Cerita Tentang Ketenangan

0
December 30, 2005
1.
Ketenangan datang mengetuk pintu Hatiku dengan tangannya yang lembut, “Permisi wahai Hati, bolehkan Aku masuk?” Ketenangan menyapa dengan kehalusan, setelah Aku membuka sedikit daun pintu Hatiku.

Lalu ketenangan menceritakan perihal kedatangannya,
“Biarkan Aku singgah wahai Hati, walau hanya sementara, untuk bercerita.
Aku adalah ketenangan yang sangat membutuhkan ketenangan.
Aku adalah ketenangan yang tidak memiliki cahaya.
Aku membutuhkan cahaya ketenangan,
apakah kamu memilikinya wahai Hati?”
Dan Aku tersenyum.

Lalu Aku membukakan pintu Hatiku untuk ketenangan.
“Masuklah, hai ketenangan”.
Ketenangan masuk dengan langkah yang terseok, dan setelah mendekat langsung memelukku, lalu menangis...
Lama Aku terpaku atas apa yang terjadi, lalu...
Ku belai ketenangan yang sedang butuh ketenangan!
Ku kecup ketenangan yang sudah tidak memiliki cahaya!
Ku peluk ketenangan yang sangat menginginkan cahaya ketenangan!

Kemudian kenangan bercerita, “Ketenanganku telah terenggut oleh seorang pecinta yang pada awalnya Aku fikir adalah pecinta yang sangat mengagungkan cinta. Seorang pecinta yang Aku bayangkan memiliki kelembutan abadi.

Tapi tidak, terkaanku meleset, ternyata kelembutannya tidak bertahan lama...” ketenangan berbicara dengan pandangan yang kosong, lalu melanjutkan ceritanya sambil menatap wajahku, “kini kelembutannya menghilang dan dia lebih sering menghadiahiku dengan tombak-tombak luka!” Ketenangan berderaian airmata, tetapi tetap melanjutkan ceritanya walau isaknya terasa berat.

“Begitu juga dengan cahayaku, dia juga telah merenggutnya, lalu di buangnya cahaya-cahayaku dan olehnya Aku dipaksa untuk mengganti dan menerima kekelaman Hatinya”. Ketanangan berderaian airmata, sementara Aku terdiam…

2.
Ketenangan terlelap di bangku panjang dadaku. Tidurnya sungguh tenang. Seakan-akan telah lama tidak tertidur. Wajahnya sangat pucat pasi, terlihat sangat lelah memikul berat penderitaan di dalam dirinya.
Ketenangan, oh Ketenangan mengapa kamu menjadi seperti ini?

Dalam tidurnya Aku dapat melihat dari matanya yang terpejam bahwa dia sedang bermimpi berjuang sendirian menghadapi seorang pesakitan yang berkedok menjadi seorang pecinta. Dia terjebak dalam jalinan asmara yang aneh. Kebahagiaan yang dia harapkan akan selamanya ternyata hanya sementara, begitu singkat. Setelah pecinta yang pesakitan itu mendapatkan Ketenangan, lalu ia mengendalikannya dan menistakannya.

Ketenangan mencoba melepas pecinta yang pesakitan itu dengan sisa-sisa ketenangan yang dia miliki agar tidak merenggut ketenangannya. Dia mencoba mempertahankan kodratnya sebagai Ketenangan yang harus tenang. Tapi sayang pecinta yang juga pesakitan itu ternyata lebih perkasa dan lebih-lebih lagi ternyata memang tidak memiliki hati nurani.

Di renggut semua ketenangan yang dimiliki Ketenangan.
Di hisap semua ketenangan yang ada di Ketenangan, hingga tidak tersisa.

Tidak hanya itu, pesakitan yang berkedok pecinta itu juga mengambil cahaya yang selalu menyinari Ketenangan, hingga Ketenangan menjadi padam, kelam.
Ketenangan menjadi bisu, tergeletak tidak berdaya dibawah kaki pecinta yang juga pesakitan, ternyata pesakitan yang berkedok pecinta itu tidak sudah sampai disitu saja, di hunuskannya pedang kebencian tepat di tengah hati Ketenangan hingga Ketenangan menjadi gemetar, lalu Ketenangan berusaha memberontak dan menjerit, dan bisa.

Dalam mimpinya Ketenangan menjerit sangat keras, bersamaan dengan itu Aku juga melihatnya menjerit dengan keras lalu terbangun dari bangku panjang dadaku, dengan keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.
Aku eratkan dekapanku lalu kuusap keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya dan Ketenangan sedikit tenang, lalu terisak dan menangis pelan. Aku kembali terdiam.

3.
Tujuh hari sudah Ketenangan berada di dalam diriku, dan Ketenangan sudah mulai bisa bersinar walau tidak terang dalam Ketenangannya.
Lalu Ketenangan berbisik kepadaku, “Terima kasih hai Hati yang memiliki jiwa mulia, karenamulah Aku bisa memiliki lagi sinaran ketenangan yang telah hilang. Walau hanya dengan diam, ternyata kamu dapat membuat Aku merasa nyaman, dan itu yang sangat Aku butuhkan.

Aku mendapatkan sesosok yang tepat untuk Aku dapat menyatukan ketenanganku, sesosok yang diam dan tidak banyak kata, apalagi tindakan. Aku lebih suka dengan sesosok yang pendiam dan tidak banyak bicara karena Aku tahu dalam diammu terdapat jiwa berlian dalam setiap ucapan yang keluar dari bibirmu dan perilaku yang mendamaikan saat kamu bertindak. Kamu memang sosok yang tepat untukku bersandar, untuk melepas lelahku. Terima kasih!”

Lagi-lagi Aku terdiam, tapi dengan sedikit senyum kemenangan...

4.
Ketanangan berseri-seri, berlarian mengelilingi kebun bunga nuraniku yang terhiasi oleh jutaan bunga dengan jutaan warna dan jutaan keharuman sambil mengepakkan kedua tangannya secara perlahan-lahan, seolah-olah ketenangan ingin mencoba terbang. Dan benar saja, setelah sekian lama berlarian dengan senyumannya yang terindah dan mengepakkan kedua tangannya, akhirnya Ketenangan dapat terbang.

Terlihat ia sangat senang sekali, lalu ia berputar-putar keluar masuk awan dan sesekali terbang rendah lalu meninggi lagi untuk berputar-putar secara beraturan seakan sedang membuat suatu gerakan yang secara sekilas dapat diartikan sebagai tanda hati, tanda bunga, gerakannya pun sangat lembut, seperti sedang menari...

Aku yang sedari tadi memperhatikan tanpa sepengetahuannya, menitikkan airmata bahagia. Ternyata Ketenangan telah kembali seperti sedia kala.
Karena terlalu khusuknya Aku mensyukuri perubahan ini, tanpa Aku sadari, tiba-tiba saja Ketenangan sudah berada di hadapanku, mengecup pipi kananku dan memelukku dengan sangat erat, sambil berbisik di telingaku, “Terima kasih untuk segalanya yang telah kamu berikan kepadaku, hai Hati yang damai. Aku tidak akan melupakan setiap pelayananmu terhadapku,” Ketenangan tersenyum bahagia, dan diam sesaat.

Setelah itu Ketenangan menggenggam kedua tanganku dan kembali menatapku, tetapi kali ini dengan tatapan yang haru, Ketenangan terdiam. Dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang sedikit bergetar Ketenangan berkata, “Sudah saatnya Aku pergi hai Hati. Meskipun disini sangat membuatku nyaman dan bahagia, tetapi tidak mungkin Aku berada di sini terus menerus. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Maafkan semua perilaku-ku yang membuatmu menjadi mengorbankan segalanya hanya untukku. Aku tidak akan melupakanmu”.

Aku mencoba untuk dapat tersenyum, walau terasa berat tetap Aku paksakan. Lagi-lagi Aku tidak bisa berkata-kata, Aku hanya tersenyum dan sedikit mengangguk lalu tertunduk...

5
“Mengapa engkau harus berlalu dari kehidupanku hai Ketenangan? Bahkan begitu cepat! Aku masih ingin tetap bersamamu, hai Ketenangan. Biarkan engkau menjadi bagian dari diriku.” Aku berkata, tetapi tidak bisa bersuara.
Tiba saatnya ketenangan berangkat setelah berkemas.
“Apakah ada yang ingin engkau sabdakan kepadaku sebelum Aku pergi, hai Hati yang bersih?” Ketenangan bertanya. Dan Aku tersenyum.
“Apakah ada yang bisa engkau lakukan sebelum Aku pergi selain tersenyum, hai Hati yang senantiasa tersenyum?” Ketenangan kembali bertanya. Aku masih tersenyum, tetapi kali ini dengan kekuatan yang diselimuti oleh perasaan tenang yang telah Aku dapatkan dari ketenangan, “ada!”
Ketenangan gembira dan dengan lantang berkata, “Apa itu hai Hati?”.
Dengan lembut Aku berkata, “Maukah engkau bersatu dengan ku hai Ketenangan? Mari kita hidup bahagia dengan meleburkan perasaan kita menjadi satu. Agar kita menjadi satu kesatuan yang utuh. Biarkan Aku terus menjadi pelayanmu, agar Aku bisa terus melayani semua kebutuhanmu, dan agar Aku bisa dapat terus melihat senyumanmu dan agar kamu dapat senantiasa terbahagiakan. Karena disana pun ada kebahagiaanku, saat kamu bahagia.”

Lagi-lagi Ketenangan memelukku, bahkan kali ini dengan keeratan yang tidak seperti biasanya, “Aku tidak mampu membalas semua kebaikanmu kepadaku, hai Hati. Aku takut tidak bisa membuatmu bahagia seperti kamu yang telah membuat Aku sangat amat bahagia. Aku merasa tidak pantas bersamamu, hai Hati yang penuh dengan kelembutan. Maafkan Aku dan ketakutanku ini.”

Tapi Aku mencoba membela, entah ini dapat dibenarkan atau tidak, “Bukankah engkau yang mengatakan kepadaku bahwa Aku adalah sosok yang tepat untuk menyatukan ketenganganmu. Juga engkau mengatakan bahwa engkau merasa nyaman bila bersamaku serta Aku adalah sosok yang tepat juga untukmu bersandar kala engkau kelelahan. Ataukah Aku terlalu percaya diri atas semua pujianmu kepadaku?”
Aku dan Ketenangan terdiam cukup lama, tidak ada kata.
Tidak ada..

6
Ketenangan melepaskan dekapannya, dan berjalan membelakangiku, lalu mengapakkan tangannya, terbang. Terbang menuju angkasa tanpa sepatah kata lagi.
Aku memandangnya sampai menjadi titik dan hilang sama sekali dari pandangan mataku. Aku memandang kekosongan dengan tatapan kehampaan, dan Aku merasa ada sesuatu yang berdesit di kedalaman diriku, perasaan yang tergores seperti teriris. Aku tidak tahu apa itu, dan mencoba menerka, mungkin itu luka...


Salemba Tengah - Duren Sawit
Akhir 2005

0 comments:

Cerita Di Suatu Senja Yang Pucat

0
December 14, 2005
17:47
Detik ini Aku yakin engkau sedang bersamanya, bersama kekasihmu berduaan di pinggir pantai dan sambil memandang senja yang untuk di hari ini terlihat agak pucat…
Mungkin alam sudah lebih dahulu berduka untuk peristiwa yang akan terjadi dengan kalian berdua

Walau engkau tidak memberi tahu kepadaku, tapi Aku dapat menangkap sesuatu yang Aku sendiri tidak begitu mengerti, begitu kuatnya berada di dalam dada ini, dan membayangkan dengan sangat pasti bahwa engkau sedang berada di sana, bersama kekasihmu
Bersamanya, berbicara tentang hati yang luka dan harus tersembuhkan agar tidak bertambah besar serta menghilangkannya agar tidak berbekas.

Setelah senja ini berlalu Aku bisa membayangkan engkau dengannya akan ke suatu tempat yang dulu pernah dua kali kita kesana –jembatan yang menghubungkan kita dengan lautan!
Disana obrolah serius tentang hubungan kalian, akan dimulai...

18:24

1-
Aku membayangkan kamu disana sedang menangis dan mungkin dengan sedikit ratapan agar dia bersedia dengan tulus melepaskanmu yang sudah tidak tahan dengan semua keadaan ini.
Karena kamu sudah sangat lelah berhubungan dengannya, capek menjalin hubungan yang tidak wajar, suatu hubungan yang hanya mementingkan ego dan tidak bisa saling pengertian. Letih karena setiap kali ada pertemuan selalu saja ada pertengkaran. Pertengkaran yang seharusnya tidak terjadi, dan hanya karena hal-hal yang sebenarnya sepele dan tidak perlu diributkan.
Dengan tekad yang bulat dan pemikiran yang panjang engkau akan berkata, “Hubungan kita cukup sampai disini saja!”

2+
Engkau dengannya akan berdiskusi kembali tentang keinginan-keinginan yang kalian inginkan, mencari jalan keluar atas hubungan kalian yang sudah tidak sehat lagi.
Saling mendengar, saling mengintropeksi diri,
sama-sama mengakui kesalahan masing-masing,
dan engkau akan berkata kepadanya, “Mari kita bina lagi hubungan ini!”

3-
Dia tertunduk lesu kemudian
dia menangis mengharapkan kepadamu bahwa
dia ingin segalanya seperti semula
dia tidak ingin melepaskanmu
dia tidak ingin kehilanganmu
dia sangat mencintaimu.

4-
Dia marah besar dan menyalahkan engkau bahwa ada sesuatu di balik ini semua,
engkau dituduh telah mendua,
engkau dituduh sudah tidak menyayanginya lagi,
engkau dituduh telah merencanakan ini semua untuk menyakiti dirinya.
Dia mengamuk dan menampar wajahmu.
Dia mencaci maki dirimu.
Dia mendorongmu hingga jatuh tersungkur.
Dia pergi meninggalkanmu sendirian.

5+
Kalian dapat saling menerima kesalahan dan berusaha tidak akan mengulanginya lagi, menangis bersama atas sikap-sikap kalian yang tidak mengenakkan satu sama lain
Berikrar kembali, menguatkan komitmen, saling tersenyum
Lalu bergandengan tangan, saling menggenggam erat, dan mungkin berpelukan, dan mungkin dia mencium keningmu.
Lalu kalian pulang dengan hati yang saling berbunga-bunga.

6-
Engkau marah dan memojokkan dia, engkau membentak dia bahwa dia telah membuat luka yang dalam dan tidak akan pernah bisa terobati selain perpisahan.
Engkau menjadi acuh dan terlihat sangat berang karena dia tidak juga mengerti bahwa engkau sangat tertekan dengan situasi ini. Dan engkau memberi komentar, “Terserah kamu mau menerima atau tidak, mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan tolong jangan ganggu Aku lagi!!”

7+
Kalian berpisah secara baik-baik, tenang dan tidak saling ada yang dirugikan. Kalian berjabat tangan dan berikrar bahwa tidak akan ada permusuhan setelah ini semua.

8+
Masalah selesai


19:34
Aku yakin kamu dapat melewati ini dengan lancar. Sedih atau senang tidak ditekankan di sini tetapi perasaan yang lega lebih kamu utamakan dan dengan tidak merasa tersudutkan oleh keadaan. Aku optimis kamu dapat menemukan jalan keluar dan keluar dari masalah ini dengan hati yang tenang. Dengan tidak ada penyesalan yang berlebihan. Karena Aku yakin kamu berbuat ini karena sudah memikirkan pertimbangan-pertimbangannya dengan sangat matang, baik untuk diri kamu sendiri, untuknya, dan untuk kalian berdua. Agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari.
Aku tidak bisa berkomentar banyak untukmu, tetapi Aku punya doa, agar akhir dari semua ini memang menghasilkan kebahagiaan.

Aku disini, akan menunggu kabar dari kamu tentang kejadian di sore ini, kejadian di suatu senja yang pucat...


14122005

0 comments:

Tanpa Arti

0
December 13, 2005
Ku rajut benang kerinduan dengan janin kematian
Dan ku bentuk menjadi baju hangat
yang akan melindungiku dari dinginnya keterasingan
akan diriku sendiri

Tetap saja,
walaupun Aku berusaha memahami pikiranku sendiri
dan mengikuti kehendaknya,
Aku tidak dapat merasakan kepuasan setelahnya.
Hal yang terlalu gila untuk ku Akui sendiri:
Aku menjadi semakin asing oleh diriku sendiri!!!

Bila pikiranku mengatakan bahwa Aku harus menangis
tetapi tubuhku ini malah mengekspresikannya dengan cekakakan tawa riang, padahal Aku menyadari bahwa itu adalah keterpura-puraan, kemunafikan.
Bodoh, tidak ada kekompakkan antara jiwa dan tubuh ini.
Seharusnya Aku berlinangan airmata saat hati ini berduka atau setidaknya ikut bersedih untuk menghargai sang hati.
Tapi ini tidak, seperti ada dua kubu yang saling bertolak belakang di dalam diriku ini.
Aneh.

Keluguanku telah berganti dengan keliaran
Ucapanku yang apa adanya menjadi berantakan
Dan membentuk suatu ungkapan yang tidak jelas
Kesopananku telah berubah dan kehilangan kendalinya
Tubuhku di kerubungi kemunafikan-kemunafikan
yang langsung memenjarakan “ke-apaada-an” ku …

Banyak yang telah berubah;
Manusia lahir, menjadi dewasa lalu mati
Hewan lahir, menjadi besar lalu mati
Pohon-pohon tumbuh, berbunga, berbuah lalu kering
Aku masih disini, menjadi sesuatu yang tidak jelas
Berkembang dan membentuk sesuatu yang aneh
yang tidak dapat dibaca oleh mata
Dan tidak bisa diartikan dengan hati maupun nurani.

Hatiku, ragaku, nuraniku, jasadku
Telah pergi meninggalkanku dan mencampakkanku
dan yang ada kini hanya sobekan-sobekan harapan
Yang walaupun menjadi utuh kembali
tetap tidak bisa menjadi kesempurnaan
karena banyak bagian yang hilang
Menghilang entah kemana!

Aku bukan diriku sendiri
Dan diriku ini bukanlah Aku yang sebenarnya …

Aku merindukan kuluguan dan kepolosanku
Aku merindukan diriku yang bayi saat itu
Dapat tertawa riang
Dapat menangis keras
Bersih dalam ketelanjangannya
Tanpa beban
Dan dosa . . .


Salemba Tengah, Malam, 13 Desember 2005

0 comments:

Pertanyaan Luka ?

0
December 05, 2005

















Terbuat dari apa luka itu?

Perasaan yang mengiris, membuat hati meringis.
Yang dapat menghancurkan keceriaan dan meluluh-lantahkan menjadi partikel-partikel kekecewaan.
Menghanguskan kesenangan yang telah tertanam selama berjuta tahun hanya dengan waktu yang sekejap,
Membuat asap-asap yang menyesakkan dan meninggalkan abu-abu penderitaan!

Terbuat dari apa luka itu?
Yang menjadikan kebersamaan sebagai suatu ancaman
Dan menganggap kesetiaan adalah ketersia-siaan
Sehingga tidak akan pernah dibiarkan tali kasih sayang bersatu bersama di dalam kekhusyukan.

Terbuat dari apa luka itu?
Yang kini membuatku tersiksa oleh cambukan-cambukan keberingasan hawa nafsu yang menorehkan kepedihan
Dan tombak kecemburuan menancap telak tepat ditengah jantung hatiku hingga jiwaku berdarah-darah
Serta hunusan pedang yang selalu siap menancapkan kesedihannya disaat Aku lengah akan perasaan yang dalam ini terhadapnya!

Terbuat dari apa luka itu?
Apakah luka itu karena gejolak-gejolak hati yang sobek?
Atau, luka adalah manusia itu sendiri,
dimana luka juga mempunyai peranannya sendiri
dalam menghiasi kehidupan?
Benarkah luka adalah bagaimana kita mengekspresikannya sebagai sesuatu yang menyakitkan dan memuakkan?
Ataukah luka adalah khayalanku sendiri...!
Aku tidak tahu, tapi aku dapat merasakannya.
Di sini, di dalam dada ini.


051205 / 20.45 – 21.35

0 comments:

Mengapa Bintang?

0
November 30, 2005
Sepertinya malam ini Aku merasakan satu cinta yang sudah lama Aku abaikan, hai cinta apa kabar? Boleh Aku memanggilmu Bintang? Ku harap ini tidak berlebihan. . .
Dan malam ini Aku merindukan Bintang itu. (15.11.2005 00:13)*


Dia bilang, “Di saat tengah malam, tiba-tiba saja Aku ingin duduk di teras depan tempatku bekerja dan menatap langit yang ternyata tidak kelam. Disana Aku melihat ada bulan penuh cukup terang dan ada satu Bintang yang berpijar terang di atasnya. Lalu Aku membanding-bandingkan, mana yang lebih indah, bulan penuh ataukah Bintang kecil yang benderang. Ternyata pilihanku tertuju kepada Bintang yang terlihat lebih kecil di bandingkan bulan.”

Dia juga bilang, “Bintang jauh lebih indah, mulai dari bentuknya, pijaran sinarnya. Bintang juga selalu ada berpijar walau tidak terang di malam kelam, sedangkan bulan tidak, ia bisa datang untuk satu malam dan bisa menghilang dalam empat malam berturut-turut.”

Dan dia melanjutkan, “Aku ingin memiliki Bintang itu, Bintang yang selalu ada tanpa kita pinta. Selalu membasuh malam-malamku dengan sinarnya. Ada kedamaian saat Aku melihatnya menerangiku. Ada rasa bahagia saat Aku menatapnya.”
Lalu dengan semangat dia berkata, “Aku ingin dapat memiliki sesorang yang menyerupai Bintang itu!”


Manusia dan Bintang apakah bisa disamakan? Ya, secara bentuk mungkin tidak, tapi secara fungsi mungkin bisalah!
Bintang berfungsi memperindah malam dengan terang dan bentuknya yang menawan, sedangkan manusia juga bisa memperindah kehidupan seseorang yang mencintainya dengan terang kasihnya.

Bintang ada menemani malam kelam dan menjaganya dari kesunyian, manusia juga dapat menjadi pengobat kesunyian di saat seseorang merasa sendiri dan butuh seseorang yang lain untuk menemaninya.

Bintang dapat menenangkan dan mendamaikan hati saat kita melihatnya berpijar menembus malam, begitu juga manusia, bisa membahagiakan dan membuat hati berbunga-bunga saat kerinduan menghampiri para pecinta.


Sejauh mana manusia bisa menjadi seperti Bintang, yang berfungsi selalu saja membuat hati manusia merasa senang selalu?

Memang, tidak semua Bintang bersinar dengan terang, tidak semua Bintang ada di saat malam kelam. Bintang walaupun banyak bertebaran menghiasi angkasa malam, tapi hanya beberapa saja yang dapat bertahan menghadapi gelapnya malam, dengan terus berpijar, walau dengan pendaran yang tidak terlalu terang., tapi dia terus berusahan dengan sisa-sisa sinarnya.

Tapi selalu ada saatnya, dimana Bintang tidak mampu bersinar sama sekali walau dengan usaha keras berjuang untuk dapat berkilauan, Bintang tetaplah tidak bisa di sebut sebagai kesempurnaan keindahan, karena dia juga memiliki keterbatasan bergerak.
Adalah semesta alam yang dapat membuat Bintang tidak dapat bergerak dengan leluasa, semesta alam yang seketika dapat menjadi tidak bersahabat dengan malam, semesta alam yang menurunkan kesedihan. Menitikkan bulir-bulir airmata, hujan.

Ya, dengan hujanlah Bintang tidak dapat memperlihatkan keindahannya untuk semesta bumi. Ini hukum semesta alam, yang menandakan tidak akan pernah ada kesempurnaan yang mutlak. Selalu saja ada penghalang untuk menuju kesempurnaan. Tapi itulah fitrah kehidupan.

Sama, manusia juga, walau di ciptakan dengan kesempurnaan melebihi penciptaan makhluk yang lainnya, tetap saja manusia mempunyai kekurangan yang menandakan kesempurnaannya terbatas.
Lalu, jika sudah begini adanya, apakah masih pantas manusia disamakan dengan Bintang?


Dia berkata, “Bintang tetap akan selalu ada, karena hujan hanya sesaat saja menghalanginya, setelah itu Bintang akan kembali ke-keadaan semula, berpendar dan memberikan keindahannya, dan Aku percaya itu. Karena Bintang memang tercipta dari keindahan dan menciptakan keindahan di hati pemandangnya.”

Dia menambahkan, “Aku telah menemukan seseorang yang menyerupai keindahan Bintang itu dan Aku harap ia bisa menjadi penerang di angkasa hatiku.”

Dengan senyum yang sangat manis dia berkata,
“Kamulah orangnya, apakah kamu bersedia menjadi Bintangku?!”


November 2005
*SmS From Renjani

0 comments:

SAYANG DAN KENAPA?

0
October 30, 2005
Sejauh mana kita boleh membohongi hati kita sendiri kalau kita sangat menyayangi seseorang dengan seutuhnya tanpa embel-embel, tanpa alasan yang tidak-tidak! Dan seandainya harus dengan alasan, apakah pantas ketulusan sebuah kasih sayang di beri tuntutan dengan alasan-alasan yang malah akan membingungkan diri kita sendiri.
Saat rasa sayang itu tumbuh dan bermekaran di dalam hati, bukankah terjadi tanpa kita sadari? Tapi mengapa kita sering diserbu oleh berbagai pertanyaan yang malah akan mengotori kasih sayang itu sendiri.

Kenapa dan bagaimana bisa kita menyayangi orang lebih di tekankan disini dibandingkan seberapa besar kekuatan kasih sayang itu tercipta dan terekspresikan dalam nyata.Terkadang, kita malah direpotkan oleh hal-hal yang akan mengganggu proses kealamiahan dari keberlangsungan kasih sayang itu sendiri.
Tidak bisakah perasaan sayang yang tumbuh dan berkembang setiap saat, setiap terjadi pertemuan dan tertuang bersama waktu dapat diterima keberadaannya secara utuh dan apa adanya?

Sama, saat kamu mengatakan karena apa Aku menyayangimu dan mengapa bisa Aku menyayangimu, Aku tidak dapat memberi tahu alasannya, karena Aku tidak punya alasan atau berpura-pura mencari alasan yang tepat untuk mengatakannya kepada kamu. Karena yang Aku tahu hanyalah Aku menyayangimu dengan ketulusan yang tidak bisa Aku paksakan untuk Aku tahan di dalam hati ini.

Aku tidak pandai mengarang untuk dapat menemukan alasan dengan kata-kata yang indah agar kamu dapat merasa nyaman dengan segala bualan alasanku. Aku menyayangimu karena Aku memang menyayangimu, hanya itu yang Aku tahu. Dan hanya dengan mengutarakannya kepadamulah Aku merasa lega menjalani hari-hariku ini.

Dengan tidak bermaksud merendahkan diri ini, Aku menyadari kalau Aku masih terlalu awam untuk berbicara mengenai rasa sayang yang timbul secara tiba-tiba dan tanpa disadari? Aku tidak bisa berpikiran yang muluk-muluk tentang perasaan sayang yang kini Aku rasakan kepada kamu. Karenanya Aku akan makin terlihat bodoh bila menuangkan atau menggambarkan keindahan perasaan sayangku kepadamu ke dalam tulisanku yang amburadul ini, Aku masih sangat miskin kata, Aku juga tidak bisa menuliskan kata-kata yang romantis, dan manis-manis.

Mungkin nanti suatu saat jika Aku sudah dapat menemukan susunan kata yang tepat untuk mewakili perasaan ini Aku akan segera menuliskan dan menunjukkannya kepadamu!


Akhir Oktober Dua Ribu Lima

0 comments:

Belajar Mengarang Surat Patah Hati

0
October 29, 2005
Jangan kaget kenapa tumben-tumbennya Aku nulis surat kayak begini ke Kamu. Aku cuma pengen ngomongin berbagai hal yang udah enggak cukup lagi Aku tampung sama ganjalan-ganjalan lainnya di hati Aku ini, yang Aku rasain sulit banget untuk kita bicarain secara langsung.

Terasa banget, kurang lebih 1 tahun 5 bulan Aku ngejalanin hubungan ini sama Kamu. Banyak kejadian dan kisah telah Aku dan Kamu alami. Banyak kebahagiaan-kebahagiaan yang Aku dapetin dari Kamu, juga enggak sedikit sakit hati yang Aku rasain sama Kamu.
Enggak sedikit …

Pada awalnya Aku ngerasa kalau Kamu adalah sesosok cowok yang tepat untuk bisa ngejaga Aku, nyenengin Aku, dan ngebuat Aku merasa nyaman. Ya, emang pada awalnya Aku emang ngerasain itu sama Kamu. Tapi seiring waktu berjalan, perubahan-perubahan di diri Kamu makin keliatan, dan bikin Aku jadi enggak mengerti.

Kebahagiaan-kebahagiaan saat Aku ada di samping Kamu, saat Kamu bisa membuat Aku terhibur dan tertawa lepas saat kita bercanda. Saat Kamu mau menjadi pendengar yang setia saat Aku bercerita. Dan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya, Aku rasakan makin lama makin memudar dan sedikit demi sedikit menghilang, dan sekarang Aku ngerasa cuma bisa dikenang saat Aku lagi sendiri dan, merindukannya.

Karena sekarang yang sering kita lakukan bukannya, kegembiraan tapi lebih ke berbagai persoalan yang tiba-tiba aja jadi begitu rumit, begitu kompleks.
Hari-hari yang seharusnya jadi kebahagiaan buat kita sekarang udah berganti jadi perdebatan-perdebatan yang berujung pada perkelahian. Setiap kita ketemu pasti ada aja yang diributin, ada masalah sedikit kita pasti berantem, ada ketidak-cocokan sedikit kita pasti berantem, gak ada hari yang kita lalui tanpa berantem.

Jujur, kalau begini terus, Aku enggak kuat. Karena setiap kita abis berantem selalu menyisakan sakit di hati Aku. Dan setiap sisa-sisa itu menimbulkan kenangan pahit yang enggak tau apa bisa hilang atau enggak!

Aku sebenernya sayang sama Kamu, tapi kalau sikap Kamu sekarang kayak gini terus ke Aku, Aku gak bisa. Capek!!!

Aku terkadang enggak tahu maunya Kamu itu apa dan maunya bagaimana sama hubungan kita ini. Banyak kejadian yang bikin Aku jadi tambah enggak mengerti sama Kamu. Kayak, aneh aja kalau tiba-tiba Kamu ngambek, padahal sebelumnya kita baik-baik aja. Giliran Aku tanya, “ada apa?” Kamu malahan diem aja dan enggak mau ngasih tau ada apa! Gimana Aku bisa tahu kesalahan Aku sedangkan Kamu enggak bisa ngasih tahu kesalahan Aku dimana!

Aku berusaha maklum. Karena Aku tahu Kamu emang cuma mau di maklumin kalau lagi ngambek. Iya kan? Tapi sampai kapan?!
Salah satu hal yang Aku enggak suka dari Kamu, Kamu itu enggak bisa terbuka sama Aku. Kalau lagi ada masalah, Kamu lebih suka di pendam sendiri dan enggak pernah mau berbagi sama Aku. Pada mulanya Aku berfikiran mungkin Kamu enggak mau bikin Aku juga jadi susah gara-gara masalah Kamu, tapi lama kelamaan Aku ngerasa enggak ada gunanya aja bagi Kamu, karena Kamu enggak bisa berbagi sama Aku. Padahal kan Aku juga gak masalah kalau Kamu mau berbagi kesusahan sama Aku. Malah Aku senang. Karena dengan begitu Kamu nganggep Aku ada. Ada di saat senang dan ada di saat susah. Tapi sayang Kamu enggak bisa jadi seperti itu. Kenapa ??!

Di tambah lagi kalau kita lagi ribut, Kamu enggak pernah kalau ada masalah, langsung di selesain saat itu juga. Kamu lebih sering kabur dan menghilang, bahkan di saat kita berantem di jalanan pun Kamu seenaknya aja ninggalin Aku sendirian. Apa Kamu enggak mikirin perasaan Aku saat di tinggalin Kamu. Kamu tega banget. Aku tuh cewek!!!

Harus dengan cara apa lagi supaya Aku bisa terus menerus ngertiin Kamu, sedangkan orang yang Aku ngertiin enggak pernah ngertiin Aku. Harus dengan apa Aku ngelayanin keegoisan Kamu yang selalu ingin menang sendiri. Yang semakin lama semakin membuat Kamu seperti berkuasa atas diri Aku, yang semakin lama Aku ngerasa semakin tertekan.
Setiap kata maaf yang keluar dari mulut Kamu sehabis kita ribut besar emang selalu bisa Aku maafin, emang Aku akui hati Aku gampang luluhnya. Aku begitu bukannya Aku lemah, tapi lebih karena Aku pengen ngasih kesempatan buat Kamu, dan Aku selalu berharap Kamu dapat berubah setelah Aku maafin Kamu. Saat Aku maafin Kamu, Aku ikhlas melakukannya. Tapi keikhlasan Aku juga dengan harapan ada hikmah di baliknya. Udah terlalu banyak kesempatan itu Aku kasih ke Kamu, tapi tetep aja Kamu enggak berubah-berubah juga. Tetap melakukan kesalahan yang sama. Capek!!!

Sungguh, Aku enggak minta banyak dari Kamu, Aku enggak mau nuntut yang macem-macem sama Kamu. Aku juga enggak mau di kasihanin sama Kamu. Aku cuma mau kita bisa ngejalanin hubungan ini dengan apa adanya. Aku cuma minta sedikit aja, cuma sedikit, supaya Kamu bisa ngertiin Aku. Dan kita bisa saling berbagi, saling tau posisi masing-masing, bisa nyelesein masalah dengan kedewasaan kita. Aku pengen bisa bahagia sama Kamu, dan Aku enggak mau terus di sakitin sama Kamu. Apakah semuanya sudah terlambat? Aku enggak tau!

Di dalam surat ini, Aku bukannya mau ngungkit masalah yang udah-udah, tapi sebatas supaya Kamu tahu berbagai hal yang membuat Aku ngerasa sakit hati. Sekali lagi sakit hati! Biar Kamu juga mikirin, apakah sehat suatu hubungan kalau terus menerus di jalani dengan begini. Dan disini Aku enggak mau ngejabarin semuanya, Aku sebenernya bisa nyeritain semua kejadian-kejadian yang sangat menyesakkan Aku, bagaimana aja prilaku Kamu yang enggak enakin hati Aku. Tapi tanpa Aku jabarin semuanya, Aku yakin Kamu juga masih inget dan ngerasa.

Udah enggak ada yang bisa di pertahanin lagi untuk kita bisa bersatu kalau kejadian-kejadian yang sama, kesalahan-kesalahan yang sama sering terjadi dengan penyeselaian yang ngambang dan seakan enggak berujung, enggak ada habis-habisnya. Aku rasa udah cukup sabar Aku ngadepin prilaku Kamu yang selalu saja bikin Aku sakit. Aku enggak mau hidup dalam sakit yang berkepanjangan. Udah abis airmata ini buat Kamu. Udah terlalu dalam sakit yang Aku terima. Dalem banget. Kamu udah membuat luka yang dalam di hati Aku.

Aku sekarang enggak tahu apa arti kebahagiaan. Karena kebahagiaan yang dulu Aku bayangkan adalah kesenangan, kegembiraan, saat orang yang Aku sayangin mencurahkan segala kasih sayangnya buat Aku seorang. Kebahagiaan yang dapat membuat airmata ini berubah menjadi senyuman, kebahagiaan yang dapat membunuh rasa sepi dan keterasingan dengan kepedulian, kebahagiaan…

Tapi apa yang Aku rasakan dari kebahagiaan itu? Apa yang Aku dapatkan? Kebahagiaan yang berbentuk duka, yang membuat Aku malah menjadi terluka, merasa sakit, apakah kebahagiaan terbuat dari airmata yang akan terus mengalir saat kita ada bersama? Apakah kebahagiaan itu terbuat dari amarah yang selalu saja keluar saat kita sedang bersama?

Aku jawab iya! Karena begitulah kebahagiaan yang Aku dapatkan dari kamu! Kebahagiaan yang melahirkan janin-janin kepedihan, sesuatu yang hanya menjadi kenistaan..
Beginikah kebahagiaan yang sesungguhnya itu???!
Seperti inikah kisah cinta?


Salam Luka,
Wanita Pecinta.


(Story of Renjani's Heart)
Oktober 2005

0 comments:

C i n t a T u j u h T a h u n

0
October 27, 2005
Tujuh tahun menanam benih cinta di pekarangan hati. Sungguh sangat terasa berat Aku menjalaninya. Bayangkan, berapa juta liter air yang Aku butuhkan untuk menyiraminya setiap hari, dengan waktu dan takaran yang sudah sedemikian tepat Aku perhitungkan. Berapa ribuan kilogram pupuk harus Aku taburkan setiap harinya demi menjaga kesehatannya dan menjaga kesuburannya. Belum lagi dengan tenaga yang Aku berikan, dengan waktu yang Aku sisakan dari hidupku.

* * *


Sungguh, Aku mengatakan ini kepadamu bukan karena Aku ingin memamerkan kekuatanku, walau kenyataannya ini bukan kekuatan tetapi lebih kepada kelemahan yang berlindung dibelakang pohon kesombongan. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa Aku juga punya pengorbanan yang ingin mendapat pengakuan dan penghargaan yang menjadi layak untuk dipertimbangkan.

Sejujurnya Aku sangat tidak ingin menjadi manusia yang dipandang lemah olehmu, tapi Aku menjadi begini karena Aku ingin kamu menjadi peka terhadapku, bahwa Aku ada dan keberadaan Aku bukan sebagai kenangan, tetapi lebih kepada menjadi keindahan yang selalu mengisi harimu.

Tujuh tahun bukan waktu yang sangat lama dan juga bukannya waktu yang tidak sebentar. Dengan kesabaran yang Aku miliki Aku meniti setiap langkahku dengan teliti. Menjalani dengan berbagai khayalan yang selalu Aku nantikan menjadi sebuah kenyataan. Karena Aku berkeyakinan bahwa tidak akan ada kenyataan yang indah sebelum ada khayalan tentang keindahan itu sendiri. Bukankah kehidupan kita berkembang karena khayalan kita yang selalu berlebihan? Aku percaya itu!

Tolong kamu jangan terburu-buru mengambil keputusan menilai Aku, tolong dengarkan terlebih dahulu penjelasanku mengapa Aku berlaku seperti ini kepadamu. Berikan Aku sedikit waktu agar semuanya menjadi lebih bermakna untukku, bila ini akan menjadi kebahagiaan, Aku akan bersyukur. Tapi bila ini akan menjadi akhir dari cerita, biarkanlah semua ini menjadi akhir yang menyejukkan untukku.

* * *


Selama tujuh tahun Aku menyayangimu dengan caraku sendiri. Entah kamu menyadarinya atau kamu memang tidak tahu sama sekali. Aku tidak bisa menebak-nebak hatimu, Aku tidak ingin terlalu cepat berbaik sangka kepadamu. Hampir setiap waktu kita lalui dengan bersama, sampai Aku merasa sudah tidak ada jarak lagi di antara kita. Menjalani hari bersama, bergandengan tangan dengan senyuman, atau berangkulan dengan kesedihan. Itu selalu Aku artikan sebagai keindahan tersendiri.

Kamu ingat, saat kita menikmati kesejukkan air terjun cibodas, tujuh bulan setelah perkenalan kita. Ada tindakan yang seharusnya kamu dapat pahami dari diriku. Aku mencium keningmu dan membisikkan kata sayang kepadamu. Itu Aku utarakan bukan sekedar kata sayang yang biasa, yang kamu anggap sebagai kasih sayang antara sahabat. Tidak, sama sekali tidak seperti itu yang Aku rasakan saat Aku mengucapkannya, karena sayangku kepadamu adalah kasih sayang yang sangat mendalam dan kasih sayang untuk dapat memilikimu.

Tapi memang, adalah kebodohanku yang tidak berani berterus terang kepadamu. Aku memang tidak berani dikarenakan Aku belum siap dengan segala sesuatu yang terjadi setelah Aku mengutarakan semuanya. Aku tidak mau merusak kebahagiaan kita dengan keinginanku yang terburu-buru. Aku biarkan perasaan ini berkembang dan terus berkembang. Sampai saat ini.

Selama kita kenal, dan seminggu yang lalu kita bertemu, Aku tidak merasakan adanya sinyal-sinyal yang menandakan kamu memiliki perasaan yang sama denganku. Aku tahu dari berbagai ceritamu kepadaku. Saat kamu bercerita kamu suka dengan teman sekelasmu, kamu berpacaran dengan tetanggamu, dan berkali-kali kamu mengadu kepadaku bawa kamu disukai oleh setiap lelaki yang tiba-tiba saja menjadi akrab dengan kamu. Aku merasa kamu benar-benar hanya menjadikan Aku sebagai lawan cerita yang selalu siap sebagai tempat pengaduan. Aku tidak menyalahkan kamu karena tidak begitu peka terhadap sinyal-sinyal yang Aku berikan kepadamu. Mungkin hanya dengan cara inilah Aku dapat membahagiakanmu, setidak-tidaknya Aku masih tetap bisa dekat dengan kamu.

setiap ada pertemuan, selalu saja ada perasaan ini untuk mengutarakan setiap keinginan ini, tapi selalu terhalang oleh candamu yang memang selalu dapat membuat Aku lupa akan segalanya yang Aku rasakan. Dan Aku pun tidak ingin merubah suasana yang sangat menyenangkan saat kita bercanda menjadi keseriusan yang nantinya akan membuat suasana santai kita menjadi ricuh. Selalu saja Aku pertahankan perasaan yang sebenarnya sungguh menggebu ini.

* * *


Tapi maaf, sekarang tidak. Sekarang kamu harus mengetahui segalanya tentang perasaanku. Tentang kegalauanku selama ini. Tentang keinginan kepadamu. Tentang rasa sayangku kepadamu. Aku sudah cukup bersabar menahan semua ini dan Aku sudah bersahabat dengan ketidaktergesa-gesaan. Jadi biarkan. Sudah saatnya Aku menuai hasil dari bibit yang Aku tanam. Aku sudah siap dengan segala konsekuwensinya.
Dengan kesadaran penuh, Aku sudah mempertimbangkan dan memperhitungkan segala yang akan terjadi nantinya diantara kita. Biar semuanya menjadi jelas dan Aku menjadi lega dengan penantian ini. Maaf. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Aku menyayangimu dengan segala ketulusan perasaan ini.
Maukah kamu menjadi kekasih abadiku?


Oktober 2005

0 comments:

Dalam Kenangan

October 15, 2005
Dalam kenangan Aku kembali ke masa silam.

Menerawangkan kenangan tantang sebuah keinginan yang tanpa di sengaja tercapai. Harapan kosong yang ternyata telah terlanjur menjadi sesuatu yang benar-benar dapat teraih.

Saat malam tidak begitu kelam, bulan penuh tertutup awan tipis, tapi masih dapat menyinari malam, walau tidak benderang.
Saat semilir angin pantai menderu dengan lembut, membelai kulitku yang seketika menjadi begitu menggigil.
Saat desiran ombak sambut menyambut menjamah tepian terasa bagai senandung kesepian.
Saat semuanya menjadi begitu berat untuk di lupakan.

Aku kembalikan fikiranku pada malam itu, malam yang selalu saja Aku anggap sebagai mimpi yang terdalam. Malam yang mengantarkan Aku kepada suatu keadaan yang sampai saat ini masih dapat Aku terima dan tidak dapat Aku anggap sebagai ketidak-beruntungan.
Malam-malam dimana kelelawar lebih berkuasa di bandingkan manusia, kengerian yang lebih terasa di bandingkan rasa aman. Aku sendiri. Menyeret tubuh ini menuju ke suatu tempat yang tidak pernah Aku pikirkan untuk melangkahkan kakiku kesana: tempat terindah untuk bercerita dan bercinta.
Dalam kenangan Aku kembali ke masa silam.

Mengkhayalkan kejadian yang seharusnya tetap berada di dalam khayalan, tetapi bergerak mencuat ke permukaan dan menjadi kisah nyata yang ternista.
Menerobos ke dunia nyata dan menyisakan bekas langkah terseret berderet bereretan, yang terus menerus menyambung.

Khayalan, begitu berbahayanyakah engkau khayalan? Memberontak untuk tidak terus-menerus menjadi khayalan tetapi menjadi kenyataan.
Hingga kesadaranku di lumpuhkannya.
Hingga Aku pasrahkan semuanya pada keadaan.

Malam dengan dingin yang membuat kehangatan adalah jawaban, malam dengan sepi dan sunyi dan menjadikannya sebuah kesempatan.
Aku bertemu denganmu. Yang Aku tidak begitu mengenal kamu, begitu pun kamu, yang mengenalku hanya di malam itu. Bahkan Aku tidak dapat membayangkan wajahmu dengan jelas karena selimut malam membuat semuanya menjadi remang-remang.
Senyuman yang berubah menjadi sapaan,
dan berubah menjadi obrolan,
dan berubah menjadi cerita,
dan berubah menjadi canda,
dan berubah menjadi tawa,

dan berubah menjadi sentuhan,
dan berubah menjadi rangkulan,
dan berubah menjadi pelukan,
dan berubah menjadi dekapan,
dan berubah menjadi ciuman,

dan berubah menjadi cumbuan,
dan berubah menjadi pemburuan nafas,
dan berubah menjadi senggamaan,
dan berubah menjadi erangan,

dan berubah menjadi jeritan,
dan berubah menjadi kenikmatan,
dan berubah menjadi…

Dalam kenangan Aku kembali ke masa silam!


Tengah Oktober 2005

Sahabat???

0
October 07, 2005


Aku masih belum mengerti dengan arti dari persahabatan
Yang katanya,
Yang kedengarannya,
Yang rasanya,
Buih-buih kesegaran hidup dapat dinikmati disana

Aku tidak paham arti dari kata sahabat
Berbagi,
Mencipta:
Kesenangan, kepedihan, hura-hura,
Wah-wah-wah…

Sahabat,
Sahabat.

Sahabat,
Seseorang,
Dua-tiga orang,

Datang dan mendekat,
Merangkul sambil menjilat
Menghindar lalu menjauh,
Setelah Aku sekarat
Lalu menghilang,
menghilang!!!


Dalam duka, 07 Oktober 2005

0 comments:

Aku bercinta lagi,

0
October 01, 2005
men,
Dalam kesadaran tinggi gue menyadari kalau ternyata gue sangat menyayangi dia, men!
Dia yang seharusnya biasa aja, tetapi entah menjadi begitu luar biasa di kehidupan gue, men!

Entah sekarang gue harus berbahagia atau tidak, karena gue merasa ada rasa nyaman saat dia ada di dekat gue, ada ketenangan yang gue gak bisa artikan sebagai apa dan bagaimana, yang pasti hati ini tenteram aja, men!
Dan ini yang gue butuhkan men: Ketenangan Jiwa.

Ada rasa takut kehilangan yang sangat, men, saat gue memandang keteduhan wajah dia sambil berfikiran tentang hari esok, tentang apa yang akan terjadi nanti dengannya.
Apa yang harus gue lakukan, men? Agar gue gak terjebak dengan situasi ini, yang nantinya malahan membuat kegembiraan ini menjadi kekakuan dan akhirnya menjadi sesuatu yang mengecewakan: perpisahan!

Dia, yang sebelumnya gak pernah gue bayangkan akan seperti ini. Dia, yang semula hanya gue anggap sebagai pecinta pada umumnya ternyata punya beberapa kelebihan yang enggak dipunya oleh wanita yang gue kenal. Dia punya ketegaran yang luar biasa dalam menghadapi setiap masalah yang terjadi diantara dia dengan kekasihnya. Gue enggak perlu menjelaskan lebih rinci untuk ketegaran dia ini, yang pasti dia termasuk cewek yang punya kepribadian tidak pada umumnya.
Dan kini gue telah menyayanginya, men.

Pasti loe kaget, men. Karena bisa-bisanya gue menyayangi orang yang telah menjadi milik orang lain.
Aneh, men yaa?

Oktober 2005

0 comments:

Rasa Yang Tak Menyambung Asa

0
September 27, 2005
Terlalu banyak luka dan terlalu sering terulang kejadian yang tidak mengenakkan saat kita bertemu dan melakukan kegiatan-kegiatan yang membosankan
Keterlaluan sekali,
Aku rasa kita tidaklah bodoh dalam menghadapi segala ketololan yang semakin lama semakin membuat nyata kita menjadi lebih dungu daripada seekor keledai.
Mengharapkan cinta yang tumbuh dengan dasar kesetiaan dan kasih sayang,
Bermimpi tentang kisah yang tak berujung antara kita.
Sudahlah,
Jangan memaksakan keadaan ini
Biarkan,
Toh, tidak ada gunanya melakukan segala pembelaan dan pengorbanan karena itu hanya akan menjadi ketersia-siaan dan menghasilkan kehampaan.
Singkatnya Aku sudah muak dengan semua ini
Jadi, biarkanlah Aku sendiri tanpamu, pecundang!!!


To : 51+2
September Dua Ribu Lima

0 comments:

Mawar dan Tukang Kebun

0
September 15, 2005

Kelopak-kelopak mawar itu
perlahan mulai mencuat lembut.
Dengan perlahan dan pasti
menimbulkan gerakan-gerakan seperti penari
yang meluncur di atas es.
Kelopak yang berjuang untuk bermekaran itu terus menari
dengan kehalusannya
Sedikit demi sedikit menebar kilau merah yang memukau
– dan tentu saja dengan harumnya yang binal,
yang membuat kupu-kupu tergoda.
Kelopak itu mendekati kesempurnaan dalam mekarnya
membuka lipatannya dengan teratur,
berpelukan erat seakan saling menjaga dan tidak ingin terpisahkan
Sempurna, indah, mewangi,
akhirnya kelopak itu menjadi mawar yang terkembang utuh,
indah dalam kesempurnaannya
Merahnya memendarkan keharuman,
tubuhnya memukau
Sungguh-sungguh menggoda…

Creess,…
Tapi sayang,
Keindahannya hanya sesaat,
kelopak yang telah menjadi mawar tersebut merana,
karena tukang kebun itu memotong tangkainya dengan gunting.
Dan kemudian di kumpulkan bersama yang lainnya
di dalam keranjang berwarna jingga
Kelak kamu akan menemuinya di emperan-emperan toko
yang menjual aneka bunga-bungaan.
Mungkin juga kamu pernah membelinya
Sayang keindahan itu hilang kesempurnaannya
Bahkan menjadi hina dina,
Karena dengan hanya Rp. 5000,- kita dapat memilikinya
Memiliki keindahan tanpa kesempurnaan
Huh, dasar tukang kebun…


2005

0 comments:

Cinta yang Menggelepar

0
September 09, 2005
setelah ini hanya akan ada rasa kesepian dan keterasingan
karena kesendirian yang terlalu meraja di jiwa
kebisingan tidak mampu mengusik dan mengusir
keangkuhan selalu menjadi fondasi yang tidak terelakkan

“ Aku tidak menginginkan dirimu ada disaat kesepian ini menghujamiku dengan sangat pedih
Aku tidak mau mengganggu kebahagiaanmu
Karena Aku tahu itu hanya milikmu ”

Biar … biar …
Aku masih terlihat perkasa dengan kepedihan membusung di dada
Aku tetap jumawa menghadapi maut dari angkasa
Tak usah menimbang kebimbanganku
Biarkan saja begini adanya …

Sekarang Aku tidak lagi sendiri
Karena memang Aku tidak pernah sendiri
Aku selalu bersua dan berdua dengannya
Aku bercinta kasih dengan luka didada .. !


SEPTEMBER 2005

0 comments:

K e s a l

0
September 01, 2005
Sendiri di malam kelam hanya di temani oleh purnama yang enggan memberi sinarnya, hanya pendaran-pendaran kecil yang terpercik dari baranya. Sungguh pelit. Tapi biarlah, toh Aku tidak begitu perduli dengannya. Buktinya, Aku masih bisa tetap disini menyendiri dan tidak merasa terganggu dengan ketidak-hadiran sinar terangnya. Kulanjutkan lamunanku tentang dirimu.

Memang sungguh tidak Aku sangka, waktu begitu berperan membunuh setiap gerakan kita. Waktu sangat menentukan tindakan kita. Coba seandainya tidak ada waktu yang berputar dan membatasi. Apa jadinya ya? Bisa melakukan segala kesenangan kita tanpa harus dikejar-kejar dengan kesenangan yang lain. Bisa berlari kesana- kemari dengan bebas tanpa harus di buntuti dengan kesibukan yang lain. Bisa terus berduaan terus dengan kamu. Mmm…

* * *


Itu yang selalu Aku sesali. Mengapa setiap Aku bersama kamu, waktu terasa begitu cepat berjalan, bahkan berlari. Sungguh-sungguh cepat. Padahal Aku ingin bisa bersama kamu dengan waktu yang agak lama. Biar Aku puas. Biar Aku bosan. Padahal Aku baru saja menggenggam tanganmu, tapi dua jam telah berlalu tanpa bilang permisi. Baru saja Aku ingin mengecup keningmu, eh, senja telah berbenah ingin pulang ke ujung cakrawala. Tujuh patah kata yang terucap olehku di hargai oleh waktu selama tiga puluh menit per huruf. Sungguh gila. Begitu kejamnya waktu membatasiku. Mengganggu kesenanganku, mengusik kebahagiaanku. Padahal terang-terangan Aku tidak pernah menggangu dia walau hanya sebentar. Aku juga tidak membutuhkan dia, sungguh, Aku hanya membutuhkan kekasihku selalu ada di sampingku, sekali lagi tanpa waktu!

* * *


Terpaksa kini Aku mengkhayal tentang kebahagiaan semu. Walau sang waktu tetap saja membuntuti Aku secara langsung. Tapi Aku masa bodoh. Benar-benar masa bodoh. Habis Aku lelah bila harus terus mencaci maki waktu yang tidak ada habisnya mengganggu kesenanganku.

Aku berkhayal tentang suatu ruang yang Aku sendiri tidak begitu yakin apakah ruang itu sungguh ada di alam nyata atau tidak. Aku tidak perduli. Tapi Aku bisa sangat yakin kalau ruang itu memang sangat nyata dalam khayalanku. Ada sebuah padang luas, bahkan lebih luas dari lautan, lebih lebar dari padang sahara. Ditumbuhi dengan bunga-bunga yang bentuknya sangat indah, dan tidak tercantum termasuk jenis apa bunga itu dalam kamus jenis-jenis bunga yang ada di dunia manusia. Wanginya pun tidak bisa ada yang menandinginya, Aku tidak bisa menuliskannya dalam ceritaku ini. Dan Aku harap kamu dapat mengkhayalkannya sendiri bagaimana keharumannya itu. Yang pasti dan Aku jamin wanginya sangat menyejukkan jiwa ini. Tidak ada yang menandingi keharumannya, baik bunga mawar, melati, kenzo, atau parfum termahal yang dibuat oleh serbuk aneka bunga-bunga pilihan yang tersedia di bumi manusia. Aku menjamin ini sangat beda. Seakan-akan wanginya itu dapat masuk kedalam tubuh kita dan menyatu dengan darah dan hati kita.

Di padang bunga itu Aku didampingi oleh kamu, kekasihku, yang manis dan akan selalu terlihat manis dengan lesung yang selalu terkembang saat kamu tersenyum. Kita bercanda berkejar-kejaran, setelah merasa capai kita berbaring ditumpukan bunga-bunga terindah itu sambil bertengadah menatap awan yang berwarna merah jambu. Langit pun berwarna merah jambu dan tidak biru. Sambil berbaring Aku dengan kamu berbincang-bincang dengan suara kelembutan yang selalu terjaga. Aku dan kamu berbicara tentang cinta. Entah mengapa tidak pernah bosan Aku dengan kamu membicarakan tentang keindahan cinta kita berdua. Lalu kita tertidur lelap setelah sebelumnya kita berpelukan dan berciuman dengan bara cinta yang menggelora. Dan saat Aku bangun dari tidur yang sangat nyaman karena ranjang kita diselimuti oleh bunga-bungaan. Aku mendapati kamu yang sedang asyik menciumi kupingku sambil sesekali berbisik pelan, “Aku sayang Kamu...”

* * *


Kekasihku, bukankah sungguh indah khayalanku ini. coba bayangkan khayalanku ini kekasihku, seandainya tidak ada waktu yang menggerogoti saat kita bersama. Malahan Aku masih punya banyak impian tentang kita, yang pasti sesuatu yang indah. Tapi, mungkin di lain waktu Aku akan menceritakannya kepadamu kekasihku. Sekarang Aku masih ingin bermimpi tentang kita. Selamat malam!


September 2005

0 comments:

Pada akhirnya,

0
August 27, 2005
Dan pada akhirnya,
Aku memang membutuhkan cinta.

Telah lama Aku kehilangan cinta, cinta yang memang selalu merajai kehidupan melalui kebahagiaannya.
Cukup lama Aku menepikkan cinta dan menganggapnya sebagai kekosongan dan ketersia-siaan.
Ternyata Aku kesepian tanpa cinta, ternyata Aku kehilangan sesuatu yang menjadi penggerak jiwa ini,
Dan kini Aku menyadarinya.

Semula Aku berfikir kalau Aku mampu menjalani hari-hari tanpa harus di dampingi dan di selimuti cinta.
Bisa bergerak bebas dan melakukan berbagai kesenangan yang tak terbatas oleh kehendak cinta
dan belenggu-belenggunya.

Tanpa cinta, Aku masih mampu merasakan hangatnya siraman metari, menikmati keindahan senja yang siap membakar cakrawala dengan merahnya,
menyusuri malam dalam damai bersama bintang-bintang.
Tapi Aku merasakan itu semua, sangat mempesona di dalam khayalanku. Karena tanpa cinta, keindahan alam nyata hanya akan menjadi khayal tanpa perwujudan.
Dan Aku, mimpi bersama khayalan-khayalanku.

Cintalah yang menjadi penyempurna alam semesta ini.
Dengan cinta, tidak akan Aku temui masa-masa dimana kesunyian siap menerkam padahal di luar,
malam bersenggama dengan purnama.
Tidak mungkin kesepian akan menikamku dari belakang dengan belati kepedihannya, sedangkan pelangi menyelimuti bumi setelah hujan membasahi kemarau.
Karena cinta ada dan memang di tugaskan dengan misi-misinya menaburkan wangi dan kedamaian di bumi
dan semesta ini.

Kesendirian memang pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan dan berujung sangat mengenaskan, itulah yang kini Aku rasakan sekarang ini.
Aku seperti seekor kelinci yang tersesat di tengah padang pasir tanpa perbekalan apapun, berlarian kesana-kemari tanpa hasil, yang ada hanya padang-padang berpasir yang tidak ada batasnya. Siang Aku kepanasan dan malam Aku menjadi beku. Kehausan dan kelaparan. Hingga sekarat…

Kegelapan-kegelapan di malam pekat memelukku dengan dingin dan dengan sengaja membuat Aku makin tersesat dan menjauh dari tujuan langkahku.
Aku menjadi manusia yang tidak memiliki cita-cita.
Aku terlalu munafik dan berbagai kesombongan menguasaiku.
Hingga Aku menjadi hitam tanpa cinta.

Aku terlalu meremehkan cinta, sebuah kekuatan besar yang seharusnya Aku miliki juga karena kedahsyatannya yang mampu mencabik-cabik dan memporak-porandakan rasa sepi dan rasa asing bagi diri sendiri.
Harusnya Aku juga memiliki cinta, agar Aku bisa mengartikan sebuah senyuman adalah manis bukan sinis,
Sapaan adalah kepedulian bukannya basa-basi, dan cinta adalah anugrah tak ternilai bukannya bencana.

Mungkin karena Aku tidak mampu membaca dunia cinta Aku menjadi buta terhadap prilaku manusia pecinta. Mungkin. Karena saat kata cinta terdengar olehku, besitan hatiku langsung tertuju pada kemunafikan-kemunafikan boneka bernyawa yang memainkan kegombalan-kegombalannya. Boneka yang haus akan puja dan puji, manja dan takut dengan rasa kehilangan. Cinta yang menjadi topeng untuk dapat saling menguasai dan menundukkan, otoriter, posesif…

Para pecinta adalah segerombolan pesakitan-pesakitan yang siap di buang ke dalam lembah jahannam setelah mereka tidak berdaya oleh permainan cinta yang dimainkannya sendiri.
Saat itu, begitu dengkinya Aku terhadap cinta.
Sampai Aku tidak menyisakan celah untuk tidak mencacinya, muak dan akhirnya muntah.
Terus-menerus Aku menghujamkan kebencianku pada cinta. Kini Aku tidak berdaya. Aku kalah.

Aku tidak bisa membunuh cinta,
bahkan melukainya pun Aku tidak mampu.
Aku lelah. Aku mengalah.
Kekalahanku dalam mencoba membunuh cinta dalam hidupku telah meyadarkanku bahwa sampai kapan pun
cinta akan selalu ada dan tidak akan pernah mati.
Membunuh cinta berarti membunuh kehidupan ini
dan semua isinya termasuk manusia.

Membunuh cinta berarti membunuh diri sendiri.
Aku terima keadaanku, bahwa kini Aku (juga) membutuhkan bahan bakar kehidupan agar Aku bisa menuju ke kebahagiaan.
Aku butuh penyemangat untuk membangkitkan kelesuan ini. Sudah tidak ada alasan lagi bagi diriku untuk tidak, atau berpura-pura tidak membutuhkan cinta.
Karena semua sudah jelas bahwa Aku tidak berdaya
menjalani kehidupan ini tanpa percikan cinta.

Maafkan Aku cinta,
yang telah memandangmu dengan kebutaanku,
Mendengarkan senandungmu dengan ketulianku.
Aku harap kamu tidak menjauh dariku, cinta.
Karena Aku membutuhkanmu. Sangat butuh…

Aku butuh cinta.
Dan Aku mengakuinya.


Juli – Agustus 2005

0 comments:

S e n j a M u r k a

0
July 27, 2005
Senja murka,
Membakar jalanan dan gedung-gedung dengan merah merambat masuk underpass,
menyusuri gorong-gorong,
melewati gang-gang kecil yang sesak
dengan pemukiman kumuh tambal sulam
Memerahkan lorong-lorong gelap
dan tempat-tempat hitam
Membunuh dan menguasai kelam
Tak perduli cakrawala merintih minta di jemput

Senja masuk ke dalam kamarku tanpa ketuk
tanpa sapa
Lalu merahnya memasuki kolong tempat tidurku
Masuk ke dalam laci, lemari, sepatu, rak buku
dan berlalu menembus jendela yang setengah terbuka

“Wahai Senjaku yang manis, janganlah kamu merajuk,”
tapi senja tetap memicingkan mata.
Tanda kebencian!
“Senjaku Sayang, tersenyumlah..”
Senja tetap memerah,

Setengah bumi telah di kuasainya
Tujuh puluh persen alam semesta dibuatnya menyerah
Senja telah membuat bencana melahirkan kedukaan manusia,

“Aku akan tetap dengan pendirianku, membakar semua dengan merahku. Akan aku buat kalian tersiksa dan menderita! Inilah ganjaran akibat pengkhianatan kalian semua kepadaku! Karena menodai keindahan dan kehangatanku dengan darah-darah sesama kalian, dengan melacurkan cinta di antara hawa nafsu! Dengan dendam-dendam yang menuaikan airmata..”

Senja pun tetap membara sepanjang masa,


2005

0 comments:

To : Rengganis si Cantik

1
July 07, 2005
Tolong acuhkan saja tulisan ini, seandainya di setiap kata yang terurai setelah ini hanya merupakan kegombalan semata bagi kamu. Tapi sungguh, semua ini Aku lakukan atas kesadaran hatiku yang mendekati ketulusan dari sebuah cinta, yang sekilas terasa murahan namun bila kamu dapat menangkapnya dan memahaminya, akan kamu rasakan berbagai getaran di setiap perjalanannya. Dan maaf sebelumnya, bila baha-sanya ngaco, tidak beraturan dan bersok-sokan dalam berpuitis, maaf.

Adalah wajahmu yang memancarkan kesejukan hingga membuat Aku terpesona setiap kali memandangmu, dan senyummu nan menawan membuat Aku terperosok tak berdaya. Sampai Aku memaki diriku sendiri karena tidak bisa menatapmu lebih lama lagi. Di tambah dengan sipuan malu yang terkadang langsung memalingkan wajahmu saat kita beradu pandang (Aku tahu dimata itu tersimpan misteri –-yang harus Aku singkap).

Aku ingat, di hari itu, saat mentari masih berbenah diri mempercantik rupa sebelum menjamah pagi dengan hangatnya. Kamu datang dengan sapaan sebuah senyuman yang masih dapat Aku ingat dengan jelas sampai kini. Walau Aku menyadari, Aku bukan yang kamu tuju saat kamu ke tempatku, tetapi lelaki yang berada di seberang pulau yang ingin kamu jumpai dengan suara melalui untaian kabel yang membuat jarak ratusan ribu bahkan jutaan mil terasa dekat. Bagai saling bertatapan sambil bergandengan tangan. Entah berbicara tentang cinta, entah berbicara tentang luka, kerinduan, pengakuan, kesaksian, pengaduan, kegelisahan. Bercanda dengan cinta atau menangis dengan luka, Aku tidak tahu. Aku tidak tahu dan hanya bisa menduga-duga saja. Menebak ada rasa senang dan puas di saat itu.

Lalu, tiba giliran untukku, dan kita berbincang dan berbincang. Kaku, canggung, dan jantungku berdebar. Kamu ingat, kita hanya berdua saja di tempatku, di luar sepi dan mentari pagi masih belum menampakkan terangnya.

Ya, setelah saat itulah Aku mulai dapat mengenalmu, walau belum terlalu dalam, tapi Aku senang karena kamu dapat Aku rindukan di saat Aku berteman sepi. Aku membebaskan kerindukanku padamu berkeliaran karena Aku tidak ingin mengekangnya dan Aku tidak mau membunuhnya. Jadi, Aku membiarkannya. Kadang Aku merindukan senyummu yang indah merekah, pipimu yang merona, matamu yang masih mengundang banyak tanda tanya, wajahmu yang menyejukkan jiwa tertutup rapat kerudung putih, jalanmu yang anggun,…

Semoga kamu tidak terusik saat Aku bermain dengan rinduku. Sedikit berkhayal tentang kamu. Kamu tenang saja, khayalanku sehat. Aku belum tahu dan belum berani, apakah Aku diizinkan mendalami kamu dan berbincang berdua tentang cinta. Itu Aku serahkan kepadamu dan pada perputaran waktu. Aku disini, harap-harap cemas.

Aku yakini ini bukan suatu kesalahan bila Aku punya keinginan besar untuk menyayangimu dan menjadikanmu sebagai seorang kekasih. Karena Aku manusia maka Aku mempunyai hak untuk menyayangi manusia, dan itu kamu. Karena Aku manusia maka Aku juga layak untuk mendapat kasih dan sayang. Dan Aku ingin itu dari kamu. Aku ingin ada yang dapat mendampingiku dan memperdulikanku, melangkah bersama menuju ke kebahagiaan. Terkaanku mengatakan kalau kamu dapat mengantarkan Aku ke kebahagiaan itu. Itupun kalau kamu bersedia mengantarkanku.

Tenang saja, kamu tidak perlu takut, karena Aku menyimpan banyak perbekalan untuk perjalanan kita nanti. Aku memiliki cinta dan kasih sayang yang akan kita gunakan nanti setiap saat, karena cinta dan kasih sayangku dapat menjadi penghangat bila kamu kedinginan di terpa angin kesunyian, bisa mencairkan kebekuan hidupmu karena rutinitas keseharianmu. Aku mengantongi ribuan mawar putih yang akan selalu Aku taburi di setiap jalan yang akan kamu langkahi, mawar putih tanpa duri. Jutaan melati selalu siap tersedia menghiasi pembaringan untuk dapat membuat kamu semakin damai saat terlelap…

Kamu pasti akan menikmati setiap cinta dan kasih sayang yang Aku suguhkan. Cinta yang dapat membuat kamu terbang melayang di iringi peri-peri yang selalu siap dan melayani. Cinta yang dapat memperlakukan kamu dengan kelembutan dan keperdulian yang nyata. Cinta yang menunjukan eksistensinya di keseharianmu. Cinta yang dapat membuat kamu selalu tersenyum di alam nyata maupun di alam mimpi. Cinta yang keharumannya mendamaikan hatimu yang gelisah, mententramkan kegundahanmu, membunuh luka di hatimu, memerangi kerajaan sepi dan memusnahkannya dengan keceriaan dan juga mampu menina-bobokanmu dalam buaian asmara…

Adalah kamu yang mempesona yang membuat burung-burung berkicau ceracau lebih merdu dari pada biasanya, saat kamu terbangun dari tidur.
Bunga-bunga bermekaran lebih cepat dari biasanya, menyambut geliatmu di pagi hari.
Sekumpulan bidadari bergegas kembali ke khayangan dan bersembunyi di dalam kelambu, tidak berani menampakkan dirinya di dunia karena merasa malu kecantikannya tersaingi.
Matahari tidak berani menampakkan kuasa terangnya dan lebih memilih berada di balik gumpalan awan karena takut melukai tubuhmu dengan panasnya, baru setelah sore hari matahari akan terang-terangan memberikan kemilau pancaran keindahan senja yang merah keemas-emasan, sebagai tanda perpisahan dan harapan perjumpaan di hari esok.
Bulan menampilkan purnamanya dan mengajak bintang-bintang untuk bersinar terang serta kemilau seolah ingin menjagamu dari gelap yang mungkin akan mengganggu kamu dengan kesuraman dan kekelamannya.

Dan adalah kamu juga yang pada akhirnya kini membuat Aku mengerti akan arti keindahan sebuah kesempurnaan. Keindahan yang dapat di rasa dan di tangkap panca indra. Bahkan harummu di kejauhan mampu tercium oleh jiwaku. Entah karena jiwaku terlalu peka terhadap ransangan cinta yang mampu menangkap sinyal dari getaran auramu dan membuat jantungku berdebar, atau entah pendaran ketenangan jiwamu terlalu pekat memancar hingga Aku tidak kuasa untuk tidak menciumnya dan terus mengurungnya di dalam hatiku. Memainkannya dalam pikiranku.

Mungkin, Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi kalau kita berbicara tentang kemungkinan, ya, kemungkinan, bukankan selalu ada kemungkinan-kemungkinan tak terduga yang kita dapatkan? Dan Aku berharap ada kemungkinan baik yang selalu berpihak kepadaku.
Ah… sudahlah itu hanya lamunanku dengan sedikit pengharapan.
Selalu ada kejutan-kejutan dalam hidup ini, dan kita selalu tidak dapat menduganya, kecuali sedikit.

Sebenarnya Aku telah mengumpukan sajak-sajak indah mengenai cinta yang nantinya akan setiap hari kamu terima. Sajakku sajak tentangmu dan kekagumanku kepadamu.
Serta nyanyian-nyanyian romantis tentang cinta diiringi seribu biola, seribu harpa, seribu piano, seribu cello, seribu saxophon, yang membuat ribuan orkestra.
Adapun dua ballerina menari beriringan dengan keanggunan yang tiada tara bak sepasang angsa yang menari berputar-putar di atas air yang tenang mengiringi alunan senandung cinta. Itu semua Aku hadiahkan kepadamu, dengan harapan kamu akan ceria dengannya.

Baiklah Aku akan mengakhiri tulisan ini. Tapi akhir dari kalimat ini bukan akhir dari segalanya. Bukankah sudah Aku bilang kepadamu, Aku masih memiliki stok sajak-sajak cinta yang akan membuat kamu terbuai.
Tapi apalah artinya kekuatan sebuah kata, bila tidak mewakili jiwa si penulis. Dan tidak ada arti bila kekuatan jiwa tidak dapat di jalankan bersama kenyataan di kehidupan ini.
Inilah ungkapan jiwaku tentang kamu dan keinginan-keinginanku.
Dan lagi-lagi, kepada kamulah Aku serahkan kembali tentang ini. Apakah kamu menganggap Aku sebagai seorang penggombal atau sejenisnya?
Apa Aku kurang kerjaan?
Itu kamu yang menentukan!
Aku, disini, menanti dan tersenyum…


Juni - Juli 2005
- Rengganis si Cantik diambil dari salah satu tokoh gadis manis dan lugu dari Novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan (KPG, 2004).

1 comments:

Surat Cinta 2

1
June 15, 2005
Hari pertama jantungku berdebar-debar
Saat kamu datang menayapaku
Yang semestinya aku harus berlaku biasa tetapi mengapa aku menjadi berlaku tidak biasa?
Aku harus bagaimana? Dan apa mauku?
Huh, aku jadi tidak mengerti!
capek jantungku berdetak terus memompa kegalauan
Jenuh aku memiliki hati yang lemah terhadap cinta.
Haruskah aku menyalahkan kamu yang telah bersedia untuk aku kenal?
Atau aku harus mencaci maki diriku sendiri atas kebodohanku yang begitu mudah jatuh hati kepadamu?

Cinta, mengapa aku begitu murahan terhadapmu.
Mengumbar dengan mudah perasaan ini dan dengan begitu cepat.
Cinta, mengapa setiap saat aku harus memikirkan cinta?
Padahal masih banyak yang harus aku prioritaskan seperti: keluarga, pekerjaan, masa depan...
Cinta, sungguh benar-benar bodoh hati ini,
yang terlalu bahkan amat terlalu nanar meratapimu
Tolonglah lepas dariku barang satu hari atau dua minggu, biarkan aku memikirkan hal lain agar aku tidak selalu terbuai oleh keindahanmu... cinta...

Aku bersalah, maafkan aku diriku, yang tidak bisa mengontrol rasa cintaku padanya –wanita yang pada hari ini membuat jantungku berdebar-debar tidak biasa.


Malam – dini hari, 14-15 Juli 2005

1 comments:

R A T A P A N

0
May 15, 2005
Masa-masa itu sudah lewat dan berlalu, dan tidak akan mungkin menjadi abadi
– kecuali dalam mimpi.
Secara perlahan angan-angan itu memang harus menghilang dalam kehidupan ini.
Menghilang untuk selama-lamanya. Tegasku berkata: Khayalan ini terlalu menyesakkan untuk direalisasikan di alam nyata. Jadi, biarkan semua ini...

Sudah menjadi fitrah manusia dalam menjalani kehidupan ini, dimana kebahagiaan dan kehancuran punya peranannya dan saat-saat yang selalu dilalui olehnya.
Kita berada di dalam bumi manusia, berarti kita harus selalu siap untuk di singgahi, baik dalam tempo yang sangat singkat atau menetap dan menjadi bagian dalam nadi dan darah kita.

Kebahagiaan seorang manusia dilambangkan dengan cinta dan kasih sayang beserta prilaku-prilaku manisnya.
Selagi cinta itu tumbuh dan merekah, sudah tentu pasti senyuman akan selalu terkembang bersama waktu yang dilalui.
Ada kedamaian dan langkah ceria dalam hari-hari yang di imajinasikan dengan penuh warna-warna, mulai dari kuning ceria, merah bergelora, biru kesenangan dan sebagainya...
Saat semuanya berbalik dan melawan arah, kehancuran pun menggantikan segalanya, menutupi dengan hitamnya.
Menguburkan angan-angan di dalam tanah penderitaan yang selalu siap mendekapnya dengan pedih dan dengan nestapa.

Memang kehancuran selalu siap mengahantam semua mahluk pecinta, karena pada hakekatnya hitam selalu mendampingi putih.
Sampai kapanpun.
Tanpa kecuali.

Ada saatnya kebahagiaan dan kehancuran datang secara terpisah dan ada kalanya datang secara bersamaan.
Secara tiba-tiba atau secara perlahan-lahan, suka dan duka datang silih berganti, tawa dan airmata kadang hanya menjadi pelipur lara sementara.
Dan memang sementara, tidak lebih.

Kalau kita bisa menelaah dan menyikapi setiap kejadian-kejadian yang telah kita rasakan, mungkin kita akan menyetujui bahwa benar adanya kalau kita selalu tidak dapat menolak terhadap apa yang akan dan bahkan telah terjadi pada kita.
Bersembunyi pun tidak.
Yang pasti sering kita lakukan adalah berusaha menerimanya.
Terserah, dengan senyuman atau dengan darah didada.
Demi pengharapan sebuah kasih sayang atau demi kasih sayang itu sendiri.

Banyak yang menjadi terlena mengharap bintang dapat menyinari kekelamannya, padahal langit tengah hujan deras mendayu ratapan.


Dengan Luka, Tengah Mei 2005

0 comments:

ADAKAH CINTA UNTUKKU?

0
May 05, 2005
malam ini, bulan penuh bersinar dengan seri
Aku menatap beku dalam dingin
menerka senyuman dengan kekosongan
haruskah ada teka-teki dalam tanya yang tak terjawab?

Memang tak terlihat angin menderu
Tak tersentuh sinar benderang
Tapi, masih ada alpa untuk satu cinta
Yang tetap harus Aku sibak sampai renta

Dan tak akan berhenti bertanya
Padamu, adakah cinta untukku?


2005

0 comments:

Sekedar Sajak

0
April 29, 2005
Sajak untukmu masih tersimpan di dalam fikiranku
Dan aku masih belum berani menggoreskannya
di secarik kertas ini
Karena sajak untukmu sungguh berat untuk aku uraikan
Pernah aku mencoba memberanikan diri untuk memulai,
Tetapi tangan ini langsung bergetar
seakan-akan memberi peringatan kepadaku
agar tidak melakukannya
Menulis sajak untukmu ternyata bukan saja membutuhkan keberanian
tetapi juga membutuhkan kekuatan mental yang sangat tinggi
Karena sajak untukmu bisa membuatku gemetar bergeretak
Juga dibutuhkan ketegaran hati yang dalam
karena sajak untukmu
dapat mencucurkan airmata ini lalu menjadi kering
dalam seketika
Serta sajak untukmu memerkukan hati yang sangat bersih
Yang tidak dikotori dengan noda-noda kemunafikan, keangkuhan, pengkhianatan, hawa nafsu, kebiadaban
dan luka…
Sajak untukmu harus dilandasi dengan jiwa yang suci,
kejernihan fikiran, kesabaran, keperdulian, kejujuran,
dan juga dengan senyuman
Karena sajak untukmu sajak tentang rasa sayangku kepadamu

Sajakku sajak tentang cintaku kepadamu…


Akhir April 2005

0 comments:

Aku Tidak Mengerti,

0
March 20, 2005
Pada suatu pagi
Pada saat matahari meneteskan kemilaunya
Di suatu tempat
Dimana rumput-rumput mengahampar hijau
Mutiara-mutiara embun masih tersisa
Di setiap celah di setiap ujung tubuh langsingnya

Aku duduk di bangku taman memandang angin yang berhembus
Menampar tubuhku memasuki kalbuku dan Aku membatu
Melamun tentang bahagia dan cinta
Seperti sepasang merpati putih yang memadu kasih
di bawah lampu taman
Bercanda suka ria berpelukan ciuman
Berkejar-kejaran lalu terbang rendah di antara bunga-bunga
Dan terbang tinggi menuju pohon angsana
Menelusup dan mengumpat di antara ranting
Apakah burung memiliki cinta layaknya manusia?
Aku tidak mengerti,

Ada daun-daun kering kerontang berserakan
Melayang pergi entah kemana, di hembus angin
Mengingatkanku akan hati seorang wanita
Yang hinggap untuk sesaat lalu menghilang dalam kegelapan
Apakah wanita di ciptakan dari kegelapan?
Aku tidak mengerti,


Maret 2005

0 comments:

D O S A

0
March 19, 2005
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih
lagi maha penyayang

Aku ingin membuat pengakuan!
Banyak dosa-dosa yang menghampiriku dan langsung mencumbuku,
Dengan lembut Aku menyambut dosa-dosa itu,
Lalu Aku dekap erat.
Dosa-dosa itu selalu memanjakanku dan melayaniku utuh
Mulai mata ini terbuka dari tidurku, Aku langsung di sambut dosa
Sarapan pagi selalu dengan dosa,
Bekerja dengan dosa,
Makan siang dengan dosa,
Bercanda dengan dosa,
Bertamasya dengan dosa,
Bersenggama dengan dosa,
Hingga tidur dan bermimpi dengan penuh dosa.
Tiada hari yang kulewatkan tapa kawanan dosa-dosa
Aku beristri dan beranak pinak dengan dosa-dosa
Membuat keluarga bahagia dan sejahtera
Istriku, Aku ikutkan perkumpulan istri-istri pendosa
Anak-anakku, ku sekolahkan di sekolah pendosa favorit
Dan, Aku sendiri anggota komunitas seniman pendosa
Hidupku seluruhnya Aku abdikan bersama dosa-dosa
Hingga Aku mati dengan dosa terindah.
Itulah kesaksian dan pengakuanku!

Adakah syurga untukku, ya Rabbi?

19 Maret 2005

0 comments:

Surat cinta 1

0
March 15, 2005
Bias sinar matamu memang memiliki ketenangan sendiri,
dan aku belum bisa mengetahui sepenuhnya
karena disana masih menyimpan berbagai tanda tanya yang sangat sulit untuk aku terka.
Maaf, aku tahu ini begitu singkat dan terkesan mengada-ada,
tapi mata besarmu menantangku untuk menjelajahi hatimu.
Aku tahu, dengan segala kerendahan hati ini,
aku sangat tidak tahu diri hingga aku menaruh hati kepadamu.
Dan (maaf dengan segala ketidaksopananku) aku ingin memilikimu.
Kamu boleh mencerca kelancanganku ini...
Tapi bila kamu memiliki rasa dan keinginan yang sama dengan yang aku ingini,
mengapa tidak bila kita melebur menjadi satu kesatuan?

Bila kamu mau,
aku ingin mendampingimu melihat senja yang memerah memeluk tubuh cakrawala
di tepian pantai yang rindang berpohon kelapa dengan nyanyian-nyanyian camar
yang bercinta diantara pelepah.

Aku juga akan membalut luka-luka masa lalumu dengan segenggam kelembutanku
atau apabila masih kurang
aku akan beri berbukit-bukit kasih sayangku hanya kepadamu.
mmm... mungkin aku memang pandai menggombal,
dan kamu boleh GR,
tapi jujur... aku suka kamu.
Maaf.


Tengah maret 2005

0 comments:

Aku Tak Tahu,

0
March 03, 2005
Aku tahu Aku akan mati dalam waktu dekat
Pahala masih jauh tercapai dan dosa semakin membukit
Sementara Aku masih menopang kaku dan berleha-leha
Memuliakan dunia menepikkan Akhirat

Aku akan mati dalam waktu dekat
Wangi Neraka terasa menyengat jiwa
Taman Syurga menjauh dari pandangan mata
Aku belum tahu mau kemana…


Maret 2005

0 comments:

Mati Rasa

0
February 14, 2005
Apa benar dia menyayangiku? Atau dia hanya iba kepadaku?
Entahlah.
Segalanya terlihat samar-samar. Tidak jelas. Walau dia sering menyebut kata sayang, tapi tidak Aku merasakan rasa sayangnya untuk tubuhku ini, atau saat dia ada di sampingku, tidak ada getaran-getaran yang menandakan dia menyayangiku.
Aneh. Apa Aku mati rasa?
Atau Aku tidak mengetahui rasa sayang seperti apa rasanya?
Banyak orang bilang rasa sayang itu akan di ungkapkan dengan perhatiannya, kepeduliannya, kebaikannya,
Kesetiaannya (?), sentuhannya (mm..)
Dia pernah melakukan itu semua.
Nihil. Semuanya kosong.
Aku tetap tidak dapat merasakannya. Aku sudah mencoba dengan berbagai cara agar Aku dapat bisa menikmati rasa sayang yang dia miliki. Mulai dari menyayanginya dengan sepenuh hati,
Memberikan semua yang dia inginkan,
Menjaganya serta membuatnya agar dapat selalu tersenyum.
Agar dia merasa nyaman bersamaku, dan dia pasti secara alami pun akan memberikan sayangnya untukku.
Dan sampai saat ini, Aku ingin terus berusaha untuk mempercayai dirinya kalau dia memang menyayangiku. Aku terus berusaha beranggapan kalau Aku merasakan kasih sayangnya. Sampai akhirnya Aku membiasakan diri seolah-olah Aku sudah dapat merasakan rasa sayang tersebut.
Memang terasa enak, setidak-tidaknya Aku dapat mengurangi kegelisahanku, kegamanganku. Tapi hanya sesaat. Selebihnya kesia-siaan. Aku membodohi diri dengan membohongi nuraniku. Aku telah membuat sandiwara untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa bertahan dengan berpura-pura merasakan dia menyayangiku. Aku tidak bisa terus-menerus bersandiwara.
Sungguh, bukannya Aku berpura-pura tidak mengerti. Tapi Aku memang tidak bisa memahami tentang diriku, bagaimana ini bisa terjadi. Padahal Aku memang benar-benar ingin bisa merasakan, seperti dia merasakan sayang yang Aku berikan untuknya. Seperti mereka semua yang bisa saling sayang-menyayangi, tapi bagaimana caranya?
Harus dengan apa agar Aku dapat seperti mereka? Untuk sampai saat ini dia masih belum mengetahui tentang semua ini. Karena Aku tidak ingin dia terluka. Toh, tugasku memang hanya membuat dia merasa bahagia. Tapi, sampai kapan? Hati kecilku selalu ingin berontak dari penyiksaan ini dan ingin lekas memberi tahu kegalaukanku selama ini. Hanya saja Aku masih belum mampu melakukannya. Atau lebih dari itu, Aku tidak bisa.
Selalu saja Aku menjadi lemah bila harus di hadapkan dengannya. Wanita yang selama ini Aku sayangi. Yang selama ini Aku harapkan dapat Aku merasakan kasih sayangnya. Begitu banyak pengorbanannya selama ini. Tapi masih saja Aku merasa belum cukup dia menyayangiku. Sebegitu jahatnyakah Aku ini? Setega itukah? Jujur saja, Aku tidak ingin menyandang predikat seperi itu.
Bukankah Aku sudah bilang Aku sudah berusaha!
Tapi tetap saja tidak menghasilkan apa-apa.
Hanya keremangan, sesuatu yang sangat sulit untuk di terka. Yang selalu saja menimbulkan tanda tanya. Dan berbagai prasangka buruk. Baik yang menyangkut diriku atapun tentang dirinya. Apakah dia menyayangiku dengan tidak sepenuh hati, hingga membuat Aku tidak merasakan ketulusan kasih sayangnya. Atau lebih parah dari itu, hanya dengan rasa iba, ya, dengan dasar rasa kasihan dia mencoba menghiburku dan membahagiakan Aku dengan seolah-olah dia sangat menyayangiku? Oh… betapa kasihannya Aku bila memang itu yang terjadi. Dan seandainya memang demikian, untuk apa dia kasihan kepadaku? Sedang Aku juga kasihan terhadap dia yang beberapa kali melakukan pengorbanan untukku. Aku dan dia berkasihan-kasihan ria. Ya, sebegitu jauh pemikiranku tantang dirinya sampai memikirkan yang tidak-tidak. Sejarah kehidupanku dalam masalah cinta, seingatku, Aku memang pernah memadu kasih dengan yang lain dan tentu saja ini terjadi jauh sebelum Aku bertemu dengan dia. Aku bisa merasakan bagaimana Aku disayangi. Tapi sekarang sungguh beda. Sangat jauh seperti yang Aku bayangkan. Berbeda dengan yang Aku harapkan. Entah mengapa! Dimana kini getaran-getaran itu, yang mampu membuai Aku? Apakah Aku benar-benar telah mati rasa? Aku tak tahu!
Satu contoh kecil:
“Hallo sayang, kamu ada dimana? Sudah makan belum?”
kalimat-kalimat yang seharusnya terasa indah dan sangat bermakna bagi yang mendengarnya. Kalimat-kalimat yang menunjukkan perhatian dan kasih sayang. Memang bagi manusia yang normal akan terasa berjuta makna, melambungkan perasaan ke taman aneka bunga semerbak.
Tapi tidak begitu denganku. Aku merasa biasa-biasa saja, dan merasa tidak ada yang “wah” dengan kalimat-kalimat tersebut. Sungguh, Aku tidak berbohong. Aku berkata yang sebenarnya. Malah Aku jenuh, Aku bosan dengan kalimat-kalimat pengulangan. Tidak kreatif. Ya… tidak Aku pungkiri Aku juga pernah beberapa kali bersikap serupa. Tapi bukan karena kewajiban, hanya sekedar formalitas atau mungkin kasarnya, basa-basi. Nah! Bagi yang normal selalu berkata “perhatian adalah salah satu dari sekian cara mencurahkan kasih sayang.” Terkhusus bagi para pecinta. Lalu Aku? Apakah Aku tidak normal? Apakah hanya karena Aku tidak dapat merasakan kasih sayang dan dalam hal ini adalah perhatian, Aku dapat dikatakan tidak normal? Aku normal! Aku sama seperti yang lainnya. Beraktifitas sama. Sama-sama manusia. Tidak etis dong kalau Aku di katakan tidak normal sedangkan Aku sadar. Yang sangat jadi permasalahan adalah hatiku. Aku tidak tahu ada apa dengan hatiku. Aku bingung. Aku menjadi aneh dengan keanehanku. Maaf ya, maafkan Aku. Mungkin Aku memang butuh waktu untuk memperbaiki kerusakan pada jaringan hatiku.


10-14 Februari 2005

0 comments:

to: 51+2

0
February 01, 2005
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku. Sudah banyak kisah yang kita ciptakan, tak terhitung dengan pasti waktu yang kita lalui dan sekarang menghasilkan kekosongan belaka.
Semakin aku mengenal kamu, semakin aku tidak mengetahui dan bahkan mencoba untuk sedikit memahami kamu.
Kamu selalu menciptakan kegamangan yang mebuatku merasa makin dan semakin terpojok. Terlebih saat kamu datang dengan membawa airmata dan aku tidak tahu harus berbuat apa!
Aku ingin sekali dapat terus melindungimu, menjagamu dari segala kemungkinan yang akan terjadi.
Menjemputmu di ujung jalan serta mengantarmu sampai di ujung gang rumahmu
Memberikan sebagian waktuku untuk dirimu agar kamu merasa nyaman...
Tapi mengapa kamu menghalangiku, seakan-akan kamu menolak dengan halus berbagai keinginanku dengan kamu.
Kamu memberikan aku minuman, tetapi kamu melarang aku untuk meminumnya [?])
kamu selalu bercerita tentang berbagai kesedihan, seakan kamu orang yang paling menderita. Kamu merasa tidak ada yang menyayangi kamu, lalu aku bagaimana? Kamu berfikir tidak ada yang memperhatikan kamu, lalu aku?
Kamu bercerita kepadaku seakan kamu tidak melihat keberadaanku,
kamu tidak menganggap aku ada!
Kamu hanya menganggap aku sebagai benda yang tidak bernyawa dan tidak memiliki hati!
Kamu wanita yang sangat aneh!!!
Sungguh jika waktu bisa diulang, alangkah indah dan damainya kehidupanku tanpa mengenal kamu, aku menyesal...

Ada saat-saat dimana aku merasa sangat dihargai dan juga dihormati oleh kamu. Kamu belai kesedihanku dengan hangat kecupanmu,
mengajak aku bertamasya ke taman puspita. Aku bahagia...

Tapi, saat kamu bermain-main dengan kesenanganmu atau kesedihanmu yang sangat tidak membuat aku merasakan senang atau sedih atau memiliki simpati.
Kamu terus melakukannya dan tidak memperdulikan reaksi terhadap cerita-cerita yang kamu suguhkan, kamu berusaha mengubur kecemburuanku dengan bebatuan-bebatuan asmara kita.
Terlalu banyak luka yang aku terima dari ceritamu.
Akh...


Februari 2005

0 comments:

MATAHARI TIDAK PERNAH MERATAP

0
January 30, 2005
Matahari benderang
Awan tersingkirkan angin
Angin… angin… angin…
Menghempas keteduhan

Terik membuat dahaga
Mengeringkan kerongkongan
Menjadikan penderitaan
Meratap… meratap… meratap…

Wajah-wajah sendu di hembus angin
Muka muka nestapa di biarkan meratap

Panas serta mendampingi
Menyebar aroma menyiksa
Membelai alam dengan sayang
Memeluk buaian asmara

Matahari gentar meratap
Awan di hembus angin dengan mantap
Membiarkan cerita berlalu
Tanpa kebahagiaan di akhir episode


Akhir Januari 2005

0 comments:

Dunia yang Aneh

0
January 30, 2005
Banyak nurani yang telah menjadi mayat
Bergelimpangan disetiap sudut
Rasiaonalitas yang di kubur hidup-hidup
Serta menghilangnya rasa kemanusiaan
Telah membuat dunia ini menjadi tersedu
Merintih pedih bak menyayat-nyayat
Hingga tak tersisa lagi rasa belas kasihan
Yang seharusnya tetap terjaga

Kemana sang keadilan kini berada?
Aku sesak dengan semua ini!!!

Begitu banyak air mata bergelimpangan
Atas dasar keserakahan perseorangan
Kebusukan menjadi mulia
Seolah-olah nista adalah suatu kewajiban
Yang menuntut setiap orang berdusta
Dan menginjak-injak kehormatannya sendiri

Ooh... Aku tak kuasa menyaksikan semua ini
Tapi Aku tidak dapat berbuat apa-apa
Bahkan sikap diamku pun membuatku merasa berdosa
Lalu, untuk apa hidupku ini?!


30 Januari 2005

0 comments:

Kekasihku, Aku...

0
January 18, 2005
“Aku kedinginan kekasihku
hangatkanlah Aku dengan auramu
biarkan Aku mendekam di antara buah dadamu
agar dapat mencari kebekuanku

jangan lepaskan Aku, kekasihku
peluk Aku hingga ku terlelap dalam mimpiku
belai Aku, kekasihku
berikan semua gelora yang kau punya untukku
Aku butuh kamu, kekasihku...”

“genggam jemariku, kekasihku
belai rambutku, kekasihku
kecuplah bibirku, kekasihku
bisikkan Aku kata cinta, kekasihku
jaga Aku dengan segala kasih sayangmu
lingdungi Aku dari dinginnya kehidupanku, kekasihku

jangan.. jangan biarkan Aku sendirian, kekasihku
tetaplah disampingku kekasihku, hanya untukku
kekasihku, Aku...”


At Night, 18 Januari 2005

0 comments:

Gadis dan Gerimis

0
January 17, 2005
1
Saat Aku memandangi kamu di pagi yang gerimis
Kamu duduk memandangi kaca berbintik-bintik air
Terpaku diam di dalam bus yang terjebak kemacetan
Pikirku, “Apa yang sedang kamu renungi?”
Aku berkhayal menebak-nebak,
Apakah kamu seorang gadis yang sedang patah hati
karena sebuah pengkhianatan oleh kekasihmu semalam?
Atau kamu seorang gadis dengan latar belakang keluarga broken home dan pagi itu orang tuamu resmi bercerai?
Atau kamu seorang gadis yang resmi menjadi pengangguran karena di perusahaan tempatmu bekerja terjadi pengurangan karyawan dan kamu salah satunya?
Akh… terlalu banyak hal di dunia ini yang dapat membuat seorang gadis sepertimu menjadi menderita
Banyak kemungkinan dapat terjadi tanpa mengenal ruang.
Saat Aku memandangimu dari balik kaca yang berbintik-bintik air Aku melihat ada kehampaan di matamu
Ada kekosongan yang terpancar dari pandanganmu
Entah mengapa Aku jadi begitu perduli terhadapmu
Padahal Aku tidak mengenal kamu. Dan kamu pun tidak mengenal Aku. Tapi Aku menjadi perduli
Seolah-olah Aku dan kamu memiliki sesuatu ikatan kuat
Hah! Sungguh aneh…

2
Pagi itu Aku berjalan menelusuri pinggiran kota
dengan iring-iringan gerimis yang membekukan darah
Saat Aku berjalan, tiba-tiba pandanganku seperti ada yang mengarahkan dan mataku langsung tertuju kepada kamu
Yang seketika itu juga Aku menjadi begitu perduli
Melihat kamu yang terpaku kosong menatap hampa jendela kaca yang berbintik-bintik air
Ada misteri di balik tatapanmu itu bagiku
ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal
dan masih belum bisa terjawab di hatiku:
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah ada sesuatu yang melukai perasaanmu? Apa yang menyebabkan kamu menjadi seperti itu? Apakah…”
Semestinya saat itu terjadi Aku menghampirimu,
menaiki bus yang kamu tumpangi,
duduk di sampingmu, mengawali perkenalan dengan senyuman, bertegur sapa, menanyakan perihal tentang dirimu, dan mencoba mendalamimu…
Tapi Aku tidak memiliki keberanian dan Aku hanya mampu memandangimu dari kejauhan
“Mengapa saat itu Aku tidak menghampirinya jika
ternyata sekarang meninggalkan penyesalan?”
Aku selalu membodohi diriku sendiri
Sejak pagi yang gerimis itu
Aku tidak pernah bertemu dengan kamu lagi
Tapi wajahmu yang murung itu masih tampak dengan jelas saat Aku menenangimu

3
Pagi yang gerimis itu kini masih mengenangiku kepadamu
Pada saat gerimis turun dari langit yang kelabu
Dengan membawa hembusan angin yang menggigilkan
Aku pasti teringat kamu…

4
Apa kabarmu kini?


17 Januari 2005

0 comments:

Kota Tua dan kenangan

0
January 15, 2005



















Men, hari ini gue ke Kota lagi. Beli parfum sekalian refreshing. Ternyata disana enggak ada yang jauh berbeda dan ternyata Kota selalu memberi ruang buat gue, men. Di sana gue selalu menemui kedamaian. Memang tadi gue gak sempet menelusuri Kota Toea.
Sebenarnya hasrat gue besar ingin kesana, tapi waktu yang menghalangi gue, men.
Gue jadi inget waktu gue, loe, dan pasukan loe, rame-rame ngelamar kerja di Hotel Classic. Terus kita rekreasi ke Kota Toea sama ke Museum. Gue udah enggak mau bertanya sama diri gue lagi kenapa disana selalu memberikan kebahagiaan buat gue.
Gue mengakui memang Kota adalah syurga gue. Gue enggak begitu peduli sama orang-orangnya, yang gue perdulikan itu suasananya, lingkungannya: gedung-gedung tua yang sungguh artistik, jalanan yang bersih dan tersusun rapi, taman-taman dengan pohon-pohon besar yang rindang, stasiun yang kubahnya amat megah...
Semua yang terasji disana seakan selalu menyambut hangat memberikan pelayanan yang terbaik buat gue.
Sayang men, komunikasi kita terputus lagi. Padahal gue pengen banget ngajak loe kesana lagi.
Mungkin nanti...

16 Januari 2005

0 comments:

Sajak Buat Pelacurku

0
January 15, 2005
Malam ini Aku teringat kamu
Entah mengapa setiap Aku mengingat kamu
Hanya satu tertuju: ranjang!
Dan segala aktifitasnya
Tak terhitung berapa malam kita geluti
Kita menggeluti malam dengan saling bergelut
Saling menyerang saling telanjang
Dengan betinamu Aku terpuaskan
Kau lemaskan Aku dengan hasrat kelabumu

Entah cinta atau nafsu
Yang saat itu tercipta di atas birahi
Karena yang ku rasakan hanya kenikmatan
Dan yang ku dengar malam itu bukan bisikan cinta
Tetapi erangan…

Kamu buru nafasku dengan nafasmu
Tak kamu biarkan waktu menghitam
Kamu memang wanita luar biasa
Yang membuat Aku tak berdaya
Di setiap ranjang yang beda
Serta kamar yang berbeda
Dan tidak pernah lupa,
kamu keluarkan gaya yang berbeda beda
Dengan tujuan yang selalu sama:
Mencapai puncak orgasme bersama
Kamu berikan kamu serahkan
Seluruh tubuhmu untuk ku cumbui
Tanpa kekecewaan dan tanpa penyesalan
Kita merajut dosa…

Hai pelacurku…
Kau habiskan malam-malamku
Hanya untuk birahimu
Kau tuntun Aku ke syurgamu
Bercengkrama dengan ludah
Kau suguhi Aku susu murni kaya rasa
Dan kamu mengajari Aku bercinta
Dan menciptakan noda di selimutmu


Lima belas januari dua ribu lima
Nol nol dua puluh tujuh

0 comments: