dan mencari-cari sesuatu. Dapat. Dikeluarkannya dua buah lilin jumbo, yang satu berwarna merah dan yang satu lagi berwarna biru. Dinyalakannya dengan korek api lalu ditaruhnya kedua lilin itu ditengah-tengah diantara mereka. Suasananya kian menjadi hangat. Ditengah nyanyian salah satu wanitanya menoleh kearahku. Kami saling berpandangan. Dia tersenyum dan aku pun tersenyum. Tidak lama, lalu dia menolehkan pandangannya kembali keteman-temannya dan kembali bernyanyi. Kualihkan pandanganku juga, keatas langit dan entah mencari apa. Kupejamkan mataku. Bayangmu kembali hadir.

Masih terasa hangat suasana itu, saat dibangku taman ini kamu tidur berbaring disampingku. Mungkin terlelap. Karena lelah berjalan dari stasiun kemayoran, mampir ke pasar baru untuk mencari makanan buka puasa. Lalu jalan lagi ke Masjid Istiqlal untuk sholat maghrib. Dan setelah itu kita kesini untuk yang kesekian kalinya. Duduk menyandarkan tubuh dibangku taman memejamkan mata dan tidak lama tubuhmu kamu baringkan disebelahku, tidur. Malam itu hanya ada sedikit obrolan. Ya, kamu lebih banyak tidur, sedangkan aku terjaga. Menulis puisi tentang malam, monas, dan kita.
Sesekali kubelai wajahmu, kutatap ada ketenangan dan kedamaian terpancar dari wajahmu. Hhmm, bersamamu ternyata dapat menyejukkan hati ini, tentram dan nyaman. Di malam itu ada kejadian lucu, berkali-kali kamu meminta kita pulang, tetapi berkali-kali pula kamu berbaring dan tertidur lagi.

Nyamuk menggigit pipi kananku. Aku tersentak kaget. Kutepuk pipiku dan kubuka mataku. Hhhh, aku sendiri.

Tatapanku masih agak buram. Karena terlalu lama memejamkan mata, mungkin juga tertidur. Entahlah. Tiga pasang muda-mudi sudah tidak ada, entah kemana. Kini berganti dua anak kecil sekitar berumur lima tahunan, dua-duanya perempuan. Mereka sedang asyik berkejar-kejaran. Lompat-lompatan. Terlihat sangat polos, tidak jauh dari mereka kedua orangtuanya memperhatikan dengan seksama sambil bersandar di batang pohon palem. Mataku terasa basah. Betapa bahagianya mereka. Bibirku gemetar menahan airmata agar tidak jatuh. Tetapi tidak bisa. Kubiarkan ia menetes. Kubuka kacamataku lalu ku usap mataku. Begitu cengengnya aku ini.

Dimana kebahagiaan itu kini berada? Kebahagiaan datang hanya untuk pergi. Dan akulah yang membuat kebahagiaan itu menjauh dariku. Aku yang begitu bodoh memperlakukan kebagiaan itu hingga ia tidak betah menetap terlalu lama di keseharianku. Menyesal tiada arti. Tetapi tetap saja aku menyesal. Andai... andai... khayalan yang percuma. Seringnya aku berandai tapi ternyata hanya menjadi omong kosong karena apa yang aku lakukan sangat jauh berbeda dengan apa yang aku omongkan. Bullshit.

Malam terasa panjang. Aku harus tetap melewatinya walau dengan kesendirian. Kesendirian. Hal yang paling menyesakkan untuk dialami. Tapi apa mau dikata, aku harus menerimanya. Salah satu konsekwensi dari satu ketololan perbuatanku. Semilir angin malam menampar wajahku. Dingin. Aku bangkit dari bangku taman. Kutatap bangku taman sesaat. Tersenyum miris. Lalu aku pergi. Aku memang harus pergi. Meninggalkan kenangan untuk sementara atau mungkin untuk selamanya.

Malam di monas hampir sama seperti malam di ancol. Disini juga hampir di setiap sudut entah dibangku-bangku taman, duduk di rerumputan, tangga pagar monas, teras kolam air mancur, bawah pohon ketapang, dibawah patung kartini, para pecinta asyik memadu kasih. Sama seperti di ancol beberapa hari yang lalu dan di kebun raya cibodas awal bulan ini. Di monas malam ini aku pun sendiri. Menikmati kesendirian bersama kenangan yang masih selalu hadir dengan dingin. Dan masih berharap dapat kembali menjadi hangat dan menggelora.

Aku selalu membuka tangan ini untuk kamu datang kembali kedalam pelukanku. Aku berharap.


dalam kenangan: Renjani
Taman Monas, Nov 2006

0 comments:

Tawa Dalam Kesendirian

0
October 22, 2006
Haha…
Lagi, masa lalu datang dengan membawa kejutan-kejutan
Yang walaupun sudah dapat di kira akan terjadi tetap saja menimbulkan perasaan mengenaskan
Dan aku hanya bisa menghela nafas. Panjang. Huuhhh…
Ternyata kesendirian ini masih terus membuntutiku, dari dulu hingga saat ini.
Tidak pernah bosan.

Haha…
Awalnya aku berfikir bahwa kesendirian telah lelah bergelayutan dipundakku
Hingga akhirnya dia memilih melepas dan menjauh dariku, karena berbondong-bondong keramaian dan keceriaan menghampiriku, bermain-main lalu menetap bersama hari-hariku.
Tapi tidak, ternyata kehadiran merekapun hanya sementara. Tidak lebih hanya sekedar penghibur.
Dan kini kesendirian datang kembali menyergapku dari belakang lalu memasuki jiwaku.

Haha…
Apakah ada yang lebih mengenaskan di kehidupan ini selain kita yang bersahabat dengan kesendirian??!
Yang berdiri ditengah keramaian tetapi terasa sendiri, terasa kosong, terasa sunyi, seperti berada di kota mati?
Ada di sekeliling orang-orang tercinta tetapi tidak merasakan kehangatan dan juga kebersamaan?

Haha…
Kesendirian menghampiriku lagi
Aku tidak mampu berbuat apa-apa…


Jakarta Timur
22 Oktober 06

0 comments:

Perjalana Luka 2

0
October 17, 2006
malam ini kembali sadari ku sendiri
gelap ini kembali sadari kau t'lah pergi

Langit disepuh kelabu hampir merata, gulungan ombak menampar batu-batu yang tersusun rapi memanjang ke arah lautan membuat aluanan nyanyian mendayu-dayu. Angin berhembus lembut membawa wangi asin, membelai pelepah kelapa dan membuatnya saling bergesek-gesekkan lalu membuat irama yang terdengar seperti mengiris dan meringis. Kapal-kapal berlayar entah kemana, sesekali terdengar entah dari mana suara peluit kapal yang terdengar seperti rintihan panjang dan tak berkesudahan. Senja, bersinar dengan lemah hanya sesaat lalu tertutup rapat oleh awan kelabu, langit perlahan demi perlahan meremang dan akhirnya menghitam.

Aku masih sama seperti satu jam yang lalu, duduk diatas tumpukan batu memandang lautan, memandang langit dan mencoba memandang masa depan dengan bayangan yang samar-samar.
Aku tepat berada disini, seperti tahun lalu pada kali kedua kita ketempat ini duduk berdua menikmati lautan sambil memakan nasi padang. Dan aku, kamu suapin dengan tanganmu. Bercerita ini dan itu sambil sesekali bercanda dan tertawa. Setelah itu kita bergegas mencari musholla untuk menunaikan sholat maghrib. Lalu perjalanan kita lanjutkan menuju tempat kesukaan kita; jembatan yang membawa kita seperti berada di tengah lautan. Jembatan cinta.
Suasana malam dipantai memang terasa sangat mendamaikan dan bersamamu sungguh menyenangkan.

Detik ini, ditempat ini aku sedang mengingati dirimu sambil terus tersenyum dan tiba-tiba menitikkan airmata setelah tersadar ternyata sekarang aku sendiri dan kamu telah pergi...

malam ini kata hati ingin terpenuhi
gelap ini kata hati ingin kau kembali

Angin malam semakin menggigilkan tubuhku, kupejamkan mata dan ku hirup angin sedalam-dalamnya lalu kutahan nafas ini setelah itu kubuang secara perlahan-lahan. Senja berlalu tanpa kata tanpa menyisakan rasa damai seperti dulu saat kamu masih ada disampingku dan kita sering melewatkanya bersama berdua.
Malam kelam tanpa bulan, sejauh mata memandang hanya hitam, hanya satu-dua bintang yang bersinar redup. Lampu-lampu disepanjang pantai menyala dengan cahaya yang meremang.

Aku berjalan menyisiri jalan yang pernah kita lalui. Didepanku sepasang pecinta berjalan sangat lambat. Tangannya saling bergenggaman erat seakan-akan takut dan tidak ingin saling terpisahkan. Aku melaluinya dengan senyuman pahit. Dulu, aku dan kamu juga seperti mereka, saling menghangatkan dikala kita merasa dingin. Tapi saat ini aku hanya bisa memasukkan telapak tanganku kedalam saku celana untuk mengusir dingin yang meraja.

Lagi-lagi airmata ini mengalir dengan sendirinya. Ternyata, aku masih sangat menyayangimu dan aku sangat membutuhkanmu. Hari-hari yang aku lalui sungguh sepi dan tidak berarti tanpamu. Aku merindukan genggaman tanganmu dan pelukan hangatmu saat tubuh ini menggigil.
Aku sangat ingin kamu kembali...

hembus dinginnya angin lautan
tak hilang ditelan bergelas-gelan arak yang kutengggakkan

Walau aku sudah memakain sweater, tetap saja aku merasa kedinginan. Ternyata bukan hanya tubuh ini saja yang terasa dingin tetapi jiwa ini juga terasa sangat dingin bahkan seperti membeku. Dingin dan juga hampa. Tanpa adanya dirimu.

malam ini ku ucap berjuta kata maki
gelap ini ku bernyanyi lepas isi hati

Aku masih melangkahi kaki ini dengan berat dan lambat, seakan-akan setiap langkahnya ingin aku nikmati dengan dalam. Nyanyian binatang dan serangga malam saling bersautan seperti orkestra membawakan lagu duka. Simfoni tentang luka. Miris.

Tiba-tiba bayangmu hadir dan menjadi sosok yang nyata berjalan disampingku. Dan kau pun menoleh ke arah ku sambil tersenyum sangat manis sekali tetapi pipimu basah oleh arimata yang terus mengalir. Setelah itu kamu menghilang sebelum sempat au membelai pipimu.
Airmata itu, aku yang membuat airmata itu mengalir di wajah indahmu. Aku yang merusak keindahan cinta kita berdua. Kemunafikan diri ini mengkhianati cinta kita.

Aaaaarrggggggggghhhhhh.........
Aku berteriak mencaci diriku sendiri dengan jutaan sumpah serapah tetapi aku masih belum merasa puas. Dosa ini terlalu besar kepadamu. Wanita dengan keindahan cinta yang tiada tara.
Bodoh, aku begitu bodoh hingga melukaimu. Dan kini aku sungguh menyesal...

malam ini bersama bulan aku menari
gelap ini di tepi pantai aku menangis

Sekarang aku sudah berada disini, di jembatan cinta ini. Biarlah aku menyebutnya begitu karena di jembatan ini banyak pasangan pecinta memadu kasih. Rembulan bersinar tetapi tersamar oleh awan tipis yang menutupi sebagian tubuhnya. Ombak masih bernyanyi bahkan kini dengan alunan yang sangat sedih aku lewati pasangan pecinta yang entah sedang memperdebatkan apa, dengan acuh. Kita juga pernah berdepat disini, banyak masalah yang kita uraikan ditempat ini, ada tawa dan ada juga airmata. Banyak kisah kau ceritakan kepadaku. Ada canda dan juga ada duka, banyak juga kita buat kisah disini.

Kulepaskan pandanganku ke hempasan laut yang luas dibatasi garis, langit seakan ingin bersatu dengan lautan. Seperti aku yang juga ingin bisa bersatu bersamamu kembali seperti dahulu. Hatiku terasa kosong. Kehidupanku juga terasa kosong. Setelah kamu pergi dari kehidupanku, banyak yang aku rasakan menghilang dari hari-hariku.

tanpa dirimu dekat disisiku
aku bagai ikan tanpa air

Banyak impian-impian kita yang pada akhirnya kini hanya menjadi khayalan. Terlalu banyak mulut ini mengeluarkan kata-kata manis tanpa ada pembuktian yang nyata. Penyesalan, sekarang hanya ada penyesalan. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan diriku yang telah sedemikian rupa menghancurkan hatimu. Aku belum tahu bagaimana caranya menghilangkan rasa sakit di hatimu, akupun belum tahu dengan cara apa aku bisa merebut hatimu agar bisa aku miliki lagi seperti dulu...

tanpa dirimu ada dimataku
aku bagai hiu tanpa taring

Malam dipantai. Hening. Aku meratapi kesendirian dengan mencoba untuk tenang. Nafasku terasa berat, sesak. Walau aku tahu ini kesalahanku, tetapi egoku ingin tetap menang. Aku ingin kamu tetap menjadi milikku dan aku tidak ingin kamu meninggalkanku, karena walau bagaimanapun kamu telah menjadi bagian dari hidupku dan aku masih sangat mencintaimu...

tanpa dirimu dekap dipelukku
aku bagai pantai tanpa lautan

Sungguh, seandainya waktu dapat diputar tidak akan aku memperlakukanmu semena-mena hingga kamu terluka dan menderita. Seharusnya juga aku bisa lebih bersabar menghadapimu dan tidak mencampakkanmu, aku juga harus bisa lebih menjaga hati ini agar tidak mudah tergoda dengan hati yang lain. Tetap fokus dan memelihara kasih sayang yang sudah lama kita bina.
Padahal sangat tidak mudah menaklukan hatimu, butuh waktu berbulan-bulan untukku dapat memilikimu dan memiliki utuh kasihmu. Tapi ternyata, hanya membutuhkan waktu yang sangat sebentar untuk menghancurkan kembali cintamu yang sudah kumiliki. Lebih berat menjaga daripada mendapatkan cinta dan kasih sayangmu.

Kini aku menyesal dan waktu tidak akan bisa diputar walau aku memohon-mohon bahkan menangis meraung-raung. Semua telah berlalu. Tetapi aku masih memiliki harapan yang besar kalau kita bisa bersatu lagi dan memulai semuanya dari nol lagi. Mari kita bina lagi kisah kasih ini agar kita bisa menikmati senja dipantai juga memandang bintang-bintang yang berkerlap-kerlip diatas jembatan cinta yang kini aku singgahi, sendiri.

Udara malam makin dingin, makin menggigilkan tubuh, disudut jembatan kulihat sepasang pecinta saling berpelukan erat dan dengan penuh kasih. Disudut jembatan yang lain kulihat pasangan cinta yang lain duduk berhadapan saling bercanda mengelitiki satu dengan yang lainnya, keduanya tertawa riang penuh cinta, setelah lelah kulihat si wanita membaringkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di atas paha si lelaki, tangan si lelaki juga tidak ambil diam, dia membelai lembuh wajah dan kening si wanita, terasa penuh kasih. Aku tersenyum sambil menarik nafas, dalam. Kualihkan wajahku, menunduk. Samar-samar kulihat ikan yang saling berkejaran lalu menghilang ditelan gelap. Hhhh.. kutarik nafas panjang lagi, kutatap angkasa. Bulan telah menghilang dan bintang-bintangpun tidak ada yang bersinar.

Kesendirian ini begitu menyakitkan, terutama di malam ini.
Betapa aku membutuhkanmu.
Teramat sangat membutuhkanmu.

kembalilah kasih...
kembalilah kasih...

Dalam kenangan: Renjani
Pantai Ancol, Nov 2006

0 comments:

Malamku dan Malam di Monas

0
October 08, 2006



Malam ini aku kembali kesini,
menyatukan lagi kerinduan yang telah lama terpisah
Disini, di tempat ini...

Ditempat ini,
dibangku taman yang dihiasi lampu taman yang temaram
Disini,
ditemani lagu-lagu sendu tempo dulu
Yang dimainkan anak-anak remaja yang duduk diatas rerumputan
dan bersandar dibatang pohon palem
Disini,
yang juga ada kamu yang kini sedang tertidup disamping kiriku,
terlelap.

Aku satukan jiwa ini bersama malam
Dan berharap tidak ada lagi jahannam
Yang datang dan menghujam, dalam

Tuhan, biarkan aku dalam damai ini
Walau hanya untuk malam ini
--dan tetap berharap untuk malam-malam berikutnya.
Damaikan aku dengan malam dan dia
Wahai kebahagiaan, jangan cepat berlalu
Temani aku sampai nanti aku terlelap dalam keabadian

Saat ini, malam ini, aku hanya ingin bahagia
Dan tentunya dengan kamu, hai kasih..



Monas malam, 08 Oktober 2006

0 comments:

Dan Renjani pun Tersenyum,

0
August 27, 2006
Sebenarnya, saya sangat malu untuk mengakuinya. Ternyata kini saya juga sangat menyayangi saudara. Saudara memang benar-benar keras kepala dan sangat berani, hingga bisa membuat hati saya luluh. Entah mengapa bisa seperti ini, saya bisa-bisanya jadi jatuh hati sama saudara yang notabenenya bukan tipe saya. Kini saudara berhasil, dan saya kalah. Saudara mampu membuat saya klepak-klepek dengan segala perbuatan saudara, perbuatan yang tidak pernah saya bayangkan akan berbalik menjadi indah. Dasar, saudara ini bisa saja membuat saya menjadi bertekuk lutut.

Pada awalnya sedikitpun tidak pernah terbersit dihati ini akan bisa menjadikan saudara sebagai kekasih saya, bukankah dari awal saudara tahu kalau saya tidak sedikitpun menyukai saudara.

Tapi mungkin memang benar kata para psikolog pujangga yang sudah hidup di jaman purba kalau cinta bisa tumbuh dari rasa benci. Dulunya benci sekali tapi pada akhirnya jadi cinta sekali. Dan kini aku memang benar-benar merasakannya.

Saya yakin, saudara pasti senang sekali mendengar pengakuan saya. Inikan yang saudara harapkan, saudara berhasil. Kini saya serahkan kepada saudara ingin saudara apakan hati saya yang sekarang ini, yang juga membutuhkan saudara. Tidak muluk-muluk yang saya harapkan dari saudara, saya hanya ingin saudara bisa menjaga hati ini, saya tidak ingin saudara menyia-nyiakan rasa sayang yang saya miliki untuk saudara ini. Dan saya yakin saudara juga punya keinginan yang serupa dengan saya, toh perjuangan saudara memang sangat berat untuk dapat meluluhkan hati saya dan sangat disayangkan bukan bila saudara tidak bisa merawat hasil perjuangan saudara.

Maafkan semua kekasaran yang dulu saya lakukan kepada saudara, habisnya saudara itu tidak pernah ada habisnya mendekati saya, mencoba dan terus mencoba. Belum lagi saat itu situasi hati saya memang sedang tidak menentu, situasi dimana saya memang sedang tidak mau berhubungan dengan perasaan yang menjurus kearah cinta dan embel-embelnya. Tapi ya sudahlah jadi malu kalau mengingatnya lagi. Saudara memang kebal sekali dengan segala sumpah serapah yang saya hunuskan kepada saudara, saudara memang pantang menyerah. Itu yang membuat saya menjadi kagum terhadap saudara. Perasaan awal yang kini berkembang menjadi rasa cinta.

Sudah dulu, nanti saya sambung lagi ya saya masih ingin tersenyum menyadari yang telah terjadi dengan saudara. Nanti saya lanjutkan lagi. Bye...


Salam Manis,
Renjani.


27 agustus 2006 / 11:11

0 comments:

Lelah

0
May 02, 2006
Satu, dua, tubuh sosok manusia datang lalu menegur sambil tersenyum dan menggandeng tanganku sangat erat lalu mendekap tubuhku serta mendekatkan bibirnya hingga menyentuh daun telingaku seraya berbisik hangat,
“Berikan saripatimu kepadaku!”
Dan aku selalu menjawab sama,
“Saat kamu mengenalku, saat itu juga aku menjadi pelayanmu tanpa diminta. Akan aku berikan pelayananku yang terbaik, jangan merasa takut aku akan meminta imbalan karena hanya dengan kamu bersedia menganalku dan mengakui keberasaanku akau sudah sangat senang!”.

Tapi tidak!!
Mereka datang hanya untuk bersenang-senang.
Atau lebih tepatnya: melakuan kesenangan untuk dirinya sendiri tanpa perduli dengan keadaan diriku.
Mereka sibuk menghisap dan meraup saripatiku sampai mereka menyadari bahwa aku sudah sekarat terkapar tanpa daya baru mereka berkata?
“Ada apa denganmu?”
Dan ironisnya anya empat kata itu saja yang terucap tanpa mau menarik tangaku untuk dapat bangkit kembali.
Lalu mereka perlahan demi perlahan menghindar dan pada akhirnya menghilang!
Walau dengan cara seperti seorang pengemis aku memohon agar dapat meminjam bahunya untuk menyandarkan kepala ini, walau hanya sebentar, tetap saja aku tidak bisa mendapatkannya.

Karena mereka langsung berpura-pura sibuk.
“Maaf, saya sedang tidak punya waktu”.
“Saya sedang banyak kerjaan”.
“Urusan saya sedang menumpuk”.
“Jangan ganggu saya!”.
“…”

Apakah kehidupan harus selalu seperti ini.
Dan apa manusia harus selalu sama dalam prilakunya?!
Biarkan ini menjadi pertanyaan yang aku tidak pernah berharap mendapatkan jawabannya!!

2006

0 comments:

Tenang Tuhan,

0
April 30, 2006
Tenang saja Tuhan,
Aku tidak akan menuntut keadilan atas ketidakadilan di kehidupanku ini. Karena aku sudah dapat mengerti tentang proses kehidupan yang sedang aku jalani sekarang ini. Jalan yang tidak melulu lurus, karena sama seperti jalan-jalan pada umumnya (kecuali tentu saja sirkuit balapan) pasti akan memiliki cabang, lika-liku yang dapat membawa ke suatu tujuan bagi yang menelusurinya. Entah akhir dari persimpangan itu akan membawa kebahagiaan atau malah sebaliknya, kenistaan.

Tapi pasti akan ada kesadaran bagi si penelusur jalanan, dia ada di tempat apa dan bagaimana. Dia juga punya sesuatu yang lembut jauh di kedalaman hatinya, yang akan menghentakkan nalurinya bahwa kebenaran akan membawa ketenangan dan sesuatu yang nista hanya melahirkan kegelisahan. Aku pun begitu Tuhan, masih memiliki kesadaran, yang walaupun lemah, dapat memahami apa itu dosa.

Untuk sekarang, apakah hidupku ini sedang berada di atas ketidak-adilan? Entahlah, aku tidak mau menebak-nebaknya. Aku yang terbiasa hidup di selimuti kemunafikan. Bagiku sudah tidak ada bedanya lagi memburu kebahagiaan dengan cara yang sehat atau dengan tipu daya yang melenakan untuk mencapai apa yang diinginkan. Karena intinya tetap sama: mendapatkan kebahagiaan.

Ya, hanya itu yang aku inginkan untuk menyempurnakan kehidupanku ini. Tidak dapat dipungkiri, tidak ada jalan mudah untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Dan aku sudah mencobanya...

Tenang saja Tuhan,
Aku akan dapat menyelesaikan sisa hidupku dengan baik, walau tidak bisa sesempurna seperti orang-orang yang benar-benar beriman dengan tekad yang kuat dan semangat yang bergelora. Tapi setidak-tidaknya aku juga punya keinginan menjadi orang baik dalam arti yang sebenarnya.

Sekarang aku meminta restumu Tuhan, aku ingin menghabiskan paruh waktuku dengan jalan yang menurut pengetahuanku salah.

Semoga Engkau mengampuniku, Tuhan. Mengampuni hamba-Mu yang telah mencoreng dan mengabaikan perintah-Mu hanya karena ingin mencari kebahagiaan yang sangat semu, karena kebahagiaan yang aku cari adalah kebahagiaan duniawi. Aku tahu aku salah Tuhanku. Tapi, apakah kesalahanku mutlak kesalahanku? Untuk yang satu ini aku serahkan kepadamu Tuhan, karena Engkau adalah Kebenaran dan Keadilan. Aku tidak akan memberontak apapun keputusanmu terhadap jalanku.

Apa yang akan aku lakukan setelah malam ini? Biarlah menjadi misteri bagi sekelilingku (dan yang pasti bukan misteri bagimu – kerena Engkau Maha Mengetahui).
Semoga aku akan cepat tersadar, Semoga aku mendapatkan apa yang aku inginkan, dan semoga ini cepat berlalu...


2006

0 comments:

Dan Renjani pun Menjawab, (2)

0
March 30, 2006
Aduh...

Saudara ini benar-benar blo’on atau emang kepala batu sih. Sudah saya bilang berkali-kali jangan pernah mengharapkan saya, eh masih saja saudara itu ngebuntuti saya. Emangnya saya suka apa di gituin?!

Saudara itu sebenarnya manusia yang memiliki otak atau enggak sih? Harus bagaimana lagi sih bilanginnya ke saudara. Saya kan kemarin sudah jelaskan, bahkan saya jelaskan sejelas-jelasnya kepada saudara bahwa untuk sekarang ini saya tidak ingin menjalin kasih sayang dengan siapapun, apalagi sama saudara. Saudara memang bodoh ya, tolol, goblok!!!

Masih saja saudara mengejar-ngejar saya. Saudara ini mungkin memang tidak punya kepekaan ya, tidak punya rasa malu.

Kejadian yang masih saja berulang, dan terjadi lagi, dan terus terjadi lagi adalah saat saudara berbicara tentang kerinduan. Yang selalu saja setiap saya mau mendengarnya jadi benar-benar muntah. Saudara itu sok, bener-bener sok mengerti tentang kerinduan dan bahkan saudara itu bisa banget mendramatisasinya menjadi begitu terlihat mendalam. Cuih.

Saya itu sebenarnya tidak sudi banget dirindukan oleh siapapun termasuk saudara, manusia yang tidak saya sayangi. Boro-boro sayangi, suka walau sedikit juga enggak.

Sungguh untuk yang terakhir kalinya saya bilang ke saudara kalau rindu-rindu yang saudara ucapkan ke saya itu sangat mengganggu saya. Kehidupan saya jadi tidak tenang, banyak waktu saya terbengkalai dan sia-sia hanya untuk mengurusi saudara yang sok manja, sok kolokan. Emangnya enggak malu apa sama umur?!

Baru tadi pagi ketemu, siangnya bilang kangen. Ditambah suara krang-kring HP saya karena tidak capek-capeknya saudara menelpon saya terus. Memangnya saudara tidak pernah mikir apa saat saudara telepon saya sedang ngapain? Saudara pasti tidak pernah membayangkan saya yang terpaksa menunda makan saya, menunda pekerjaan saya, buru-buru keluar dari kamar mandi karena sedang buang air kecil ataupun besar, langsung terjaga dari tidur, dan masih banyak lagi kegiatan saya yang terganggu karena harus mengangkat HP yang ternyata dari saudara. Oh ya, saya terpaksa buru-buru menyudahi segala aktivitas saya karena yang saya kira itu telepon memang benar-benar penting dan saya tidak pernah berharap saudara yang menelpon saya. Apalagi kalau menelpon hanya untuk sekedar berbasa-basi saja, enggak mutu banget sih. Bikin BT tau.

Sudah dulu, tanganku capek. Lagipula untuk apa juga aku menulis surat ini kepada saudara, manusia idiot yang selalu mengonani otaknya dengan cinta. Cinta yang taik kucing.

Lain kali saya sambung lagi, saya mau tidur. Capek.


Salam Sebal,
Renjani.


Lagi-lagi sekedar iseng.
Akhir maret 2006

0 comments:

Dan Renjani pun Menjawab, (1)

0
March 06, 2006
Saya tidak pernah mengerti dengan jalan fikiran saudara, sungguh saya pusing sekali. Saudara ini terlalu percaya diri sekali, menganggap saya sebagai kekasih saudara dan menyebarkannya ke semua orang. Padahal jelas-jelas saya ini bukan siapa-siapanya saudara. Lagipula atas dasar apa saudara ini ngaku-ngaku sebagai kekasih saya? saudara tidak pernah mikir atas prilaku saudara ini yang secara tidak langsung mencemarkan nama baik saya. Setiap saya pulang dan berpapasan dengan siapa saja di lingkungan rumah, mereka tiba-tiba saja bilang kalau saya kekasih saudara. Terus terang saya merasa risih. Tahu.

Lagian saudara ini, dari dulu sudah saya kasih sinyal kalau saya tidak menginginkan saudara, tetapi saudara saja yang sangat tidak peka. Masih terus mengejar-ngejar dan terus ingin mendapatkan saya. Perlu saudara tahu, saya itu tidak pernah menyukai saudara, tolong camkan itu.

Kalau selama ini saya berlaku baik sama saudara, itu semata-mata karena saya kasihan sama saudara. Apalagi kalau melihat tampang saudara yang memelas itu, saya jadi merasa bersalah saja kalau tidak mengasihi saudara. Tapi, entah karena saudara memang dasarnya goblok atau memang sok polos, masih saja merasa kalau saudara di sayangi oleh saya.

Sayang, sayang apa? Sayang taik kucing. Tidak ada yang namanya sayang untuk manusia seperti saudara ini. Seharusnya saudara ngaca dulu dong, siapa saudara itu. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari saudara, dan tidak ada untungnya menjadi kekasih saudara. Lagipula tau apa sih saudara itu tentang rasa sayang, sok tahu. Sok punya perasaan.

Dan juga tau apa saudara tentang saya, sejauh mana saudara bisa dapat mengenal kehidupan saya. Kenal aja belum lama. Sok menebak-nebak dapat menilai tentang kehidupan saya. Asal saudara tahu saja, setiap saudara memberi penilaian tentang saya, memang pada saat itu saya hanya mesem-mesem saja dan mengangguk waktu saudara menanyakan kebenaran penilaian saudara. Padahal, tidak ada sedikit pun dari penilaian saudara itu yang benar. Lagi-lagi saya melakukan itu semua hanya ingin menyenangkan saudara saja kok. Ya itu yang saya bilang tadi, saya sungguh kasihan sama saudara.

Saya juga sudah tidak tahu harus berbuat apa supaya saudara tahu kalau saya tidak menginginkan saudara di kehidupan saya. Sesungguhnya saya ingin mengatakan kepada saudara tentang perasaan ini yang sebenarnya secara langsung, tapi saya tidak tega. Takutnya nanti saudara kenapa-kenapa, terus yang kena imbasnya saya lagi. Nah, itu saya tidak mau disalahkan nantinya.

Entah sampai kapan semua ini akan berakhir, sebenarnya saya sudah sangat lelah dengan keadaan ini. Apalagi dengan segala rintihan saudara, tentang rasa sayang saudara yang sangat besar kepada saya, bikin saya jadi mau muntah setiap kali mendengarnya. Juga tentang kerinduan-kerinduan yang sangat sering saudara utarakan kalau sehari saja tidak bertemu dengan saya. Itu yang membuat saya merasa tertekan.

Sebenarnya saudara itu sadar tidak sih, kalau saudara itu sekarang ini banyak banget menyita waktu saya. Saya harus selalu siap sedia melayani saudara, yang selalu tidak jelas keinginannya apa dan maunya bagaimana. Tidak tahu harus dengan sikap seperti apalagi yang akan membuat saudara tersadarkan dari keadaan ini, keadaan yang menurut saya sangat menyedihkan. Ya, kehidupan saudara ternyata sangat menyedihkan. Mengorbankan segalanya demi wanita yang saudara sayangi, tapi yang lebih mengenaskannya wanita itu tidak menyayangi saudara walaupun sedikit.

Sudahlah, masih banyak wanita yang lain yang lebih pantas saudara sayangi. Dan jangan saya. Saudara belum tahu dalamnya saya seperti apa. Jangan sok menebak-nebak. Saudara tidak tahu apa-apa tentang saya, dan jangan harap saya akan bercerita pada saudara tentang siapa saya sebenarnya. Saya malas, buang-buang waktu saja. Masih banyak yang harus saya kerjakan dan yang pasti lebih menguntungkan daripada memikirkan saudara yang tidak pernah sedikitpun saya sayangi.

Sudah dulu nanti surat pernyataan yang kedua saya kirimi lagi, untuk lebih menyakinkan saudara lagi kalau saya tidak menyayangi saudara. Sekali lagi, saya tidak sayang sama saudara. Titik.


Salam Benci,
Renjani.


Sekedar Iseng,
06032006/17:54

0 comments:

Mati

0
February 23, 2006
Mati... mati...
Kematian sangat santer aku cium, sungguh menyengat!
Benarkah aku akan mati dalam waktu dekat?

Aku tidak bisa memastikan, tetapi Malaikat Maut seakan-akan selalu membuntutiku setiap kali ku berjalan di kegelapan malam. Mengintaiku dengan matanya yang tajam, anehnya saat aku menoleh ke belakang aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Karena hanya keremangan dan kesuraman yang ada. Dan aku merasakan bulu romaku berdiri. Dan juga hati yang berdesir.

Apakah aku sok tahu tentang aroma kematian? Biarlah aku beritahu kepadamu bagaimana sesungguhnya aroma kematian itu dapat aku rasakan. Memang terlalu mengada bila ceritaku ini tidak di iringi dengan penalaran yang mendalam tentang sesuatu yang irasional.

Berawal dari kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang datang begitu tiba-tiba di kehidupanku. Mereka datang dengan kelebatan yang sangat cepat dan menyelimuti tubuhku dengan asap-asap gelap dengan seketika. Itu terjadi pada malam hari, disaat aku duduk-duduk di trotoar pinggir jalan raya yang lengang akan kendaraan, dimana aku sedang terpaku menatap kosong langit tanpa cahaya bulan dan tanpa pendaran cahaya bintang-bintang. Aku memang dibuatnya tidak berdaya seketika. Lalu kelebatan itu membuatku tidak sadarkan diri hingga saat aku tersadar aku sudah berada di bangku taman di sebuah pemakaman. Ternyata terik matahari pagi yang menembus celah-celah dahan pohon kamboja yang meneduhi bangku taman, dimana aku terlelap di atasnya membuat aku terbangun.

Saat aku membangunkan tubuhku, kepalaku terasa berat dan sangat pusing serta mataku agak meremang. Mengapa aku bisa berada di tempat ini? Aku bertanya kepada angin tetapi dia hanya berlalu dan menyisakan sedikit kesejukan atas peluh yang
sedikit membasahi tubuhku serta menyisakan wangi bunga kamboja yang menyengat hidungku.

Aku rebahkan tubuhku yang juga terasa lemas di bangku taman pemakaman. Aku belum tahu mau melakukan apa. Aku tidak dapat berfikir. Saat mata ini kupejamkan tiba-tiba saat itu juga aku langsung dikerubungi sesuatu yang tidak jelas bentuknya tetapi mengeluarkan suara-suara aneh yang memekakkan telinga. Aku tutup kedua telingaku dengan kedua telapak tanganku, tetapi suara itu tetap saja ada. Aku meringkuk dan menjatuhkan kepalaku ke dalam pangkuanku sendiri, aku berteriak tetapi tidak dapat mengeluarkan suara. Ada sesuatu di tenggorokanku yang seakan menahan suaraku untuk keluar. Aku hentakkan kepalaku ke udara dan setelah ku buka lagi mataku aku tidak melihat bentuk-bentuk aneh itu lagi, tetapi hanya pohon-pohon kamboja, nisan-nisan tua, dan beberapa patung malaikat kecil putih dengan busur yang seakan selalu siap untuk di tancapkan kesiapa saja dan kapan saja.

Ada apa dengan semua ini? Apakah aku sedang bermimpi? Ataukah aku berhalusinasi? Aku sungguh tidak mengerti!!!

Setelah agak baikkan, aku bangun dan mengayunkan langkahku keluar dari pemakaman yang sepi ini dengan sedikit sempoyongan. Aku melintasi gerbang pemakaman dan penjaga makam yang entah datang dari mana dengan membawa sapu lidi memperhatikanku dengan seksama dan tatapan penuh keheranan, sebelum dia mengucapkan sepatah kata aku berikan dia senyuman dan lambaian tangan pertanda perpisahan. Penjaga makam itu hanya geleng-geleng kepala, selebihnya aku tidak memperhatikannya lagi.

Aku mencari warung terdekat dan membeli segelas air mineral lalu meneguknya tanpa sisa, tenggorokanku kering dan aku sangat kehausan. Kulanjutkan perjalananku menuju entah kemana? Aku bingung mau kemana, aku tidak tahu ada di sebuah kota yang mana. Orang-orangnya terlihat sangat asing dan aku lihat sekelilingku, banyak bangunan-bangunan yang asing yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Apakah aku tersesat? Dimana ini? Aku cegat seseorang yang melintasiku, lalu dia menatapku dengan pandangan yang sangat aneh. Aku bertanya kepadanya apa nama kota ini dan dimana ini, tetapi dia hanya menggumamkan kata-kata yang sangat tidak aku pahami. Tanpa sadar aku menggenggam keras tangan orang itu dan orang itu meronta dan menarik-narik tangannya hingga terlepas dari genggamanku dan berlari sambil menggerutu dengan bahasa yang tidak aku mengerti.

Aku berjalan cepat, setengah berlari, lalu benar-benar berlari bahkan kencang. Aku menelusuri jalan raya, masuk kedalam gang-gang yang tidak terlalu sempit dan tembus lagi ke jalan raya dan aku berdiri tepat di tengah perempatan lampu lalu lintas yang berwarna merah semuanya. Tiba-tiba segala sesuatunya tampak berputar-putar. Tiang lampu lalu lintas berputar mengelilingiku, gedung-gedung tinggi berputar mengelilingiku, awan-awan berputar-putar mengelilingiku, orang-orang berputar mengelilingiku sambil mentertawakanku. Bahkan tebahak.

Aaakkhhh.....!!!

Aku bersujud di aspal dan berteriak sekuat-kuatnya dan berteriak sekeras-kerasnya. Aku terperanjat bangun dan tersadarkan lagi, tiba-tiba aku sudah berada di atas tempat tidur rumahku. Nafasku masih memburu sama seperti saat aku berlari-lari di kota entah dimana itu. Peluhku makin bercucuran membasahi semua pakaianku. Aku dekap mukaku dengan kedua telapak tanganku. Ada apa dengan semua ini? Apa arti dari semua ini? Aku tidak sempat berfikir banyak karena aku keburu mendengar suara adzan Dzuhur dari masjid yang kebetulan memang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku kembali tenang dan langsung terlelap kembali. Tertidur. Bahkan pulas.

Sebelum maghrib ibu membangunkanku dan mengajaknya makan bersama. Setelah sebelumnya menyuruhku mandi dahulu. Aku mengikuti semua perintahnya. Memang terasa segar sekali saat tubuh ini di guyur air yang agak dingin. Aku mengguyur semua tubuhku dengan cepat sampai-sampai tidak terasa bak mandi yang semula berair penuh kini tinggal seperempatnya bahkan kurang dari itu. Aku nyalakan kran air dan mengisi bak mandi, sambil menunggu air penuh lagi aku membasuh dan mengosok tubuhku dengan sabun mandi dan juga mengeramas rambutku. Segar.

Aku lepas pikiranku, dan mencoba menghilangkan kejadian-kejadian aneh yang baru saja aku alami. Hanya sebentar menghilang tetapi setelah itu ada lagi bahkan tetap mengada di kehidupanku.

Malamnya aku terjaga dan tidak bisa memejamkan mata, aku takut. Karena sedikit saja aku memejamkan mata, seolah-olah akan ada sesuatu yang menerkamku entah dari arah mana. Kejadian yang sama seperti saat aku berada di trotoar jalan raya dan di bangku taman pemakaman entah di sebuah kota yang mana. Aku juga membiarkan lampu kamarku terus menyala agar tidak ada kegelapan yang mengotori kamarku. Aku mengantuk tetapi tidak mau memejamkan mataku, aku takut. Aku ingin tidur tetapi tidak ingin menutup mata ini. Saat mata ini meredup sedikit aku langsung di kagetkan oleh bayang-bayang dan suara-suara yang tidak berwujud. Aku paksakan mata ini agar harus tetap terbuka. Aku sibukkan diri, minum kopi agar mata ini tetap terbuka, aku setel musik, aku membaca, aku mengetik di komputer. Pagi datang dengan di iringi kokokan ayam yang bergema. Kulihat jam weker, sudah jam setengah enam pagi. Huh.

Ini malam pertama aku lalui tanpa mimpi. Bahkan kehidupanku aku rasakan tidak lebih dari sebuah mimpi buruk belaka.
Malam-malam berikutnya aku lalui memang tidak dengan lelapan mata. Tetapi dengan mata yang selalu terbuka. Melek. Hingga di sekitaran mataku terlihat jelas lingkaran hitam yang mengelilinginya. Banyak yang bertanya tentang lingkaran hitam dimataku, tetapi setelah aku ceritakan tentang kejadian yang telah aku alami, tidak ada yang percaya, orang tuaku, sahabat karibku, teman sepermainanku, orang-orang yang baru mengenalku, semuanya tidak ada yang percaya. Tak satupun...

Mula-mula ada sesuatu yang menyesakkan di dada ini. Tidak ada yang lebih menyesakkan hidup di dunia ini selain kita tidak bisa dipercaya dengan orang lain. Tapi setelahnya akupun jadi masabodo terhadap mereka yang tidak mau mempercayai ceritaku. Walau ada yang sampai menganggap diriku sudah gila. Tapi aku sungguh-sungguh tidak mau ambil perduli. Toh, mereka juga tidak bisa membantuku. Sampai akhirnya aku mengucilkan diri, merenung sendiri. Mencoba mendalami setiap kejadian yang pernah aku alami di minggu-minggu belakangan ini. Tapi setelah aku telaah ternyata memang tidak ada sesuatu yang membuatku merasa bersalah, tetapi hanya ada sedikit luka atas cinta yang belum teraih dari seorang perempuan yang aku sayangi. Dan itu bukanlah salahku. Aku rasa.

Aku menyendiri bukan karena aku ingin sendiri, tetapi aku menyendiri karena memang harus sendiri. Aku tidak ingin merepotkan orang banyak. Aku sendirian melawan kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang selalu menyerangku kala kupejamkan mata ini. Sampai aku punya keyakinan pasti bahwa ini adalah Maut. Bila aku tidak melawannya aku akan mati. Tapi sampai kapan aku bisa melawannya? Aku tidak bisa menentukan. Tubuhku sudah sangat lelah. Tiga belas minggu aku tidak tidur. Tubuhku semakin kurus walau aku tetap makan dan minum seperti biasa. Mataku semakin menghitam. Kulitku semakin memucat. Tenagaku sungguh terkuras.

Kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan itu memang tidak dapat aku gambarkan wujudnya. Tetapi mereka dapat dengan mudahnya meracuni ketenanganku dan membuat kepanikan didiri ini. Aku dibuatnya menjadi seorang pecundang. Dibuat menjadi pengecut. Yang aku sendiri bingung, padahal aku sudah memberanikan diri sedemikian rupa. Tetapi tetap saja keberanianku menjadi menciut. Menjadi takut.
Mereka memang menginginkan aku mati. Tetapi mereka tidak tahu kalau aku masih punya kekuatan yang aku bangun untuk sebuah cinta yang masih harus aku perjuangkan sampai renta. Tapi entah, apakah cinta itu akan dapat aku dapatkan atau tidak. Karena aku merasa kematian semakin lama semakin mendekatiku.
Ada kemantapan dan juga ada keraguan. Tapi aku menganggapnya sebagai sebuah tantangan.

Sampai kapan? Tidak ada pertanyaan lain lagi yang aku miliki selain itu.
Harus aku adukan kemana tentang peristiwa yang aku alami ini? Kemana aku harus menuntut hak ku ini. Mengapa ketidaknormalan ini hanya berlaku untukku seorang. Bagaimana caranya agar aku bisa memberitahu kepada semuanya, termasuk anda bahwa ini memang benar kisahku. Kisah yang memang aneh.
Dan bukankah sudah aku bilang. Bila mendengar kisahku ini harus dibutuhkan penalaran yang sangat mendalam tentang sesuatu yang tidak biasa.

Tapi sudahlah aku tidak bisa bercerita banyak untuk masalahku ini, lagi pula aku masih belum tahu bagaimana caranya agar ceritaku bisa menjadi meyakinkan. Aku sudah menceritakan kisahku, bagaimana kematian sungguh menyengat aku cium, seakan selalu membuntuti dan hanya tinggal tunggu waktu yang tepat untuk menarik rohku dari jasad ini. Sampai kini. Dan aku serahkan kepadamu bagaimana kamu menyikapi dan menanggapinya. Percaya atau tidak. Aku tidak begitu mempersoalkan. Toh aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku akan segera mati. Jadi, hati-hatilah. Siapa tahu aku akan menjadi roh yang penasaran untukmu. Hanya untukmu, yang telah membaca kisahku ini.


21-22 Februari 2006

0 comments: